Transportasi Mudik yang Aman, Mungkinkah?

Oleh : Ummu Tsabita (Pegiat Dakwah Islam)

Mudik. Satu kata yang tak bisa dilewatkan ketika menjelang  dan ba’da lebaran .  Pun menjelang dan habis tanggal 1 Syawal kali ini. Berbondong-bondong masyarakat di perkotaan  pulkam.  Tujuannya , silaturahim  dan berkumpul sanak saudara di kampung halaman. Menyenangkan memang. Mereka melakukan perjalanan menggunakan berbagai moda tranportasi, baik darat , laut dan udara.

Sayang setiap tahun, mudik selalu meninggalkan cerita yang memprihatinkan. Apa itu? Musibah kecelakaan.  “ Mudik lebaran itu indah, tapi saya tidak menganjurkan menggunakan motor. Dua tahun berturut-turut tercatat rekor kecelakaan  itu 75 persen dikarenakan  motor, “ menurut Mennhub Budi Karya Sumadi.  (JawaPos.com , 7/5/2018). Apakah pemudik menggunakan motor menjadi nol? Tidak lah. Soalnya, ketika permintaan untuk menggunakan transportasi umum menjadi tinggi , tidak bisa dihindari adanya kenaikan harga tiket bus, kapal atau pun pesawat. Ketika kemampuan kocek tak sanggup menjangkaunya, maka pilihan menggunakan motor menjadi solusi.

Tahun ini, pengguna sepeda motor menurun, ini yang diduga  kuat menyumbang kepada penurunan 35 persen dari kasus kecelakaan di jalan raya dari lebaran tahun lalu.  Di 2018, ada 1.661 kecelakaan, dengan korban jiwa sebanyak 373 jiwa.  Tapi tetap saja sepeda motor menyumbang  sekitar 2.310 unit yang terlibat laka lantas. Sisanya 57 bus, 481 unit kendaraan penumpang, dan 231 unit kendaraan barang.

Terkait perjalanan menggunakan kapal, salah satu yang sempat ramai diberitakan adalah tenggelamnya  KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Senin lalu (18/6) sekitar pukul 17.30 WIB. Kapal naas itu berangkat dari Dermaga Simanindo, Samosir menuju Pelabuhan Tigaras, Simalungun. Belum diketahui sebab kecelakaan secara pasti, namun menurut saksi , kapal sempat dihantam angin kencang , oleng kemudian tenggelam. BMKG sudah memperingatkan bahwa akan ada cuaca ekstrem di sekitar Sumut sebelum musibah terjadi.

Ada juga dugaan kapal tersebut kelebihan muatan. Dengan kapasitas maksimum 43 penumpang, kapal malah mengangkut ratusan orang. Apalagi fakta di lapangan hanya ada 45 jaket keselamatan yang ditemukan di atas kapal. Sedangkan data atau laporan awal ada 105 orang yang masih hilang. Menurut Menhub, hal seperti ini mengindikasikan pelanggaran. Walaupun Beliau tidak berani berspekulasi, karena Komite Nasional Keselamatan Tranpotasi (KNKT) masih melakukan penyelidikan terkait musibah tersebut. (cnnindonesia.com , 22/6/2018).

Kecelakaan, antara Musibah dan Salah Kelola

Walaupun data kecelakaan mudik tahun ini menurun, tetap saja ratusan koban jiwa yang melayang sehingga tak pernah sampai ke tempat tujuan menjadi sesuatu yang ironis. Justru menjelang Hari yang sangat dinantikan. Tapi bukankah kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dicegah? Musibah adalah takdir yang tak bisa dihindari?  Lalu apa peran manusia –termasuk dalam hal ini penguasa- untuk ‘mencegah’  semua hal tersebut?

Musibah kecelakaan yang menimpa memang bagian Qodho Allah -yang mau tidak mau- harus diterima. Apalagi jika sampai menelan korban jiwa . Allah SWT berfirman : “ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya… “(TQS. Ali Imron : 145).

“Di mana saja kamu berada , kematian  akan mendapatimu.  Kendati kamu berada dalam benteng yang tinggi  lagi kokoh…. “ (TQS. An Nisa : 78)

Namun pengelolaan dan pelayanan yang salah yang menghantarkan kepada kematian , tentu saja penguasa akan dihisab karena ‘kesalahan’ tersebut.  Baginda Rasulullah saw.:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”.  (HR Ibn Majah dan Abu Nu’aim).

