Umat Bersatu Menjaga Marwah Ulama’ (Tanggapan Atas Banyaknya Tragedi Penganiayaan Dan Pembunuhan Ulama’ )

180

Oleh: Achmad Fathoni  (Direktur el-Harokah Research Center)

     Dalam satu bulan terakhir banyak tragedi teror terhadap ulama’ dalam bentuk persekusi, ancaman, dan penyiksaan bahkan pembunuhan yang sangat keji. Tragedi tersebut sangat menyayat hati dan duka yang mendalam bagi keluarga korban khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Karena tragedi tersebut terjadi susul-menyusul di berbagai daerah. Yang patut disayangkan, pihak aparat langsung menyimpulkan bahwa pelaku adalah orang yang sakit jiwa alias gila. Padahal kasus belum diusut secara tuntas dan mendalam. Maka publik berspekulasi bahwa tragedi itu sangat jangggal dan bukan kasus kriminal biasa. Namun ada indikasi adanya otak di balik tratedi tersebut. Pasalnya ada pola yang sama antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Tentu saja publik, terutama umat Islam, sangat mengecam tindakan biadab yang menimpa para ulama’ dan tokoh agama. Karena siapapun pelaku dan otak serta motif dibalik tragedi penganiayaan dan pembunuhan tersebut, maka pihak yang menjadi korban adalah umat Islam.

     Korban-korban tragedi tersebut sudah cukup banyak, antara lain. Pertama, Menimpa Pimpinan Pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Bassri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai shalat subuh di Masjid pada Sabtu (27/1). Polisi lalu menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian dinyatakan lemah ingatan. Kedua, Menimpa Komando Brigade PP Persis, Ustadz Prawoto. Beliau bahkan wafat setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/2) pagi (Republika, 2/2/2018), Ketiga, Terjadi penyerangan pada Ahad, 18 Februari 2018, kepada KH Hakam Mubarok, pengasuh Pesantren Karangasem, Paciran Lamongan. Menurut pihak Polda Jatim, pelaku yang bernama Namdang Triyana bin Satibi (23 tahun) warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat diduga gila (Tempo, 19/2/2018). Keempat, Dua pengasuh Pesanten Al-Falah, Ploso, Kediri, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli disatroni oleh orang tak dikenal dengan membawa pisau sambil berteriak-teriak. Pelaku kemudian diamankan oleh Polres Kediri untuk diinterogasi (Jawa Pos, 20/2/2018). Dan tentu masih banyak lagi tragedi-tragedi serupa dengan modus dan target yang serupa dalam beberapa pekan terakhir.

     Menurut pengamat intelijen, Soeripto, mengatakan bahwa orang gila pun bisa ‘dioperasikan’. Operasi penyerangan seperti ini bisa menggunakan orang gila. Mereka bukan didoktrin, seperti orang waras, tetapi mereka direkayasa suasana jiwanya, disentuh sisi emosionalnya, ungkap Soeripto yang dikenal sebagai tokoh intelejen tiga zaman ini, Rabu (21/2) dilansir republika. Setelah dipelajari sisi emosinya, kemudian disentuh emosi tersebut, hingga kemudian orang gila yang siap dioperasikan ini akan bertindak agresif. “Jadi, orang gila pun sangat bisa untuk dioperasikan. Karena itu, tidak heran bila kejadian penyerangan tokoh agama dan ulama’ ini terjadi berturut-turut dan tidak hanya terjadi di suatu tempat. Dan ini tidak mungkin disebut kebetulan. “Pasti ada skenario dan rekayasanya”, tegasnya. Dan yang bisa melakukan hal semacam ini, menurutnya, adalah mereka yang punya kemahiran dan pengetahuan untuk melakukan operasi intelejen tertutup, bukan terbuka. “Jadi dari analisis deduktif spekulatif saya, pasti ada yang ‘ngerjain’ artinya ada rekayasa”. Walau benar secara medis penyerang didiagnosa gila, tapi dia bisa direkayasa melakukan penyerangan kepada orang-orang tertentu. Dan tujuannya tidak lain untuk memberikan kepanikan dan ketakutan pada masyarakat. Karena dulu pun, menurutnya hal seperti ini pernah terjadi. Jadi cara seperti ini bukanlah hal yang aneh (http://www.mantabz.com/pengamat-intelijen-ini-bongkar-cara-orang-gila-dioperasikan-tuk-serang-ulama/#)

