Yaman : Bumi Keberkahan Yang Hampir Hilang

54

Yaman. Sebuah negeri di Jazirah Arab yang penuh dengan milyaran kisah. Wilayah dengan luas sekitar 530.0000 km2 ini memiliki populasi penduduk sekitar 23 juta jiwa kini terancam musnah akibat genosida akbar yang dilakukan oleh koalisi negara teluk.

Memang, Yaman semenjak dulu bak permata berkilau yang menjadi penyejuk mata bagi siapapun yang memandangnya. Letak geografisnya yang strategis, kekayaan alam yang tertimbun hampir di tiap jengkal tanahnya, juga tanah yang subur, menjadikan Yaman menjadi sasaran empuk bagi berbagai elit kepentingan, bahkan negara- negara adikuasa selevel Romawi-Persia pada masa silam maupun Amerika Serikat saat ini.

Sebagai satu-satunya negara Republik di Jazirah Arab yang memegang peranan vital dalam hubungan antar negara Timur, apalagi Teluk Aden di bagian Barat Yaman menjadi pintu masuk Laut Merah yang menghubungkan antar negara-negara Afrika Utara dan negara-negara Timur Tengah, Yaman kembali dilirik.

Bila dahulu sebelum Islam menyentuh tanah Yaman, ia menjadi salah satu tempat di semenanjung Arab untuk berkumpulnya kebudayaan penting, maka setelah Islam datang ia pun bermetamorfosa menjadi salah satu wilayah mulia dan penuh berkah. Maka wajarlah, nama Yaman pun disebut bermakna penuh kebaikan dan berkah. Hal ini terbukti ketika Muhammad Saw. diangkat menjadi seorang Nabi, Rasul sekaligus pemimpin ummat ini pun penduduk Yaman berbondong-bondong masuk Islam hingga Mu’adz bin Jabal ra., salah seorang Shahabat Nabi yang terkemuka diutus Beliau untuk menjadi juru dakwah di sana. Maka semenjak itulah Yaman menjadi  salah satu negeri utama penyokong dakwah Islam dan penjaga institusi kaum Muslimin.

Bahkan ketika utusan dari Yaman datang, Rasulullaah Saw. menyambutnya seraya berkata,”Telah datang kepada kalian penduduk Yaman dan mereka adalah orang-orang yang lembut hatinya. Hikmah adalah Yaman dan iman adalah Yaman.” (HR. Bukhari). Hingga tulisan ini ditulis pun Yaman masih menjadi primadona yang memikat para pembelajar yang haus akan ilmu dan dakwah.

Namun sayang, semua cerita indah tentang bumi yang berkah itu tak berlangsung lama. Di akhir masa ini, jantung Yaman dicabik-cabik oleh berbagai macam elit kepentingan yang lapar kekuasaan. Entah pihak Syi’ah Khouti vs Sunni, maupun koalisi berbagai negara Teluk (salah satunya Arab Saudi). Tapi yang jelas menjadi pihak oportunis adalah negara-negara kafir penjajah, diantaranya Amerika dan Inggris, yang saling berebut pengaruh di pusaran konflik ini. Maka tak ayal lagi, kondisi yang dikira akan semakin membaik dengan adanya ‘juru damai’ dari PBB ini justru menjadikan Yaman seolah kue kekuasaan yang siap dibagi-bagi kepada pihak-pihak tersebut. Korbannya bisa ditebak. Bukan hanya para wanita, anak-anak, rakyat sipil, ribuan bahkan jutaan nyawa melayang. Perang sipil beralih menjadi genosida yang membabi buta. Dentuman bom, rudal dan berondongan senjata menjadi ‘nyanyian kematian’ yang setiap saat dapat menyasar penduduk Yaman. Koalisi negara teluk yang diharapkan mampu meredam konflik pun tak ada tanda-tanda membalikkan arah angin menuju kemenangan kaum Muslimin. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Saudaraku, sejatinya konflik yang terjadi di Yaman tidak jauh berbeda dengan kondisi di Palestina, Afghanistan, Uzbekistan, Suriah, dan negeri-negeri lain yang serupa. Sama-sama bersimbah darah kaum Muslimin hingga akhirnya kehilangan kedaulatan, kehormatan dan tanah airnya pun dirampas. Darah suci mereka bukan hanya diteteskan oleh kaum kafir penjajah, namun juga oleh saudara sesama Muslim mereka sendiri. Sungguh, keadaan semacam ini persis seperti yang disabdakan oleh Rasulullaah Saw. bahwa kelak kaum Muslimin akan dikerubungi (untuk dihabisi) dari berbagai penjuru ibarat sebuah hidangan.

Konflik Syi’ah-Sunni tak lebih hanya menjadi cover untuk menutupi misi busuk yang terselubung di dalamnya. Seolah dengan dengan membombardir segalanya akan usai. Neo-Liberalisme dan Neo-Imperialisme yang menjadi turunan ideologi Sekulerisme-Kapitalisme justru tak terjamah. Ideologi ini pulalah yang memaksakan faham Nasionalisme yang menjadikan masing-masing negara menutup mata dari kondisi mereka  Ketiadaan Islam dalam bingkai Institusi Khilafah menjadikan semua konflik di bumi ini kian mengganas.

Sungguh, hanya Khilafah Islam yang mengikuti metode Kenabian sajalah yang akan mampu mengembalikan Bumi Keberkahan itu kembali ke pangkuan Islam dan ummatnya. Menjadikan ummat ini kembali memiliki junnah (perisai).

Bila kita masih menutup mata dan diam dengan keadaan saudara-saudara kita yang terdzalimi, dihina dan tak dimanusiakan, lalu bagaimana kita menjawab ketika Allah SWT meminta pertanggungjawaban kita?

Sudahkah kita mengambil peran mewujudkan kebangkitan bagi umat ini?

Oleh: Asma’ Zoeraida (Komunitas Muslimah Peduli Umat)

JASA EDIT VIDEO, VIDEO SHOOTING, VIDEO COMPANY PROFILE Telp. 0818 0490 4762

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here