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Dalam suatu riwayat , karena begitu khawatirnya atas pertanggungjawaban di akhirat sebagai pemimpin, Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata dengan kata-katanya yang terkenal, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah SWT, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”

Apa yang terjadi di Indonesia, menurut pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, karena kondisi transportasi daerah yang memprihatinkan membuat masih tingginya angka pengguna sepeda motor saat mudik Lebaran 2018. “Di sisi lain, pemerintah menghendaki pemudik menggunakan angkutan umum, tapi keberadaannya di daerah kian memburuk,”  tulisnya kepada  Tempo.

Pada mudik tahun ini, pemerintah menyediakan 39.446 unit ”mudik gratis” sepeda motor menggunakan truk, kereta api, serta kapal laut. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sekitar 106 persen dibanding tahun lalu, yaitu 19.148 unit.  Meski begitu, Djoko menilai program tersebut hanya akan mengurangi sedikit pengguna sepeda motor. Masalahnya, pada tahun ini diprediksi ada sekitar 6,39 juta orang mudik menggunakan sepeda motor.  “Dari kuota mudik gratis sepeda motor hanya dapat mengakomodasi 0,0061 persen.  Jauh dari angka 1 persen,” tutur Djoko. (Tempo.co ,  20/5/2018).

Selain itu, kata dia, permasalahan selanjutnya adalah tidak tersedianya angkutan umum yang memadai di daerah tujuan. Sehingga masyarakat lebih memilih sepeda motor untuk bepergian.  “Realitanya, angkutan perdesaan di Jawa sudah punah. Pemerintah daerah tidak peduli karena sepeda motor dianggap sebagai pengganti angkutan umum,” ucap dia.   Djoko mengatakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 serta Rencana Strategi (Renstra) Perhubungan tahun 2015-2019, yang berisi janji pemerintah ihwal pengadaan angkutan umum di 34 kota se-Indonesia, belum berjalan dengan baik.  Menurut dia, belum ada daerah lain yang transportasinya memadai layaknya Jakarta. Dampaknya pemudik bersepeda motor tetap banyak, dan kecelakaan lalu lintas jenis ini juga masih cukup tinggi.

Termasuk kasus kecelakaan di perairan atau laut, disebabkan armada yang tidak memadai dan standar keselamatan yang kurang diperhatikan. Seolah seperti film ‘lawas’ yang diputar ulang.  Semua menunjukkan pengelolaan transportasi di negri kaya SDA ini masih setengah hati memang!

Akar Masalah Transportasi

Harus dipahami dulu bahwa tranportasi sebenarnya bukan sekedar urusan teknis, tapi sistemik. Dengan cara pandang Kapitalistik yang ada saat ini, mengakibatkan dunia tranportasi dilihat sebagai sebuah industri.  Menyebabkan tranportasi di Indonesia menjadi semrawut.  Cara pandang seperti ini mengakibatkan kepemilikan fasilitas umum termasuk transportasi dikuasai oleh swasta.  Menjadi lahan bisnis, bukan fungsi pelayanan.  Negara hanya sebagai legislator, sedangkan yang bertindak sebagai operator diserahkan pada mekanisme pasar. Layanan transportasi dikelola swasta atau pemerintah dalam kaca mata komersil, akibatnya harga tiket transportasi publik mahal.  Namun  tidak disertai layanan yang  memadai. Demi mengejar untung,  tidak jarang angkutan umum yang sudah tidak layak jalan tetap beroperasi. Atau mengangkut penumpang melebihi kapasitas.

Efek penerapan sistem kapitalis, negara dibuat bangkrut.  Karena semua SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak -justru- pengelolaannya diserahkan pada para kapitalis , si pemilik modal.  Negara hanya mendapatkan sekedar bagi hasil atau royalti dari pengelolaan tersebut . Karena  keterbatasan dana,   penyediaan infrastruktur   kurang terurus. Sungguh ironis, rakyat  yang seharusnya mendapatkan pelayanan  malah dibebani dengan pajak.  Bahkan solusi utang, menjadi pilihan kebijakan pemerintah Indonesia  untuk infrastruktur.

Jadi bagaimana agar transportasi aman dan nyaman, sekaligus dijauhkan dari bahaya kecelakaan bisa dirasakan masyarakat?  Bagaimana Islam memberi solusi atas hal ini?

