Ulama Tanpa Politik, Kebangkitan Islam Nihil

142

Ancaman, intimidasi bahkan persekusi akhir-akhir ini sering dirasakan oleh para ulama. Namun intimidasi ini dikhususkan untuk para ulama yang ketika memberikan tausiah berisi atau menyinggung masalah politik saja. Salah satu ulama yang mengalaminya adalah Ustad Abdul Somad atau biasa disebut UAS. Yang dalam tausiyahnya sering berbicara masalah politik Islam, tidak heran banyak kalangan yang mempermasalahkan ceramahnya.

Wakil presiden Jusuf Kalla menyebut ceramah Ustadz Abdul Somad di beberapa tempat kerap menuai pro dan kontra di masyarakat. Yusuf Kalla mengatakan Somad perlu mengevaluasi materi ceramahnya (CNN Indonesia, Jakarta,04/09/2018).

Ustad Somad mengklaim kerap mendapat ancaman dan intimidasi saat akan menyampaikan tausiyah di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena pro dan kontra itu ia pun membatalkan ceramahnya.

Bukan hanya himbauan dari wakil presiden saja, melainkan dari pihak kepolisian Resort Metro Tangerang, AKBP Ferdy Irawan pun mengatakan terkait upaya penolakan Somad berceramah, pihaknya telah mengantisipasi supaya tidak terulang di Pamulang. Ferdy meminta ceramah dan acara tersebut tidak membahas persoalan politik

“Yang jelas kami sudah ingatkan panitia agar dalam ceramah jangan ada membahas politik, murni masalah keagamaan. Kalau acara keagamaan pasti kita berkenan izin dengan catatan tidak ada politik praktis”  tutur Ferdy (CNN Indonesia, Jakarta, 9/9/2018).

Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan. Ustad Abdul Somad adalah seorang ulama yang mempunyai banyak penggemar, banyak mendapat hati umat yang mendengar ceramahnya dan pengaruhnya pun sangat luar biasa di dalam masyarakat. Masyarakat pun sangat antusias dalam menyimak tausiahnya, tidak heran jika di setiap acara pengajiannya masa sangat membludak.

Dalam tausiyahnya, Ustad Abdul Somad terkenal sering menyelipkan politik Islam. Politik yang seharusnya diketahui dan dilaksanakan oleh kaum muslimin. Hal inilah salah satu alasan dari beberapa pihak yang terusik dan melakukan ancaman ataupun intimidasi terhadapnya. Pihak-pihak anti Islam politik sesungguhnya tidak rela dan takut kalau kekuatan Islam politik memegang kendali kekuasaan negara.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika ada sebuah pernyataan yang menyatakan Islam beribadah itu akan dibiarkan, Islam berekonomi akan diawasi, dan Islam berpolitik akan dicabut ke akar-akarnya.

Menurut Muchtar Effendi Harahap, ketua dewan pendiri  NSEAS (Network for South East Asian Studies) dalam tulisannya yang tersebar di dunia maya mengemukakan, alasan kelompok anti Islam untuk menjegal kekuatan politik Islam yaitu, agar kekuatan ini melemah dan tidak menjadi ancaman pada pileg (pemilihan legislative) dan Pilpres (pemilihan presiden) 2019 mendatang (

Fakta menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Islam formal telah ditinggakan oleh umat Islam sebagai panutan dan beralih pada tokoh Islam non-formal yang disebut dengan ulama, ustad, dan habib. Kekuatan anti Islam politik ini takut kepentingan kekuasaan mereka menghilang karena menguatnya kekuatan umat Islam pimpinan non-formal.

Sebab inilah yang membuat mereka takut, kalut dan bahkan panik. Mereka berusaha melakukan 1001 cara untuk memadamkan gejolak politik Islam di dalam masyarkat. Dan Ustadz Abdul Somad adalah contoh dari sekian banyak ulama yang mendapatkan tekanan karena isi ceramahnya menyelipkan politik Islam. Masih banyak ulama lain yang mendapatkan tindakan serupa misalnya Ustad Felix Siauw dalam acara tabligh akbar yang diadakan di Bargil juga dibubarkan dan Ustadz Bachtiar Nasir serta Ustad Sobri Lubis juga dihalang-halangi ketika hendak mengisi tabligh akbar di Garut.