     Dengan berbagai tragedi itu, tentu para ulama harus tetap istiqamah dalam membimbing umat agar tetap berada dalam bimbingan Islam dan senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar. Meski halangan dan rintangan senantiasa menghadang dari para pendengki Islam. Sedemikian beratnya beban yang dipikul para ulama’ dalam berpegang teguh pada agamanya. Di sinilah ujian bagi para ulama’ untuk tetap istiqamah mengemban predikat pewaris para Nabi. Sebagaimana teladan dan ibrah yang dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu, antara lain. Imam hanafi, pernah mengalami ditangkap, dipenjara, dicambuk, disiksa, dan dipaksa minum racun oleh penguasa zalim lalu meninggal dunia karena tidak setuju dengan dasar-dasar pemerintahan saat itu. Imam Maliki, pernah dicambuk dengan cemeti lebih kurang 70 kali sepanjang hayatnya oleh penguasa zalim, karena sering mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak penguasa saat itu. Imam Syafi’i, pernah mengalami penganiayaan tangan dan kakinya dirantai lalu dibawa menghadap pemerintahan zalim ketika itu dan hampir-hampir dipancung karena dituduh Syi’ah dan pemecah belah masyarakat. Imam Hambali, pernah dipenjara oleh pemerintah zalim dan dirotan belakangnya hingga hampir terlucut kainnya karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak penguasa. Penguasa saat itu mengangggap dirinya lebih benar daripada ulama’. Dan tentu masih banyak teladan ulama’-ulama’ terdahulu dalam berpegang teguh pada agamanya.

     Namun demikian, rezim saat ini telah melakukan tindakan yang merendahkan marwah dan kehormatan para ulama’, hanya  karena ulama’ melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan berseberangan pandangan serta sikap dengan kepentingan rezim yang sedang berkuasa saat ini. Tentu saja sikap semacam itu tidak bisa dibenarkan dari sudut pandang manapun. Karena sejatinya ulama’-lah yang sudah selayaknya diminta nasehat dan fatwanya oleh penguasa dalam pengelolaan negara dan bangsa ini. Bahkan ulama’-lah pihak yang sangat patut dilibatkan dalam menentukan kebijakan dalam mengelola negara dan melayani masyarakat. Justru dalam sistem kapitalisme-sekuler saat ini yang telah meminggirkan peran dan kiprah para ulama’, bahkan mempersekusi serta menganiaya ulama’ hingga sebagian di antara mereka terengggut nyawanya.

     Hal itu sangat bertolak belakang dengan sikap para penguasa dalam sitem Khilafah Islamiyah, yang sangat menjungjung tinggi marwah dan kehormatan para ulama’. Dalam sejarah keemasan sistem pemerintahan Islam, para Khalifah sangat menghormati kedudukan dan peran para ulama’. Para khulafaur Rosyidin sanantiasa meminta pertimbangan dan bermusyawarah dengan para pemuka shahabat yang kebanyakan terdiri atas ulama’ mujtahid. Demikian pula, terhadap pemuka masyarakat yang memahami seluk-beluk kehidupan politik, terutama meminta para ahli yang terpercaya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakar bahwasanya apabila beliau menghadapi suatu masalah, beliau mengundang para pemuka kaum muslimin dan para ulama dan mereka bermusyawarah (lihat Kitab Fatkhul Bari, jiuz ke-13, hal 342). Dan menurut Ibnu Atiyah menjelaskan bahwa seorang Khalifah wajib diberhentikan apabila tidak bermusyawarah dengan para ahli ilmu ad-din (Tafsir Al-Qurtubi, 4 : 249).

     Sebagian para khalifah selalu bermusyawarah dengan rakyat, ulama’, dan para ahli/pakar dalam berbagai bidang, seperti: kemiliteran, ekonomi, dan keuangan, dsb. Sebagaimana Khalifah Abdul Malik mempunyai majelis musyawarah khusus. Begitu pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, dan Al-Muiz Lidinillah Al-Falatini mempunyai majelis musyawarah yang khusus yang setiap saat dapat dimintai pendapatnya. Sebagaimana yang diungkapkan Imam Al-Ghazali dalam kitab (Ihya’ ulumuddin, 2 : 344) mengenai beberapa contoh/model bentuk ‘Syura’ mulai di zaman Rasulullah SAW sampai para khalifah-khalifah sesudahnya.

     Dengan demikian, sistem kapitalisme-sekuler yang menjadi sumber malapelata yang menimpa ulama, kyai, dan tokoh Islam di negeri ini. Untuk itu, satu-satunya jalan untuk mengembalikan marwah dan kehormatan ulama’ adalah dengan menegakkan kembali sistem Khilafah Islamiyah dan mencampakkan sistem kepilalisme-sekuler hingga sampai akar-akarnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.