Ulama Mataraman: Wajib Memerintah dengan Syariat Islam

155

Mediasiar.com – Ponorogo, 26/1. Forum Komunikasi Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (FKU Aswaja) Mataraman kembali menggelar mudzakarah. Bertajuk “Mudzakaratul Ulama fi Ihya-i maa Waritsuuhu minal Anbiya” (Mudzakarah Ulama dalam Menghidupkan Warisan para Nabi), forum ini menekankan wajibnya umat Islam untuk mengangkat pemimpin yang memerintah dengan syariat Allah.

Koordinator FKU Aswaja Mataraman, KH. Anas Karim, dalam sambutannya menegaskan bahwa seorang hamba tidak akan pernah mencapai ridlo Rabbnya jika tidak mematuhi perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-larangannya, meski lisan hamba tersebut senantiasa menyebut-nyebut keagungan dan kesucian Rabbnya. Beliau mengingatkan bahwa Allah mengatur manusia bukan hanya pada soal ibadah mahdlah melainkan juga dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk bagaimana mengelola pemerintahan.

Sementara itu, K.H. Bukhori, pengasuh PP al-Muslimun Magetan, menyatakan bahwa amar makruf nahi munkar itu justru semestinya dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya, bukan hanya rakyat terhadap pemerintah. Sebab, secara bahasa, kata amar dan nahi itu merupakan thalab minal a’la ‘alal adna, tuntutan dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah. Pengejawantahan dari perintah amar makruf nahi munkar, lanjut beliau, seharusnya adalah kebijakan-kebijakan negara yang merupakan implementasi syariat Islam.

Sementara itu, Kyai Bonari, ulama asal Balong Ponorogo, menambahkan bahwa para ulama tidak boleh mengenal lelah untuk menyampaikan kepada umat tentang ajaran-ajaran Kanjeng Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, terutama ajaran-ajaran yang yang mulai banyak dilupakan orang, yaitu sistem pemerintahan Islam. Sebagai pewaris para nabi, ulama harus berupaya menjaga ajaran Islam agar tetap hidup di tengah-tengah umat.

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Ahmad Nadhif membahas dalil-dalil yang menunjukan wajibnya pemimpin kaum muslimin untuk melegalisasi undang-undang yang lahir dari aqidah Islam. Mengutip al-Maidah 44, 45, dan 47, beliau menyampaikan bahwa pemerintah yang tidak memerintah rakyatnya dengan apa yang diturunkan Allah, maka Allah menyebutnya sebagai kafir, atau dzalim, atau fasik.

Beliau melanjutkan, penerapan syariat Allah itulah yang akan mendatangkan barokah langit dan bumi. Sebaliknya, jika bukan syariat Allah yang dipakai memerintah, maka kerusakan di darat dan di lautlah yang akan terjadi.

Acara yang dihadiri sekitar 100 ulama dan muballighin ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah agar segera menurunkan pertolongannya, berupa tegaknya sistem pemerintahan yang menjadi ajaran Islam dan diperintahkan oleh Allah, yaitu al-Khilafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.