Umat Islam India Dibantai, Bukti Umat Butuh Perisai

28

Oleh: Yuni Damayanti

(Pemerhati Sosial Asal Kabupaten Konawe, Sultra)

Kabar duka kaum muslim kembali berseliweran di jagat medsos. Kali ini kaum muslim di India yang sedang mengalaminya. Korban tewas akibat bentrokan antara umat Muslim dan Hindu yang dipicu protes atas undang-undang kewarganegaraan di wilayah pinggiran new Delhi, India, dilaporkan bertambah menjadi 20 orang. Sedangkan  korban luka-luka dalam kejadian itu mencapai 189 orang, 60 diantaranya akibat tertembak aparat.

Bentrokan itu dipicu oleh unjuk rasa menentang undang-undang kewarganegaraan yang disahkan dimulai sejak minggu pekan lalu, namun aksi tersebut berujung bentrokan dan kerusuhan antar umat Muslim dan Hindu di wilayah timur laut New Delhi. Kedua belah pihak saling melempar batu serta merusak bangunan dan kendaraan.

Undang-undang kontroversial itu mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Banglades, Pakistan dan Afganistan. Baleid itu disahkan oleh pemerintah Narendra Modi yang beraliran sayap kanan. Partai pengusungnya, Bharatiya Janata (BJP), dituduh diskriminatif terhadap umat muslim (Cnnindonesia.com, 26/02/2020).

Bahkan, sejumlah aktris Bollywood rama-ramai menyuarakan protes terhadap UU Citizenship Amendment Bill (CAB). Di bawah undang-undang ini, umat muslim India juga akan wajib membuktikan bahwa memang mereka adalah warga negara India. Sehingga ada kemungkinan warga muslim India justru akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan (Tirto.id, 28/02/2020).

Sedangkan menurut Dr. Zakir Naik tindakan kekerasan yang dialami Muslim India ini direstui oleh pemerintah. Adanya vidio-vidio kekejaman yang telah tersebar dan gerombolan pria Hindu terlihat melemparkan batu ke warga muslim, dibantu oleh polisi dan mencambuk mereka tanpa ampun. “Sementara teriakan  ‘Jai Sri Ram’ menggema di undara. Bau kekerasan di mana-mana. Lebih dari 20 Muslim telah terbunuh, dengan korban tewas yang terus meningkat, dan lebih dari 100 lainya terluka oleh peluru. Tidak berlebihan untuk menyebut ini sebagai pembantaian yang diatur pemerintah,” tuturnya (Kiblat.net, 29/02/2020).

Perih  menyaksikan pembantaian umat Islam terjadi di mana-mana. Selalunya umat Islam yang hidup di kalangan minoritas ditindas oleh umat lain dan pemerintah di negara tempat mereka hidup. Paling menyedihkan lagi, hal ini sepertinya tidak mampu membuka mata kaum muslim di seluruh dunia.  Sebab ikatan nasionalisme telah kuat membelenggu dan mengikis kasih sayang antar saudara seakidah.

Pemimpin-pemimpin negeri Islam tidak ada yang mengambil sikap tegas atas penindasan yang menimpa saudaranya. Adapun yang berani bersuara hanya sebatas mengecam tindakan mereka saja. Bahkan, PBB pun minim bersuara atas pembantaian yang menimpa kaum muslim di seluruh belahan dunia.

Padahal Rasulullah saw. telah mengajarkan agar umatnya saling tolong-menolong ketika menyaksikan kesusahan yang dialami saudaranya. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainya. Tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhanya. Barang siapa melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitanya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat (HR Buhari no 2442).

Selain itu, sejatinya kaum muslim ibarat satu tubuh, satu bagian menguatkan bagian yang lain. Bila ada bagian tubuh yang sakit maka bagian lain ikut merasakannya. Begitu pula yang terjadi pada muslim India, seharusnya kaum muslim seluruh dunia bersama-sama bergerak menolong mereka dari kezaliman rezim tersebut dan pemerintah bukan sekedar melakukan kecaman saja.

Di samping itu, umat muslim butuh pelindung, sebab ketiadaan pemerintahan Islam menjadikan kaum muslim tercerai-berai. Hukum Allah diacuhkan bahkan tumpahan darah kaum muslim dijadikan sebagai mode sebuah permainan. Wahai saudaraku yang seiman tidak pernahkah kau mendengar junjungan kita Nabiyullah Muhammad saw. bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai nomor 3987, Thurmudzi nomor 1455 dan dishahikan Al Albani).

Lebih dari itu, tanpa adanya perisai, saat ini kondisi kaum muslimin di seluruh dunia terzalimi, teraniaya, terusir, terfitnah, terhina, terpuruk dan tertindas. Padahal kaum muslim adalah umat terbaik. Sebagaimana Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 10 yang artinya, “Kalian adalah umat terbaik yang diutus untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar dan mengimani Allah…”.

Dengan demikian, wajib atas kaum muslim yang ada di seluruh dunia termasuk yang ada di Indonesia, peduli kepada urusan kaum muslim, melindungi umat Islam di belahan bumi lainnya, memelihara keimanan dan keislaman mereka. Sekaligus mencegah mereka dari kezaliman kafir penjajah. Namun, mungkinkah konsep negara bangsa (nation state) mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslim di seluruh penjuru dunia?

Semoga kali ini, semua penderitaan kaum muslim di seluruh dunia, menyadarkan kaum muslim lainnya, bahwa institusi Islam sudah saatnya hadir kembali. Umat membutuhkan perisai dan pelindung untuk melawaan kezaliman dengan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki di bawah satu kekuatan politik dan komando. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.