Wujudkan Ketakwaan dengan Ramadhan

39

Oleh : Sumirah, M.Si.

Saat ini kaum muslim sudah memasuki bulan mulia yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Di bulan Ramadhan ini umat Islam berpuasa dan di bulan ini pula Al Quran diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Dan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan terdapat malam yang penuh dengan kemuliaan yaitu malam Lailatul Qadar yang ketika beribadah pada malam ini pahalanya sama dengan beribadah seribu bulan.

Bulan Ramadhan pun menjadi bulan perjuangan bagi umat Islam. Contohnya, Rasulullah pada bulan Ramadhan tahun 2 H melakukan perang Badar menghadapi kaum musyrik Qurais dan justru kemenanganlah yang didapatkan oleh kaum Muslim. Fathul Makkah (Pembebasan kota Makkah) pun terjadi di bulan Ramadhan tahuin 8 H. Perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H. Perang membebaskan Palestina dengan panglima perang Salahuddin al Ayyubi juga terjadi di bulan Ramadhan tahun 548 H. Peran Ain Jalut pada bulan Ramadhan tahun 658 H menghadapi pasukan tartar serta beberapa perang yang lain pun banyak terjadi di bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pun juga terjadi pada bulan Ramadhan.

Sejatinya bulan Ramadhan bukan untuk berleha-leha dan bermalas-malasan karena sudah Lelah berpuasa tetapi seharusnya justru umat Islam memanfaatkan momen tersebut untuk berlomba-lomba mendekatkan diri pada Allah dan untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Takwa artinya menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

 يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Dengan berpuasa Ramadhan, umat Islam akan terjaga dari perbuatan maksiat dan meningkat ketakwaannya, karena orang yang berpuasa akan senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang sia-sia dan maksiat karena hal tersebut bisa membatalkan puasanya. Selain berpuasa, umat Islam juga menjalankan shalat tarawih, tadarus (membaca al Quran), bersedekah dsb yang bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah dan meraih ampunan-Nya. Maka puasa sejatinya menjadi perisai bagi diri pribadi muslim yang berpuasa agar senantiasa terjaga ketaatannya dan terjaga dari kedurhakaan.

Seharusnya bulan Ramadhan tidak hanya untuk mewujudkan kesalehan dan ketakwaan individu tetapi juga kesalehan dan ketakwaan umat. Lihatlah sekarang apakah kesalehan individu bisa terlaksana dengan sempurna jika keluar rumah masih banyak muslimah yang belum menutup auratnya, masih banyak transaksi riba dsb. Lihatlah sekarang kondisi pemilu 2019, terdapat banyak dugaan kecurangan di situng KPU, lebih dari 550 petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia selama pemilu. Korban ini lebih besar daripada korban meninggal karena wabah DBD.

Ramadhan seharusnya bisa menjadi kesalehan umat jika seluruh aturan Islam bisa terterapkan. Contohnya seorang muslim bisa terjaga pandangannya jika negara mewajibkan menutup aurat bagi para muslimah. Kaum muslim bisa terhindar dari riba jika negara melarang riba dan banyak contoh hukum-hukum Islam yang hanya bisa dilaksanakan dengan adanya peran negara dan peran seorang imam atau pemimpin yang mau untuk mewujudkannya. Jadi pada hakekatnya ketakwaan individu dan komunal atau ketakwaan umat adalah terwujudnya ketaatan pada seluruh aturan Islam baik terkait dengan individu, masyarakat maupun negara.

Jika 17 Agustus 1945 yang jatuh pada bulan Ramadhan menjadi momen kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, maka kita lihat nanti apakah di tanggal 17 Ramadhan 1440 H ini juga menjadi hari kemerdekaan bagi umat Islam dari penjajahan?  

Seorang imam atau pemimpin yang mau dan mampu untuk menerapkan dan menegakkan syariat Islan sesungguhnya dia juga disebut dengan junnah (perisai), sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Wallahu a’lam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.