Turut Berduka Cita Atas Gugurnya Keadilan di Perguruan Tinggi

Oleh : Nusaibah Al Khanza ( Pemerhati Masalah Sosial )

Nama Hikma Sanggala viral. Dia mendadak terkenal. Bahkan tercipta 3 tagar yang menjadi trending topik di tweeter menyuarakan keadilan bagi Hikma. #SaveHikmaSanggala #DaruratKediktatoranRektor #WeStandForHikmaSanggala.

Ya. Hikma adalah seorang mahasiswa yang kritis, berkomitmen dengan dakwah Islam dan berprestasi di Perguruan Tinggi IAIN Kendari. Dia  pernah mendapatkan Piagam Sertipikat Penghargaan Sebagai Mahasiswa Dengan IPK Terbaik se-fakultas. Hikma saat ini sedang menyusun skripsi. Namun diujung perjuangan pendidikannya, sang Rektor membuyarkan harapan Hikma. Cita-cita Hikma dipenggal. Mimpi Hikma dihancurkan.

Seperti diungkapkan oleh Pengacara Hikma dari LBH Pelita Umat, Chandra Purna Irawan, bahwa kliennya dikeluarkan karena dituding berafiliasi dengan aliran sesat dan paham radikalisme. Sebelumnya 27 Agustus 2019, kliennya menerima dua surat sekaligus yaitu surat dari Dewan Kehormatan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa nomor: 003/DK/VIII/2019 tentang Usulan Penjatuhan Terhadap Pelanggaran Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa IAIN Kendari. Di surat kedua adalah Keputusan Rektor IAIN Kendari Nomor 0653 Tahun 2019 Tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Kendari (di tribun-timur.com).

Sungguh ironi. Disaat bangsa ini krisis insan kampus yang berprestasi. Kritis. Berkomitmen dengan dakwah Islam. Terbebas dari virus sekulerisme liberalisme. Justru sosok Hikma Sanggala dipersekusi. Padahal apa yang dilakukan Hikma dengan mendakwahkan Khilafah yang merupakan ajaran Islam dijamin oleh konstitusi negeri ini.

Sebagainana Pasal 29 Ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Jadi jelas bahwa Hikma tidak melanggar perundang-undangan negeri ini karena dakwah adalah ibadah. Dan yang dia dakwahkan sesuai dengan agama yang dianutnya, yakni Islam.

Bersamaan dengan kasus persekusi Hikma Sanggala. Justru ada apresiasi bagus dari kampus Islam kepada disertasi dari seorang doktor yang menghalalkan zina. Membolehkan hubungan seksual diluar pernikahan. Menyamakan semua perempuan dengan budak sehingga halal digauli. Padahal pemikiran ini jelas sesat, melanggar norma sosial, melanggar syariat Islam, dan pasti akan menimbulkan kerusakan. Sungguh ini tidak adil. Mahasiswa berprestasi dipersekusi sedangkan doktor melegalkan zina justru diapresiasi.

Maka diharapkan segera ada tindakan bijak dan tegas dari pemerintah untuk mengembalikan hak pendidikan yang dijamin oleh negara kepada Hikma Sanggala. Agar keadilan di negeri ini dapat tetap terwujud dan dijunjung tinggi.

Namun jika itu tidak terjadi. Sungguh layak kita mengucapkan turut Berduka Cita Atas Wafatnya Keadilan di Perguruan Tinggi negeri ini. Karena keadilan itu telah mati bersama hilangnya akal sehat dari para pemimpin dan intelektual di perguruan tinggi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

” Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di Bumi dengan berbuat kerusakan.”

(QS. Hud 11: Ayat 85)

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.