Dalam perspektif Islam, Pembangunan infrastruktur strategis diurai dalam tiga prinsip. Pertama,  pembangunan infrastruktur adalah tanggung jawab negara, tidak boleh diserahkan ke investor swasta. Kedua, perencanaan wilayah yang baik dan terpadu akan mengurangi kebutuhan transportasi.  Contoh,  ketika Baghdad dibangun sebagai ibu kota kekhilafahan, setiap bagian kota diproyeksikan untuk jumlah penduduk tertentu. Juga dibangun masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah bagi laki-laki dan perempuan. Tidak lupa, pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah.  Sangat terpadu, sehingga warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi segala kebutuhannya.  Menuntut ilmu atau bekerja, semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar. Ketiga, negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi mutakhir yang dimiliki.  Teknologi yang ada termasuk teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga alat transportasinya itu sendiri.

Navigasi mutlak diperlukan agar perjalanan menjadi aman, tidak tersesat. Untuk itulah kaum muslimin belajar astronomi dan teknik membuat kompas sampai ke Cina, dan mengembangkan ilmu pemetaan dari astronomi yang teliti.  Hasilnya, perjalanan haji maupun dagang baik di darat maupun di lautan menjadi semakin aman.

Teknologi & manajemen fisik jalan sangat diperhatikan  Sejak tahun 950 M, jalan-jalan di Cordoba sudah diperkeras, secara teratur dibersihkan dari kotoran, dan malamnya diterangi lampu minyak.  Baru pada tahun 1185 M,  Paris yang memutuskan sebagai kota pertama Eropa yang meniru Cordoba. Pengembangan teknologi untuk transportasi pun sangata diperhatikan, sesuai dengan perkembangannya saat itu, kaum muslimin telah mampu mengembangkan transportasi darat dan laut. Bahkan untuk tranportasi udara , Abbas Ibnu Firnas (810-887 M) dari Spanyol melakukan serangkaian percobaan untuk terbang.  Seribu tahun lebih awal dari Wright bersaudara, sampai Sejarawan Phillip K. Hitti menulis dalam History of the Arabs, “Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying.”

Hingga abad ke-19 Khilafah Utsmaniyah konsisten mengembangkan infrastrukturnya. Ketika kereta api ditemukan di Jerman, segera ada keputusan Khalifah kala itu , Sultan Abdul Hamid II untuk mencanangkan proyek “Hejaz Railway” dengan tujuan utama untuk memudahkan perjalanan kafilah haji.  Jalur kereta ini terbentang dari Istanbul, Ibukota Khilafah, hingga Makkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah. Dengan proyek ini, dari Istanbul ke Makkah yang semula 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari. ( DR. Fahmi Amhar, Infrastruktur Tranportasi Negara Khilafah, 2013)

Untuk mewujudkan infrastruktur terpadu dan berkualitas, maka sangat dibutuhkan penerapan sistem ekonomi Islam.  Dengan mengoptimalkan pengelolaan SDA dan dijauhkan dari utang ribawi. Supaya memberikan jaminan pembangunan ekonomi yang berkah, adil dan sejahtera yang akan meminimalisir kesenjangan ekonomi dan menjauhkan kerusakan di masyarakat.   Hanya Khilafah yang bisa menyediakan infrastruktur transportasi yang terjangkau, aman, memadai dengan teknologi terkini, semuanya dengan persfektif pelayanan bagi rakyat. Bukan komersial atau mencari keuntungan , sehingga hanya bisa dijangkau yang berduit.  Atau   ada tranportasi murah namun mengabaikan kenyamanan dan safety .

Saat ini, negara-negara maju menerapkan sistem tranportasi yang terpadu dan sangat memperhatikan tingkat safety. Namun karena paradigma kapitalistik, penikmat transportasi yang senyaman ini sangat terbatas. Sedangkan secara umum, anggota masyarakat yang lemah secara ekonomi -apalagi di negara–negara miskin dan berkembang- tentu sangat kesulitan mengembangkan sistem tranportasi yang berkualitas. Maka sangat dibutuhkan Sistem Khilafah yang akan membangun di belahan bumi manapun dia berkuasa, agar masyarakat mampu mengecap kelaikan dan kenyamanan dalam memenuhi kebutuhan bertransportasi. Agar kecelakaan bisa ditekan seminimal mungkin.  Entah mudik kapan ya , bisa merasakan hal itu? []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.