Wacana Keadilan yang Dirindukan

36

Oleh: Shafayasmin Salsabila (Revowriter)

Manusia, hingga berakhirnya alam semesta, sejatinya memiliki perasaan yang sama akan keadilan. Tak satupun jiwa yang tak haus untuk diperlakukan tidak berat sebelah.

Namun sayangnya, di era kezaliman saat ini, adil menjadi satu mimpi. Seakan sulit diwujudkan dalam alam nyata. Mata tak mampu berdusta, betapa menganganya semakin lebar, kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Pelayanan kesehatan dan pendidikan, manis pahitnya tergantung uang. Begitupun penegakan hukum yang pincang sebelah. Tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Tak cukup sampai di situ, yang paling merana adalah apa yang menimpa tubuh umat Muslim. Bukan hanya di negeri Khatulistuwa, tapi merata di seluruh dunia. Standar ganda diberlakukan. Islam dianak tirikan. Sentimen negatif memusnahkan apa yang dunia kenal sebagi keadilan.

Lihatlah kebrutalan yang terjadi di New Zealand, saat penyelenggaraan shalat Jumat, 15/3/2019. Puluhan peluru ditembakkan menyasar tubuh-tubuh tak berdosa. Atas nama Islamophobia pelaku membenarkan aksinya melahap nyawa umat Muslim. Akibat kekhawatiran tidak berdasar. Hanya karena masifnya imigran Muslim di negeri yang terkenal keamanannya tersebut.

Dan lagi-lagi dunia mempertontonkan ketidak adilan. Teror dahsyat senyap ditelan sikap bungkam para penguasa Barat. Tak kalah memalukannya, pemimpin negara-negara Muslim pun nampak serempak untuk memalingkan muka, tak ada pembelaan sedikitpun.

Kehormatan dan darah kaum Muslim seakan tiada harganya. Apa yang telah menimpa para orang tua dan anak-anak di Palestina, Suriah, Irak,

etnis Rohingya, warga Uighur, dan semua yang tengah tertindas hanya karena mereka adalah Muslim minoritas. Disakiti, direnggut harta dan nyawanya, menjadi fakta pilu sehari-hari. Tidakkah dunia kehilangan mata dan telinganya?  Maka jangan tanya sebesar dan seberat apakah kerinduan umat akan keadilan.

Nanar jika mengingat kembali jejak yang ditoreh masa lalu. Saat Islam masih dalam satu kepemimpinan. Jangankan pemusnahan masal, ataupun sampai tercerabut satu nyawa tak bersalah, hanya sekadar pencideraan terhadap aurat seorang Muslimah saja, satu pasukan besar menyemut dan memanjang, meluluhlantakan sikap amoral. Sejarah mencatatnya, Khalifah Mu’tasim Billah yang melegenda, menjawab satu teriakan dengan mengirim bala tentara dalam jumlah besar.

Maka tak terbayangkan, betapa umat merindukan kembalinya kepemimpinan Islam yang hadirkan keadilan bagi umat Muslim juga seluruh penduduk bumi.

Ingin menghirup kenyamanan tanpa dipilah mana anak pejabat mana anak pedagang kaki lima. Ingin diperlakukan sama saat sakit mendera, tanpa ditanya “umum” atau “jaminan”? Ingin mengenyam pendidikan hingga doktoral meski bukan anak dari figur terkenal. Ingin umat Islam dimanapun berada tidak lagi dipandang sebelah mata. Saat menjadi korban, pegiat HAM bungkam. Perbincangan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, karam. Tinggalah Umat sebagai pesakitan. Ditinggalkan tanpa pembelaan, sendirian dirundung ketidak adilan.

Mari menjawab kerinduan dengan segepok semangat untuk berjuang. Jangan biarkan keadilan hanya sebatas mimpi. Tugas kita adalah untuk mewujudkannya. Pelindung umat itu sebenarnya ada. Rasul Saw, jauh-jauh hari sudah mengabarkannya.

”Sesungguhnya al-Imâm (khalifah) itu adalah perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.”

(HR. Al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Mengembalikan perisai Umat tentu ada tata caranya. Sebagai orang beriman, Rasulullah Saw adalah sebaik-baik teladan. Maka tidak ada yang lebih tepat kecuali mengikuti jejak kaki kekasih Allah.

Rasul mengawal perubahan mendasar. Mendongkrak sistem rusak menggantinya dengan aturan Allah. Untuk bisa sampai pada keberhasilannya, Rasul terlebih dahulu, melakukan pembinaan terhadap para sahabat. Setelahnya Rasul bersama para sahabat masif menyebarkan ajaran islam sebagai solusi permasalahan kehidupan, sehingga terbentuk opini umum. Lalu sampailah pada tahapan terakhir, yakni tahap penerapan hukum Islam dalam sebuah Institusi resmi yang tegak berdiri. Pada saat itu umat telah memiliki perisainya.

Oleh karena itu, aktifitas dakwah pemikiran menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pembinaan umat lewat kajian-kajian Islam akan mendekatkan umat kepada ajaran Islam yang membangkitkan. Seiring sejalan, syiar Islam makin dinyaringkan. Menembus setiap sudut jalan dan perumahan. Ide Islam menjadi santapan lezat untuk didalami dan didiskusikan. Masyarakat sepakat dengan solusi Islam. Dan selanjutnya upaya meminta dukungan dari pemilik kekuasaan akan meniscayakan kembalinya perisai umat.

Saat itu, keagungan institusi Islam akan mengawal keadilan kembali hadir dalam dekapan. Tak ada miskin dan kaya, semua sama dihadapan hukum syara’. Umat Muslim kembali kepada fitrahnya. Harta dan jiwanya dijunjung setinggi gunung menjulang. Setitik darah tertumpah, genderang perang akan ditabuh. Tidaklah merebah satu nyawa manusia tanpa hak, kecuali pembelaan akan datang bersama komando lantang dari pemilik perisai, Sang Khalifah, pemimpin umat sedunia.

Sang Khalifah akan mengembalikan umat dalam posisi terbaiknya. Menegakkan kembali neraca keadilan. Rindu pun segera tertawarkan. Islam akan menang, sebagaimana yang telah Allah janjikan.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An Nur:55)

Wallahu a’lam bish-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.