Apabila kita menilik kembali apa yang telah terjadi kepada para ulama saat ini, pada intinya adalah  mereka (pihak-pihak anti Islam Politik) hanya menghendaki ketika ada ulama atau ustad yang mengisi tausiah di sebuah pengajian ataupun tabligh akbar haruslah ceramahnya berisi atau seputar ibadah ritual dan akhlak saja. Jangan sampai ada ceramah yang menjelaskan tentang politik Islam. Mereka berdalih politik itu kotor, penuh dengan permasalahan, penuh dengan tipuan, dan hal-hal buruk lainnya. Sedangkan Islam itu suci, damai, tidak boleh dikotori oleh politik yang nantinya bisa mengontaminasi Islam dengan hal yang kotor.

Islam adalah agama yang sempurna, istimewa, dan unik. Salah satu keistimewaannya adalah Islam bukan hanya agama spritual yang mengatur seputar ibadah dan akhlak saja, akan tetapi Islam adalah sebuah agama yang juga sekaligus ideologi yang didalamnya terpancar aturan untuk mengatur kehidupan manusia baik ibadah, ekonomi, sosial, politik, bahkan pemerintahan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa, kita diperintahkan untuk mengambil Islam secara keseluruhan tidak setengah-setengah artinya bukan hanya soal ibadah dan akhlak saja melainkan harus diterapkan dalam segala aspek kehidupan kita, baik itu individu, bermasyarakat maupun bernegara.

Rasulullah SAW pun mencontohkan hal yang demikian. Beliau bukan hanya sebagai seorang Rasul dan Nabi, akan tetapi beliau pun seorang kepala Negara. Bagaimana beliau mengurusi umat? Bagaimana beliau mengatur strategi dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala Negara?. Itu semua adalah urusan politik yang dicontohkan oleh Rasul. Sebagaimana sabda Rasulullah “Siapa saja yang bangun di pagi hari sementara perhatiannya lebih banyak tertuju pada kepentingan dunia, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka (HR. Al Hakim)

Dalam hadis lain juga ditegaskan oleh Rasulullah “Tidaklah seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah akan mengharamkan dirinya masuk ke dalam surga” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah pentingnya politik dalam Islam. Dalam Islam urusan umat akan benar-benar diarahkan pada politik yang bersih, agar umat tercerahkan dengan ideologi Islam, dan politik Islam. Ulama lah yang sangat mengambil peran penting dalam hal ini, karena ulama adalah pewaris para Nabi dan penyambung lisan Rasulullah. Ulama adalah pilar Islam dan benteng pertahanan kaum muslim sebagai pewaris para Nabi, kedudukannya pun sangat mulia, derajatnya pun tinggi karena ilmu agama yang dibawahnya menjadi penuntun jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (Al-Mujadilah :11)

Oleh karenanya kita wajib menghormati dan memuliakan ulama yang pada hakikatnya memuliakan Nabi SAW.  Tentu menghina, mencela, mengancam, dan mempersekusi mereka sama dengan mencela Nabi Muhammad SAW.

Dengan melihat kondisi saat ini banyaknya para ulama-ulama yang mendapatkan intimidasi ketika mereka menyampaikan sebuah kebenaran. Itu jelas akan membawa malapetaka bagi suatu negeri tersebut, karena Rasul  jauh-jauh hari telah mengingatkan kepada kita tentang sikap menjauh dari ulama shalih akan membawa kehidupan suatu negeri jauh dari berkah, situasi akan dikendalikan oleh orang-orang alim dan ketika akhir hayat lepas dari keimanan.

Nabi juga mengingatkan tentang bahaya kelangkaan ulama shalih yang mengakibatkan munculnya ulama-ulama palsu yang menggiring kita pada kesesatan. Sebagaimana sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba-nya, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak tersisa lagi orang orang alim maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh : Sulastri (Pemerhati Muslimah Konda) Konda, Konawe Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.