Urgensi Memilih Pemimpin Ideal

Oleh: Susiyanti, S. E (Muslimah Media Konawe)

Tak terasa rakyat Indonesia akan mengadakan pesta rakyat atau yang biasa kita kenal dengan istilah pemilu. Dalam hal ini kita akan mengadakan pemilu lagi dibulan April guna memilih siapa yang akan menduduki jabatan sebagai presiden dan wakil presiden di tahun 2019-2024.

Dimana kita ketahui secara bersama ada dua calon yang mencalonkan dirinya  sebagai capres dan cawapres yaitu pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga. Untuk mengetahui  siapakah yang lebih unggul maka dilakukanlah polling Pilpres Tahun 2019 di media sosialnya, yaitu di Facebook dan Twitter.

Hasil dari poling itu nampak Pasangan Prabowo-Sandiaga unggul di polling Facebook dan pasangan Jokowi-Ma’rif Amin, unggul di polling Twitter (TRIBUN-MEDAN.com/ 19/ 8/ 2018).

Tidak hanya itu, baru-baru ini juga dilakukan debat diantara kedua capres tersebut untuk melihat siapa yang lebih unggul. Tapi malah membuat masyarakat kecewa, sebab yang mereka harapkan diluar dari yang mereka inginkan malah capres tersebut menjawab dengan menggunakan kisi-kisi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ilham “Ya sekali-kali kita menerima masukan dari masyarakat, bahwa memang mungkin karena diberikan kisi-kisi debat ini menjadi kurang seru,” (Liputan6.com/ 20/ 1/ 2019).

Lantas dari kedua capres itu siapa  yang layak  dipilih untuk menjalankan sesuai dengan aturan Allah? Sehingga, tidak akan membuat masyarakat kecewa, tidak percaya hingga memilih untuk golput.

Bukan hanya itu tapi ada alasan lain yang  terungkap, salah satunya adalah kredibilitas dan kualitas calon pemimpin yang masih diragukan, tidak hanya itu masyarakat juga sudah sering dikecewakan dengan  janji-janji palsu calon pemimpin pada saat kampanye.

 Untuk itu bagaimanakah sosok pemimpin yang layak kita pilih untuk kemudian kita perjuangkan bersama? Tentu saja sebagai seorang  muslim, maka setiap pilihan kita standarnya adalah hukum syarah yang sesuai dengan  Alquran dan Sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW sehingga patokan kita hidup di dunia ini semata hanya mencari keridhoan Allah SWT bukan yang lain.

Pentingnya Pemimpin dan tujuan pengangkatan

Memilih seorang pemimpin dan mengangkat sebagai pemimpin adalah kewajiban yang harus dilakukan. Sebab dengan dipilihnya seorang pemimpin maka akan mempunyai andil yang cukup penting dalam kehidupan umat. Untuk itu ketika kita memilih pemimpin maka standarnya adalah apakah pemimpin kita ini akan menjalankan aturan Allah Swt atau malah jauh darinya. Dimana aturan pencipta  dalam hal ini pembuat hukum tidak akan terealisasi secara keseluruhan kecuali dipimpin oleh seorang pemimpin yang akan menjalankan syariat Allah. Karena dalam Islam, kita tidak hanya diatur bagaimana berhubangan dengan pencipta yaitu: shalat, puasa, zakat, sedekah dan sebagainya yang bisa dilakukan secara individual.

Tidak hanya itu,  Islam juga mewajibkan kita untuk menjalankan perintah-perintah yang lain secara keseluruhan. Misalnya perintah untuk amar ma’ruf nahi munkar, penegakkan hudud, qishash dan lain sebagainya. Seluruh aturan itu tidak akan terlaksana sempurna kecuali dilakukan secara bersama-sama dan diatur oleh seorang pemimpin.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah juga menegaskan, “Harus diketahui, bahwa adanya kepemimpinan untuk mengurusi urusan orang merupakan kewajiban agama (Islam) yang paling besar. Bahkan, tanpanya, agama dan dunia ini tidak akan tegak.” (Ibn Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, 27/ 390).

Tentunya, kesimpulan hukum tersebut bukan tanpa dasar. Namun ada banyak ayat dan hadits yang mendasari munculnya pendapat tersebut. Misalnya ayat Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk taat kepada Ulil Amri. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…” (An-Nisa’: 59).

Syaikh Ad-Dumaiji berkata, “Perintah untuk menaati Ulil Amri ini adalah dalil wajibnya mengangkat Ulil Amri, sebab tak mungkin Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mentaati sesuatu yang tidak ada. Dengan kata lain, perintah mentaati Ulil Amri ini berarti perintah mengangkat Ulil Amri. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang Imam bagi umat Islam adalah wajib hukumnya. (Abdullah Umar Sulaiman Ad Dumaiji,  Al Imamah Al ‘Uzhma ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 47).

Karena besarnya nilai urgensitas seorang pemimpin, Rasulullah SAW selalu memerintahkan umatnya untuk senantiasa berada dalam sebuah kepemimpinan. Bahkan ketika safar sekalipun, jika jumlahnya lebih dari tiga orang, beliau menganjurkan untuk mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin. Sebagaimana beliau SAW bersabda:

“Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” (HR Abu Dawud)

Tingginya nilai kewajiban tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari besarnya amanah dan tujuan dari kepemimpinan itu sendiri. Dalam Islam, para ulama sepakat bahwa tujuan kepemimpinan secara umum ada dua, pertama: Hifdhuddiin (menjaga eksitensi agama), kedua: Siyasatuddunya Bihi (mengatur dunia dengan agama).

