Ulama Sejati Tidak Akan Menyelisihi Syariat

58

Oleh: Kunthi Mandasari (Member Akademi Menulis Kreatif Regional Jawa Timur)

Melalui rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI di Ancol, Jakarta, pada Kamis (8/11) yang dipimpin Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin. Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) memperbolehkan bank syariah memakai dana nonhalal untuk kemaslahatan umat.

“Dana nonhalal wajib digunakan dan disalurkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin (cnnindonesia.com, 8/11/2018).

Yang dimaksud Dana non Halal sendiri adalah segala bentuk pemasukan Bank Syariah yang bersumber dari kegiatan yang tidak halal. Seperti pendapatan dari denda saat nasabah terlambat mengembalikan pinjaman. Serta pendapatan dari penjualan produk, seperti makanan dan minuman halal.

Untuk penggunaannya sendiri dana nonhalal tidak boleh dihitung dan digunakan sebagai keuntungan perusahaan Bank Syariah. Tetapi boleh digunakan untuk sumbangan penanggulangan korban bencana, penunjang pendidikan seperti masjid dan mushola, fasilitas umum yang memiliki dampak sosial yang tidak melanggar syariat.

Dana nonhalal berarti dana yang berasal dari sesuatu yang tidak halal yakni dana yang berasal dari sesuatu yang jelas haram hukumnya, baik itu haram karena dzatnya (haram li-zatihi) dan haram bukan karena dzatnya (haram li-gayrihi).

Dalam pandangan Islam pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai yang ditentukan sebelumnya jelas tidak diperbolehkan. Karena memungut denda uang tersebut termasuk sama dengan mengambil harta milik orang lain secara batil. Dan pendapat yang rajih tentang denda adalah haram.

Alasan yang pertama, meskipun orang yang terlambat membayar hutang harus dihukum, tapi belum pernah ada dalam sejarah Islam seorang Qadhi (hakim) yang menjatuhkan hukuman denda. Sehingga tambahan apapun dari nominal hutang, maka itu termasuk dari riba yang diharamkan. Alasan kedua, denda karena terlambat membayar hutang mirip dengan riba, maka denda ini dihukumi sama dengan riba sehingga haram diambil. Sesuai dengan kaidah fiqh “ma qaraba al-syai’a u’thiya hukmuhu” (apa saja yang mendekati atau mirip dengan sesuatu, dihukumi sama dengan sesuatu tersebut).

Sehingga denda karena terlambat membayar hutang atau angsuran utang hukumnya haram karena termasuk riba.

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman yang artinya : “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275).

Maka sangat jelas antara yang halal dan haram dalam pandangan Islam. Allah juga berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 278).

Jika sudah sangat jelas larangan Allah SWT terhadap riba dan justru saat ini diperbolehkan oleh ulama, maka yang diperlukan adalah adanya revitalisasi ulama. Mana ulama yang benar-benar berpegang teguh pada tali agama Allah SWT sehingga menuntun umat semakin taat. Bukan seorang ulama yang justru menjerumuskan umat agar memaklumi  setiap hukum sesat yang menyelisihi Al-Qur’an dan Hadist namun dengan embel-embel syariat dan ijtihad. Kita pun harus jeli melihat, bahwa tidak semua ulama itu hanif.

Sudah saatnya kita mencampakkan hukum sekuler yang telah mencampuradukan antara halal dan haram dengan kedok kemaslahatan. Karena kemaslahatan yang sesungguhnya hanya bisa diperoleh jika seluruh ummat bertakwa kepada Allah SWT dengan mengikuti pentunjuk-Nya yakni Al-Qur’an dan Hadist. Sebagaimana firman-Nya: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96).

Dan ketaqwaan seluruh penduduk negeri hanya bisa diwujudkan jika ada seorang pemimpin yang mau menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.