Ulama Bukan Alat Legitimasi Kekuasaan

133

Ulama adalah pewaris nabi, ini adalah ungkapan dari para ulama dan juga periwayatan yang bersumber dari hadist.  Adapun yang dikatakan pewaris nabi yakni yang menggantikan peran nabi untuk menyadarkan dan membimbing umat agar tidak terperosok dalam kubangan maksiat dan tetap perpegang dengan aturan Allah. Namun sayang hal ini tidak lagi sama seperti dahulu, Ulama yang ada saat ini kebanyakan digunakan sebagai alat untuk meluluskan keinginan penguasa atau kelompok tertentu. Ini terlihat ketika pesta demokrasi terbesar akan segera diselenggarakan, apa lagi jika bukan PEMILU untuk Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 yang akan dilaksanakan di bulan April 2019. Berbagai upaya kini terus digalakkan oleh tim pemenangan dari masing-masing kubu Capres dan Cawapres. Mulai dari mencuri hati petani, buruh, karyawan, pesantren dan bahkan perhatian para ulama. Media kini bahkan telah mengumumkan hasil ijtima para ulama terhadap calon yang akan mereka dukung untuk menjadi pemimpin no 1 di Indonesia nantinya. Ahad, 16 september 2018, beberapa ulama yang bergabung dalam sebuah forum memutuskan untuk memberikan dukungan dan suara untuk pasangan Prabowo-Sandiaga. Hal ini pun diresmikan dengan menandatangani fakta integritas yang dihasilkan ijtima ulama II di hotel Grand Cempaka, Jakarta. www.republika.co.id

Kemudian media juga di gemparkan dengan deklarasi dari 400 Kiai dan pengurus pondok pesantren atas dukungan mereka terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai calon pemimpin yang akan duduk sebagai pemimpin di negeri ini pada sabtu,15 september 2019 saat menggelar silaturahmi di Ponpes Asshiddiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat. www.antaranews.com. Hal ini tentu membuktikan bahwa ulama saat ini tidak lagi berperan sebagai sosok yang mencerdaskan umat. Dengan melihat perpecahan ini terbukti demokrasi telah membutakan makna dari ulama yang murni. Keputusan ataupun perkataaan ulama seharusnya membawa umat menuju kejalan yang di ridhoi Allah, menyadarkan umat dari kekeliruan dan pesona dunia adalah kewajiban meraka. Tapi kenyataannya kini mereka malah terbuai dengan janji palsu sistem demokrasi hingga menjadikan  para ulama yang lain sebagai pion dalam menuju impian mereka memperebutkan posisi no 1 di Indonesia.

Ulama memang tidak terlepas dari urusan politik, bahkan mereka adalah salah satu bagian yang sangat penting. Terlabih dahulu kita harus mengetahui makna dari politik menurut islam adalah mengurusi urusan umat. Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan hajat hidup umat tidaklah boleh lepas dari perhatian pemimpin dan para ulama. Dan ini jelas berbeda dengan politik yang maknai oleh sistem kapitalis-demokrasi dimana mereka menjadikan makna politik yang identik dengan kekuasaan. Masyarakat selama ini di beri pemahaman keliru mengenai makna politik. Bahkan mereka menyebut politik itu kotor dan tidak layak ulama yang bersih masuk kedalamnya. Ulama adalah sosok yang mampu mencerdaskan umat baik tentang aktivitas dunia, akhirat juga politik islam. Karena umat yang buta akan politik tidak akan sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, biaya kesehatan, pendidikan dan sebagainya bergantung kepada keputusan politik. Suatu kesalahan dan kebodohan umat saat ini karena mereka anti dengan politik, padahal mereka tidak sadar bahwa terjadinya pelacuran, anak yang terlantar, perampokan, korupsi dan adanya perusahan asing yang terus menguras kekayaan negeri ini terjadi karena kita yang tak mau tahu politik padahal itulah segala sumber yang menyulitkan kehidupannya saat ini. Seperti ungkapan dari Bertolt Brecht seorang penyair dan dramawan Jerman “buta yang terburuk adalah buta politik”.

Dalam sistem demokrasi apa saja boleh dilakukan untuk mencapai kursi kekuasaan, karena bagi mereka kekuasaan adalah piala yang harus diperjuangkan, bukan sebagai suatu amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya. Ini juga yang akhirnya membuat mereka menjadikan ulama sebagai alat untuk melegetemasi kekuasaan yang hendak mereka capai. Dan hal ini tidak boleh terus berlanjut, ulama adalah pewaris nabi yang darinya di wariskan bukan sebuah dinar ataupun dirham melainkan mereka mewarisi ilmu.

Meskipun kita bukanlah seorang ulama, tetapi kewajiban amar ma’ruf nahi munkar tetap harus kita laksanakan. Sebab Allah talah menjadikan kita umat muslim satu derajat lebih tinggi dibanding umat lain. Dan kehormatan itu tertulis dalam kitab suci kita Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110 yang artinya : “kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuru berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….”. maka dari itu kita harus menyadarkan para ulama yang kita cintai bahwa Allah memerintahkan kita untuk berhukum hanya dengan hukum buatan-NYA, dan suatu kekeliruan bila beranggapan manusia boleh/ mampu untuk membuat hukum sendiri. Allah berfirman : “dan baranng siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” (TQS. Al-Maidah ayat 44). Dan ulama kita saat ini sedang di manfaatkan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan islam menjadi aturan hidup.

Keterlibatan para ulama saat ini tentu karena dampak dakwah dari para ulama dan para aktivis dakwah sebelumnya yang membuat gempar dan mengancam keberlangsungan sistem kufur demokrasi-kapitalis yang  tentunya mengancam para asing, aseng dan kafir penjajah yang terus mengincar kekeyaan negeri kita tercinta ini. Mulai dari gagalnya seorang kafir menjadi pejabat hingga kesadaran umat akan bobroknya sistem saat ini yang akhirnya menginginkan penegakkan hukum islam kaffah (khilafah) yang dijamin tidak akan mendzolimi umat baik muslim maupun non muslim. Mereka yang menginginkan bangku kekeuasaan akhirnya sadar bahwa untuk mengambil hati rakyat yang sudah tidak percaya akan janji manis saat kampanye dan sistem yang pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat dan mementingkan kepentingan asing. Maka caranya adalah dengan mendekati ulama dan menjadikan mereka sebagai sarana untuk meraih kembali hati rakyat.

Tugas ulama sangatlah berat, namun hal ini tidak boleh membuat mereka akhirnya memilih untuk mengambil jalan pintas dengan mengikuti / mendukung sistem yang sudah jelas rusak ini. Jika ingin membangkitkan  dan mensejahteraakan umat maka caranya adalah dengan mengganti sistem pemerintahan yang berlandaskan islam. Karena siapapun pemimpinnya baik itu yang di usungkan ulama atau bahkan ulama itu sendiri yang mencalonkan diri tetep saja tidak mampu menyelesaikan permasalahan umat. Karena letak kerusakan yang mendasar ada di sistemnya, dan ketika sistemnya sudah benar yakni sesuai dengan arahan sang kholiq maka siapapun bisa menjadi pemimpin ketika dia mampu menjalankan pemerintahan dan memenuhi syarat-syarat seorang pemimpin berdasarkan syara’. Dan ini semua tidak terlepas dari peran ulama yang sesungguhnya yakni mencerdaskan umat dengan bekal ilmu yang telah diwariskan Rasulullah SAW.  Wallahu a’lam bishawab

Oleh : Agus Susanti (Aktivis Dakwah/ Angggota #AMK3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.