Undang-Undang anti muslim, buah kebobrokan demokrasi di India

64

 oleh : Tri Cahya Arisnawati (Ibu rumah tangga, penulis dan pemerhati umat)

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Nasib umat muslim saat ini layaknya makanan yang berada di atas piring. Diam saja bila banyak orang yang mengerumuninya dan hendak menyantapnya. Tak bisa melawan dan tak bisa berbuat apa-apa, predikat khoiru ummah (umat terbaik) telah mereka tanggalkan seiring dengan runtuhnya junnah (perisai) mereka. Akibatnya kaum muslim tak punya lagi kewibawaan dan kehormatan yang melekat dalam dirinya sehingga menyebabkan musuh-musuh islam tak ada lagi rasa takut di hati mereka terhadap umat muslim, padahal umat muslim sangat banyak jumlahnya.

Belum kering luka baik fisik maupun di hati umat muslim tentang pembantaian di Palestina, Suriah, Myanmar (Rohingya), Uighur, Yaman, Irak dan negeri-negeri lainnya. Kini, luka kembali menyayat hati nurani yang belum kering tertutup. India memanas hingga terjadi kerusuhan yang menyebabkan korban tewas berjatuhan terus bertambah, sampai saat ini korban tewas berjumlah 42 orang. Tak hanya korban tewas, korban luka pun tak sedikit, mencapai ratusan orang.

Dan yang lebih mengiris-iris hati ini adalah orang-orang hindu di India  menjadikan masjid sebagai sasaran kemarahan mereka. Mereka merusak bahkan membakar masjid, kerusuhan dipicu setelah Partai yang berkuasa di India yaitu Partai Bharatiya Janata (BPJ) telah memperkenalkan Undang-Undang (UU) Anti-Muslim atau UU Amandemen Warga Negara atau “Citizenship Amendment Bill” (CAB) bagi imigran ilegal atau pengungsi selain muslim dan telah diloloskan oleh pemerintah India di bawah kekuasaan Perdana Menteri Narendra Modi. Diberitakan, kerusuhan pecah disaat Presiden Donald Trump melakukan kunjungan ke India. Di bawah UU ini, umat Muslim India juga akan wajib untuk membuktikan bahwa mereka memang adalah warga negara India. Sehingga ada kemungkinan warga Muslim India justru akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan.

Prediksi NIC dan India

Desember 2004 lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020:

Davod World: Digambarkan bahwa 15 tahun ke depan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

Pax Americana: Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya.

A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

Cycle of Fear (Munculnya lingkaran ketakutan). Di dalam skenario ini, respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku. Akibatnya, akan lahir Dunia ‘Orwellian’ ketika pada masa depan manusia menjadi budak  bagi satu dari tiga negara otoriter.

Mengenai prediksi NIC salah satunya adalah bahwa India akan menguasai perpolitikan dunia, hal itu tentu patut diperhitungkan. Bagaimana saat ini, India mulai menunjukkan taringnya pada umat muslim di negaranya. India sudah mulai menampakkan permusuhannya secara terang-terangan apalagi saat ini dengan nasib umat muslim telah berada dalam genggamannya melalui UU kewarganegaraan anti muslim. Kapan saja, India bisa saja berbuat sewenang-wenang bahkan sampai melakukan genosida seperti yang telah dilakukan para pendahulunya (Israel, Amerika, Myanmar, China, dll).

Akar permasalahan kerusuhan di India

Sesungguhnya Undang-Undang (UU) amandemen warga negara anti muslim yang telah diloloskan pemerintah India, hanyalah masalah yang tampak di permukaan saja. Namun bila dicermati lebih mendalam lagi, ada sesuatu yang lebih besar yang menyebabkan UU tersebut lahir.

Pasca keruntuhan Daulah Turki Utsmaniyyah, dunia tidak lagi dipimpin lagi oleh islam. Virus sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah berhasil mencabut islam dan merampas kekuasaan dari tangan Daulah islam dan kaum muslimin. Alhasil, kini dunia dipimpin oleh ideologi demokrasi yang lahir dari asas sekulerisme. Ideologi yang berasal dari kelemahan berpikir manusia ini telah berhasil menguasai negeri-negeri kaum muslimin dan memimpin dalam segala aspek kehidupan. Ideologi ini tidak akan pernah membolehkan agama mengatur kehidupan manusia, agama hanya berlaku di rumah-rumah ibadah saja. Agama hanya boleh mengatur manusia dalam ranah hubungan manusia dengan Tuhannya. Yang menyangkut kehidupan manusia seperti ekonomi, pendidikan, budaya dan politik agama tak boleh ikut campur untuk mengatur.

