Uighur, Tuntaskan dengan Sistem Islam

12

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

            Berita bocornya dokumen Uighur dan bersaksinya para korban tragedi kemanusiaan di Xinjiang China, tidak lantas membuat pemerintah China mengakui semua fakta tersebut.  Pemerintah China menyampaikan bangunan camp-camp yang dihuni etnis muslim Uighur merupakan camp re-edukasi, dan peristiwa berdarah yang pernah menimpa etnis muslim Uighur lebih kepada gerakan terorisme yang harus dihentikan oleh pemerintah China.

            Terlepas dari apa pun bantahan pemerintah China, sebagai seorang pemimpin muslim yang memimpin negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya pemerintah Indonesia harus bersikap lebih tegas dengan pemerintah China, apalagi posisi Indonesia saat ini sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.  Yang mana dengan kedudukannya tersebut, pemerintah Indonesia dapat menjadi pionir penegakkan hak asasi manusia (HAM) pada etnis muslim Uighur.

            Fakta yang terjadi sebaliknya, pemerintah Indonesia hanya melakukan “diplomasi lunak” alias mengecam tanpa disertai tindakan tegas seperti pemutusan hubungan kerjasama atau pun pemboikotan produk, sebagaimana yang banyak disuarakan masyarakat. Menko Polhukam, Mahfud MD mengklaim telah berbicara dengan Duta Besar China untuk Indonesia, Xiao Qian mengenai etnis Uighur di Xinjiang China.  Dia mengatakan Xiao menyebut etnis Uighur separatis karena memiliki agenda di luar kerangka negara China.  “Dia menjelaskan di China itu kan banyak sekali orang Islam, diberbagai penjuru, ndak apa-apa.  Kecuali Uighur katanya.  Kenapa Uighur? Itu mempunyai agenda sendiri di luar kerangka, separatislah kalau istilah,” (cnnindonesia, 20/12/2019).

Islam Tegas pada Kasus Kemanusiaan

            Berbeda dengan pemerintahan sistem kapitalis-sekuler saat ini, pemerintahan sistem Islam sangat tegas membela hak-hak masyarakatnya.  Contohnya bagaimana seorang khalifah membela kehormatan warga perempuannya (muslimah), seperti yang terjadi pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan Dinasti Abbasiyah.

            Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu ditaklukkan oleh al-Mu’tashim.  Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.  Dan diantara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yag ditawan disana.  Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashimi!” Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukan kota tempat wanita itu ditawan.  Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”.

            Andaikan saat ini sistem pemerintahan Islam kembali tegak, tentunya sejarah gemetarnya China di hadapan khilafah akan kembali terulang, seperti yang pernah terjadi saat zaman al-Walid bin Abdul Malik.dengan panglima perangnya Qutaibah bin Muslim, yang dimulai sejak tahun 86 H/705 M, mempunyai dampak politik yang luar biasa.  Khususnya setelah wilayah Kirgistan berhasil ditaklukan tahun 95 H / 714 M.

            China mengajak berunding khalifah, hal ini terjadi setelah China menyaksikan kekuatan kaum muslim yang berhasil menaklukan wilayah-wilayah Asia, dan tidak bisa dibendung oleh para peguasa di sana.  Bagaimana pengkhianatan penguasa Bukhara, yang sebelumnya melakukan perjanjian damai, setelah sebelumnya dikepung oleh pasukan Qutaibah, namun mereka berkhianat.  Setelah itu, mereka digempur habis-habisan oleh pasukan kaum muslim di bawah panglima Qutaibah, hingga tunduk dengan paksa (‘anwah) tahun 87 H/706 M.

            Ketika penduduk Samarkand berkhianat, maka Qutaibah harus memberi pelajaran kepada mereka, sebagaimana yang diberikan kepada penduduk Bukhara.  Samarkand pun ditundukkan kedua kalinya dan kekuasaan kaum mulim di wilayah itu pun menguat setelah suksesnya misi kedua ini.

            Mengenai kabar yang beredar luas di masyarakat jika pemerintah sengaja melakukan “Diplomasi Lunak” karena banyaknya pinjaman (utang luar negeri) dari negara tirai bambu ini, hal tersebut telah pula dijelaskan dalam sistem pemerintahan Islam bahwa tidak boleh menjalin kerjasama dengan negara kafir.  Misalnya dalam sistem ekonomi, investasi dan pengelolaan modal asing di seluruh negara tidak dibolehkan, termasuk larangan memberikan hak istimewa kepada pihak asing.  Selain itu negara-negara yang terikat perjanjian di bidang ekonomi, perdagangan, bertetangga baik atau perjanjian tsaqafah, maka negara-negara tersebut diperlakukan sesuai dengan isi teks perjanjian.  Warga negaranya dibolehkan memasuki negeri-negeri Islam dengan membawa kartu identitas tanpa memerlukan paspor, jika hal ini dinyatakan dalam teks perjanjian, dengan syarat terdapat perlakuan yang sama.  Hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara tersebut terbatas pada barang dan komoditi tertentu yang amat dibutuhkan, serta tidak menyebabkan kuatnya negara yang bersangkutan.

            Ingatlah kaum kafir tidak akan pernah ridha dengan kaum muslim, kecuali umat Islam murtad dari agamanya.  Sebagaimana firman Allah swt dalam Qs Al Baqarah : 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hinga kamu mengikuti agama mereka.  Katakanlah :”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”.  Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

Serta QS Al Baqarah : 217, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.  Barang siapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.

            Semoga pemerintah Indonesia tidak lupa bahwa kaum mukmin diibaratkan satu tubuh, jika anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.  Selain itu kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan yang mereka buat.  Wallahu’alam bishowab[].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.