Waspada Jebakan Persaingan G20 Indonesia

32

Oleh: Meitya Rahma

Perbincangan seputar G20 tak hanya seputar durasi pidato yang terlalu singkat oleh presiden Jokowi. Tapi juga tentang nasib Indonesia yang berada dalam jebakan ekonomi negara adidaya anggota G20. Dengan dalih perkembangan ekonomi, bentuk kerjasama yang ada justru tak membawa kebaikan pada negeri, Indonesia makin terpuruk.

Asal muasal G20 ini bermula dari krisis keuangan 1998 di kawasan Asia yang berdampak pada stabilitas makro ekonomi dunia. G7 sebagai organisasi negara maju pun gagal mencari solusi untuk meredam krisis ekonomi tersebut. Maka lahirlah G20 sebagai aksi lanjutan dari G7 untuk mencari solusi global permasalahan ekonomi. Sebagai forum ekonomi dunia G20 memiliki posisi strategis karena mewakili 65% penduduk dunia, 79% perdagangan global dan setidaknya 85% perekonomian dunia. G20 secara rutin mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Tahun 2019 ini KTT berlangsung di Osaka, Jepang.

Perkembangan ekonomi di Indonesia naik menjadi 5% kata Eko Listyanto, wakil direktur Institute Development Economics and Finance (Indef). Menurutnya secara umum meyakini Indonesia masih memiliki peluang untuk menunjukkan tajinya sebagai negara dengan ekonomi besar. Ini dapat terwujud jika pemerintah mulai berkaca pada keberhasilan negara lain kemudian mengadopsi kebijakan ekonomi yang tepat sasaran dengan memanfaatkan SDM dan SDA di Indonesia (cnnIndonesia. com).

Bagaimana mungkin Indonesia bisa menunjukkan tajinya pada negara lain, karena pada faktanya sekarang negara ini dalam cengkeraman negara asing. Perebutan pengaruh antara Cina dengan Amerika menunjukkan ketidakberdayaan Indonesia terhadap intervensi mereka. Kekayaan alam, aset negara pun sudah mereka kuasai. Maka akan sangat kecil peluang Indonesia dan juga negara-negara non ideologis lainnya memerangi persaingan dalam proyek liberalisasi pasar bebas. Bahkan ketika Indonesia mengadopsi kebijakan ekonomi  negara lain yang telah berhasil dalam pertumbuhan ekonominya tak akan bisa memerangi liberalisasi pasar bebas.

Pada hakikatnya  perjanjian-perjanjian dan konferensi-konferensi internasional ini sebagai alat politik negara-negara kapitalis untuk melegalisasi penjajahan mereka ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka membuat jebakan yang menjerat banyak negeri muslim menjadi kacung mereka, menjadi ketergantungan pada mereka. Sudah saatnya Indonesia dan negeri muslim lainnya berpegang teguh pada ideologi Islam sebagai modal utama untuk bangkit menjadi kuat dan mandiri serta punya bargaining position di hadapan bangsa lain. Hanya dengan penerapan  syariat Islam saja Indonesia terbebas dari jebakan penjajahan dengan dalih perjanjian-perjanjian maupun konferensi-konferensi. Syariat Islam akan menghapus segala perjanjian, konvensi, dan segala bentuk kerjasama yang batil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.