Imam Al-Kamal Bin Hammad Al-Hanafi berkata, “Tujuan pertama dalam penegakan kepemimpinan adalah untuk menegakkan agama. Maksudnya adalah menegakkan syi’ar-syi’ar agama sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, yaitu dengan memurnikan segala ketaatan kepada Allah, menghidupkan sunnah-sunnah, dan menghilangkan bid’ah agar seluruh manusia bisa sepenuhnya menaati Allah SWT.” (Al-Musamarah Syarh Al-Musayarah, hal. 153.

Kemudian bersamaan dengan itu juga, seorang pemimpin juga harus mengatur seluruh undang-undang sesuai dengan ketetapan hukum yang telah Allah SWT turunkan dalam Alquran serta diajarkan di  dalam sunnah Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Al-Maidah: 48).

Syarat Menjadi Seorang Pemimpin

Syarat menjadi seorang pemimpin dalam Islam yaitu: pertama yang mutlak harus dimiliki adalah Islam. Pemimpin tidak boleh dari selain Muslim, karena tidak mungkin seseorang bisa mewujudkan tujuan kepemimpinan kecuali ia beragama Islam. Jika seandainya seorang pemimpin murtad (keluar dari Islam) di tengah masa pemerintahannya, maka dia wajib diganti.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali [pemimpin] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?” (An-Nisa’: 144).

Berikutnya selain harus Muslim, para ulama juga menetapkkan syarat-syarat lain yang harus dimiliki oleh calon pemimpin. Dalam kitab Ahkamus Sulthaniyah, Imam Al-Mawardi menyebutkan, di antara syarat tersebut ialah: Baligh, berakal sehat, merdeka, laki-laki, memiliki ilmu dalam mengatur pemerintahan, Al-‘Adalah (tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil dan meninggalkan hal-hal yang mubah yang mengurangi harga diri), memiliki kapabiilitas mental, yaitu memiliki keberanian dalam menegakkan syariat Islam, serta tidak memiliki cacat fisik. (Al-Mawardi, Ahkamus Sulthaniyah, hal 5 dan Ad-Dumaiji, Imamah Udhma, 233/265).

Lebih dari pada itu, kita juga harus tahu tentang kredibilitasnya, kemampuan ilmunya, keberaniannya dalam menegakkan syariat, serta syarat-syarat lainnya.

Metode Pengangkatan Pemimpin

Metode tersebut adalah dengan bai’at. Kesimpulan ini didasarkan pada bai’at kaum Muslim kepada Rasulullah saw dan perintah beliau kepada kita untuk membaiat seorang khalifah. Baiat kaum Muslim kepada Rasulullah saw bukanlah baiat atas kenabian, tetapi baiat atas pemerintahan. Masalah baiat ini juga tercantum dalam Alquran dan As-Sunnah.

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka (QS al-Mumtahanah [60]: 12).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa dia pernah mendengarkan Rasulullah saw bersabda:

Siapa saja yang telah membai’at seorang imam, lalu ia memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaklah mentaatinya jika mampu. Apabila ada orang lain yang hendak merebutnya maka penggallah leher orang itu (HR Muslim dan Abu Daud).

Apa yang Harus Dilakukan?

Untuk mendapatkan kepemimpinan yang kita harapkan seperti di atas, bukan hal yang mudah, namun bila kita ingin mewujudkannya dalam jalur demokrasi yang digunakan dinegara kita ini, itu tidak akan mungkin terwujud. Sebab,  memiliki pondasi dasar  yang sangat berbeda jauh.  Dimana syarat kepemimpinan yang digunakan dalam demokrasi pun sangat bertolak belakang yang ada dalam Islam. Tidak hanya itu,  jika kita mengamati maka akan tampak produk pemimpin yang dihasilkan jauh dari apa yang harapkan, hal inilah yang membuat umat sangat kecewa sehingga mereka sudah tidak percaya dengan apa yang mereka janjikan lagi karena semua hanyalah janji palsu.

Sebab demokrasi tidak dapat dijadikan solusi yang tepat guna mencari pemimpin yang menjalankan aturan si pembuat hukum, seperti apa yang diharapkan tapi menghasilkan pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan kepentingan tuannya tanpa memperhatikan kepentingan masyarakatnya.

Untuk mendapatkan pemimpin ideal atau pemimpin yang sesuai dengan petunjuk Alquran dan as-Sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, maka kita tidak bisa berharap dalam  demokrasi karena dalam demokrasi pemimpin yang hasilkan bukan pemimipin yang sesuai dengan syariat Islam tapi pemimpin yang menipu rakyatnya. Untuk menghasilkan pemimpin seperti diatas maka kita tidak bisa tinggal diam tapi kita harus menyeruh kepada masyarakat bahwa perubahan akan terwujud bila umat bersatu untuk menerapkan kembali aturan Islam dalam bingkai sistem Islam. Sehingga pemimpin ideal yang kita harapkan bisa terwujud. Wallahu A’lam Bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.