Dengan begitu, manusia bebas dalam mengatur kehidupannya dengan aturan yang dia buat. Halal dan haram bukanlah tolok ukur perbuatan mereka, namun standar perbuatan mereka adalah asas manfaat agar terjaminnya kemaslahatan mereka. Dalam pandangan ideologi mereka (orang-orang kafir) hidup adalah untuk mencari materi dan kemaslahatan sebanyak-banyaknya, walaupun itu merugikan dan menzalimi orang lain, namun mereka tak mempedulikan hal itu. Apapun yang mendatangkan manfaat akan terus mereka upayakan. Bagi orang-orang kafir terutama barat islam tidak membawa manfaat bagi mereka, justru malah menghambat mereka dalam mewujudkan kemaslahatan bagi mereka dan para sekutunya. Karena selama ini islam kerap bersuara lantang menentang kezaliman mereka. Jadi, untuk memuluskan kepentingan mereka agar tak ada rintangan yang menghadang, orang-orang kafir harus memusnahkan hambatan tersebut yaitu islam dan kaum muslimin dengan berbagai macam cara keji, salah satunya melalui UU amandemen warga negara anti muslim.

Khilafah solusi masalah India dan negeri-negeri muslim lainnya

Prediksi NIC terkait India akan menguasai perpolitikan, bukanlah hal yang ditakutkan oleh orang-orang kafir (barat). Namun ada satu hal yang membuat barat hingga membuat mereka tak tenang dan tak nyenyak tidur. Satu hal yang paling mereka yakini dan takutkan adalah kebangkitan islam melalui khilafah. Mereka menganggap kebangkitan khilafah bukanlah sesuatu yang utopis. Mereka takut apa yang telah mereka rampas dari kaum muslim suatu saat akan direbut kembali oleh pemiliknya. Jadi, untuk menyelamatkan hegemoni dan eksistensi mereka, mereka menyusun berbagai makar jahat dengan berusaha menyingkirkan islam dan para pemeluknya dengan fitnah-fitnah keji. Namun, usaha mereka tak pernah berhasil memadamkan cahaya islam. Mereka tidak mengetahui, kebangkitan islam melalui khilafah tidak hanya prediksi NIC tapi juga sebuah keniscayaan yang telah Allah janjikan pada hamba-hambaNya :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An nur : 55)

Allah berjanji akan kembali meneguhkan kedudukan kaum muslimin ketika islam diterapkan sebagaimana dahulu Rasulullah dan para sahabat. Tak ada lagi rasa takut menghinggapi hati kaum muslimin terhadap musuh-musuh islam, tak ada lagi yang berani merampas kekayaan alam apalagi sampai memerangi kaum muslimin. Mereka aman sentausa hidup di bawah naungan islam, dengan aturannya islam berlaku adil kepada siapapun. Islam adalah agama sekaligus ideologi, dengan aturannya yang universal akan menyatukan dan menaungi seluruh negeri-negeri muslim dalam satu kepemimpinan yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah yang akan bertindak sebagai junnah (perisai) untuk melindungi dari berbagai macam bahaya yang dapat mengancam keselamatan umatnya, dan umat merasa aman berlindung di baliknya.

Dan saat ini, dimana opini khilafah sudah semakin menggema seantero dunia sampai menyebabkan orang-orang kafir (barat) takut, dan perjuangan untuk menegakkannya semakin terlihat nyata. sudah dipastikan kedatangan khilafah tak akan lama lagi, disinilah peran para ulama dan para pengemban dakwah untuk semakin menggencarkan dakwah syariah dan khilafah, serta mempersiapkan dan memahamkan umat untuk ikut berpartisipasi memperjuangkan penegakkan khilafah. Dibutuhkan kelerasan pemikiran dan perasaan di tengah-tengah umat tentang islam dan aturannya bahwa islam adalah ideologi yang memiliki peraturan untuk memecahkan problematika manusia sehingga umat akan dengan mudah menerima islam dan memperjuangkannya. Jadi, umat yang telah memahami islam adalah ideologi tidak akan lagi mau memperjuangkan ideologi kufur buatan barat. Jadi dengan syariah dan khilafah in sya Allah tak ada lagi umat muslim yang dizalimi dan diperangi.

Wallahu ‘alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.