Waspada Bahaya Dusta

Oleh: Nunung Ummu Fajar, Aktivis Dakwah dan Pemerhati Ummat

Dusta atau Bohong adalah perbuatan yang tercela yang mentupi fakta sebenarnya, dan merupakan kebalikan dari sifat jujur / kejujuran. Dan setiap perbuatan pasti akan dipertanggungjawabkan / dihisab oleh Allah SWT kelak.

Sebagaimana firmanNya :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ( QS. Al Isra : 36 )

Begitupun perkataan atau lisan harus dijaga karena kedudukannya di akhirat kelak salah satunya tergantung dari lisannya, dan ingatlah bahwa apa yang keluar dari lisannya ada malaikat pendamping yang akan selalu mencatat. Dan kejujuran adalah sebagian dari menjaga lisan agar tetap lurus yang akan membawa pelakunya pada kebaikan dan surgaNya.

Karena kejujuran dan keimanan seseorang tidak bisa dipisahkan, kejujuran bukan hanya sekedar pesan moral semata dan bisa dibilang kejujuran menjadi bagian penting dalam agama. Rasulullah bersabda : “Sungguh kejujuran akan membimbing menuju kaebaikan dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sungguhseseorang akan berusaha untuk jujur sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur.” ( HR. Bukhari )

Sungguh kebohongan/ dusta pada saat ini dipertontonkan dengan terang-terangan, sehingga umat Muslim menganggap hal itu suatu hal yang lumrah dilakukan di kehidupan sekarang ini. Bahkan kebiasaan / budaya asing yang jelas-jelas menggunakan trik atau cara kebohongan di adopsi oleh masyarakat kita seperti april mop, prank, rekayasa, dll. Bahkan di jadikan sebagai ajang bisnis demi mencapai nilai materi. Padahal dalam Islam kejujuran adalah hal terpenting dalam berniaga atau berjual beli.

Berdusta juga dalah salah satu ciri orang munafik sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Tanda orang munafik ada tiga : jika bicara, dusta; jika berjanji, ingkar; jika di percaya, khianat.” ( HR. al- Bukhari )

Dalam kehidupan ini demi mencapai apa yang diinginkan tak jarang melakukan berbagai cara, dari berkata dusta, berbuat curang, bersaksi palsu, dll. Sehingga dampaknya dapat merugikan pihak lain. Dan  perbuatan yang menipu, memanipulasi serta memperdaya ini akan terasa berat ketika dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Nabi  saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyatnya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga bagi dirinya.” ( HR. Muttafaq ‘alaih )

Perbuatan ini termasuk dosa besar karena ada ancaman terhadap penguasa demikian, Nabi saw : ” Sungguh akan ada setelahku para pemimpin pendusta dan zalim. Siapa saja yang mendatangi mereka, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezaliman mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak akan minum dari telagaku.” ( HR Ahmad )

Penguasa adalah pemimpin yang memiliki kekuasaan untuk mengatur seluruh urusan rakyatnya. Penguasa adalah orang yang dipilih untuk memenuhi kemaslahatan umat, bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau satu golongan tertentu.  Bisa dibayangkan jika dia mencapai kekuasaan atau kepemimpinan  tersebut dengan pencitraan yang penuh tipuan.  Apa yang akan terjadi ?

Sungguh kebohongan demi pencitraan menjadi  kelumrahan  bagi para pemuja sistem Demokrasi.  Sebuah sistem yang menjadi buah dari Sekularis-Kapitalisme.  Karena bagi mereka apa saja akan halal selagi mendatangkan manfaat.  Tentu manfaat berupa elektabilitas dan dukungan publik, yang bisa mengantarkannya pada posisi yang dikejar siang dan malam, kursi kekuasaan.  Polesan yang penuh kebohongan akan selalu memghiasi perhelatan akbar lima tahunan di negri ini.  Selama masih ada yang percaya produk demokrasi, maka selama itu pula pemimpin bohong akan selalu hadir di kancah pertarungan demi singgasana tersebut.

Lantas apa yang hendak diharapkan dari seorang pemimpin yang (sudah biasa) bohong?   Yang akan terjadi justru adalah pengkhianatan atas amanah yang dia dapatkan dari  jalan penuh kedustaan tersebut.  Sayidina Umar Bin Khattab ra. pernah mengatakan,” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?”  Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”

Sejak kita merdeka sampai hari ini, sudahkah bisa merasakan kesejahteraan, hidup yang makmur tanpa kesengsaraan?  Bagimana tidak sengsara, jika kekayaan negara justru telah diserah- terimakan para penguasa khianat kepada para investor asing maupun aseng.

Bahkan untuk memberi sanksi kepada kapital yang melakukan perusakan lingkungan pun tak punya nyali.  Bohong besar kalau negara telah mengambil tindakan tegas atas para kapital besar yang “nakal”, sebagaimana klaim petahana pada debat  pilpres yang kedua Ahad lalu (17/2).

Klaim bahwa pemerintah telah bersikap tegas kepada 11 perusahaan yang disinyalir merusak lingkungan di Indonesia telah dibantah oleh LSM bidang lingkungan hidup, Greenpeace Indonesia.   Karena faktanya tak sepeser pun negara mendapat konpensasi atau denda dari kerusakan yang disebut-sebut besarnya  Rp 18,3 trilun. (bisnis.com, 18/2).  Belum lagi soal data-data lainnya yang tak jauh dari klaim tanpa bukti.

Masihkah mau menyerahkan amanah kekuasaan yang begitu berat kepada yang suka berbohong, dan senang mengklaim tanpa bukti?  Sungguh Islam telah mengharamkan memilih pemimpin yang seperti ini.  Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Setiap pengkhianat diberi panji pada hari kiamat yang diangkat sesuai kadar pengkhianatannya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianat yang lebih besar pengkhianatannya daripada pemimpin masyarakat (penguasa).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu ‘Awanah dan Abu Ya’la).

Sudah saatnya kita sebagai muslim yang berideologi dan berhukum terhadap Islam menjauhkan dari mengulang kesalahan yang sama, yaitu tertipu dengan pencitraan dan kebohongan yang kerap terjadi di musim kampanye. Memilih pemimpin haruslah dengan standar Islam.

Sebagaimana dicontohkan suri tuladan kita, Rasulullah Saw.  Juga yang dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin.  Hanya pemimpin yang bertakwa dan (benar-benar) takut kepada Allah yang akan menjauhkan diri dari berbohong dan  sifat khianat kepada rakyat.

Pemimpin seperti ini tak kan lahir dari sistem Sekuler Demokrasi.  Hanya denga tegaknya sistem Islam-lah bisa terwujud sosok yang demikian.  Hanya dengan menegakkan syariah dalam naungan khilafah lah mampu memunculkan suasana kondusif bagi lahirnya pemimpin terbaik. Niscaya kehadirannya akan menjadi berkah bagi seluruh alam. Insha Allah. Wallahu  a’lam bishshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.