Tomorrow With Khilafah

    78

    Oleh: Naila Rahma Firdausy (Komunitas Muslimah Menulis)

    Diskursus khilafah ternyata semakin menjadi topik yang seru dibahas di berbagai kalangan. Bahkan menjadi suatu perbincangan yang hangat di tengah hiruk pikuk pilpres 2019. Meski ada yang mencoba memancing keresahan di tengah umat dengan membenturkannya dengan pancasila. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan isu khilafah untuk menangguk suara pemilih. Tentu saja dengan tendensi yang negatif. Ini sebagai upaya untuk menjelekkan khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam.

    Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono, mengatakan bahwa pada pemilu ini adalah pertarungan ideologi Pancasila melawan Khilafah. Dengan maksud bahwa kubu Prabowo dituding pro khilafah dan akan mendirikan khilafah jika menang nantinya.

    Ini langsung dibantah oleh BPN dan menyebut bahwa kubu 01 sedang panik sehingga melakukan fitnahan tak mendasar. Mereka dengan tegas menyatakan tak mendukung khilafah dan mengganti pancasila. Pada intinya, baik 01 maupun 02 jelas tak mendukung apalagi memperjuangkan khilafah. Dalam hal ini keduanya sepakat bahwa pancasila dan NKRI sudah final, tak bisa diganti.

    Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengimbau dua kubu pasangan capres dan cawapres untuk menghindari isu keagamaan seperti penyebutan khilafah. Menurut Din, hal tersebut merupakan bentuk politisasi agama yang cenderung menjelekkan.

    Din menjelaskan, walaupun di Indonesia, Khilafah sebagai lembaga politik tidak diterima luas, tetapi Khilafah yang disebut dalam Alquran adalah ajaran Islam. Manusia mengemban misi menjadi wakil Tuhan di bumi (khalifatullah fil ardh).

    Senada dengan Din Syamsuddin, Wakil Ketua Komite I DPD RI, Fahira Idris meminta agar semua pihak mampu menahan diri untuk tak menyudutkan dan membenturkan kedua calon presiden dengan isu ideologi yang tidak berdasar. Ia menegaskan Pancasila sudah final.

    Dakwah Khilafah

    Adalah Hizbut Tahrir Indonesia yang selama ini dikenal konsisten menyerukan konsep khilafah sebagai bentuk institusi Negara Islam. Sebuah institusi yang akan menaungi umat Islam di seluruh dunia dalam satu Negara yang sama, Negara Khilafah. Institusi yang akan melindungi dan mengurus segala urusan warga negaranya, termasuk yang non muslim tanpa diskriminasi. Seluruh umat Islam akan bersatu di bawah bendera yang sama, Panji Rasulullah, tanpa ada sekat-sekat nasionalisme.

    Aktivis HTI memang selalu menyebut khilafah dalam kegiatannya, baik secara individu maupun jamaah. Meski sudah dicabut BHP nya, mereka tetap menyuarakan khilafah sebagai solusi tuntas dalam mengatasi permasalahan umat Islam di seluruh dunia. Dan karena inilah mereka seringkali difitnah akan mengganti pancasila, menghancurkan NKRI dan beragam tuduhan yang tak mendasar lainnya. Hingga dicari-cari alasan untuk ‘membubarkan’ organisasinya.

    Bagi pengemban dakwah syariah dan khilafah, yang bukan hanya HTI, khilafah adalah janji Allah dan pasti akan tegak. Mereka yakin akan itu sehingga giat mendakwahkannya dengan resiko dianggap mengkhayal, bermimpi dan gila karena memperjuangkan khilafah sebagai sesuatu yang utopis.

    Namun anehnya meski dianggap utopis, para penentang khilafah melakukan berbagai macam cara untuk menghalang-halangi dakwah aktivis khilafah. Mereka mengancam, meneror bahkan mempersekusi berbagai kegiatan dan pengajian yang ada hubungannya dengan khilafah. Sebuah kontradiktif, menganggap utopis khilafah tetapi mau repot-repot menghalangi aktivitas dakwah khilafah.

    Para pengemban dakwah khilafah tak surut meski di hadang dengan berbagai ancaman, terror, persekusi, fitnahan, bahkan resiko kehilangan nyawa. Bagi mereka apa yang menjadi perintah Allah adalah yang utama. Keridhoan dari Allah saja yang menjadi tujuan mereka.

    Perjuangan Tak Berhenti Hingga Sampai Tujuan

    Perjuangan dakwah khilafah sebagai manifestasi menjemput janji Allah telah lama dilakukan oleh para pengembannya. Sejak ia dihapuskan melalui berbagai cara jahat dan licik kafir penjajah dan antek-anteknya di negeri-negeri Muslim. Kaum muslim yang sadar pentingnya khilafah sebagai pelindung dan perisai umat berjuang untuk mengembalikannya ke pangkuan umat.

    Perjuangan dakwah khilafah penuh dengan onak duri. Ianya menuntut pengorbanan yang luar biasa. Sebuah kelaziman bahwa tujuan besar pastilah memerlukan upaya yang besar dan sungguh-sungguh. Air mata, darah, rasa perih, sakit, terpenjara, cacian, makian, penghinaan, fitnahan, kehilangan harta, keluarga, orang-orang yang dicintai, tempat tinggal bernaung, bahkan nyawa, semua itu tak membuat gentar para pejuangnya. Keyakinan akan janji Allah menghilangkan segala cemas duniawi itu. Keridhoan Allah menjadi tujuan utama sekaligus bara api yang tak pernah padam menerangi jalan-jalan mereka para pengemban dakwah khilafah yang mukhlis.

    Kini, perjuangan dakwah khilafah semakin diterima umat. Khilafah semakin popular dimana-mana. Ia diperbincangkan oleh siapa saja, tak lagi menjadi dominasi kalangan tertentu. Bukan hanya para aktivis khilafah saja yang mendiskusikannya, tetapi semua orang dari berbagai kalangan dan profesi. Mulai dari pak kyai, ustadz, ulama kharismatik, dosen, pengacara, guru, dokter, pengusaha, seniman, mahasiswa, pelajar, santri, sopir angkot sampai pedagang kaki lima, semua membicarakannya.

    Khilafah tidak lagi hanya diserukan oleh aktivis dakwah yang selama ini getol memperjuangkannya di tengah masyarakat. Tetapi juga kelompok-kelompok umat yang meyakini janji Allah bahwa khilafah akan tegak kembali. Dan yang akan menghapus segala penderitaan akibat sistem kufur yang diterapkan selama ini. Kian banyak umat yang merindukannya dan bergabung dalam barisan para pejuang khilafah. Umat semakin sadar bahwa mereka membutuhkan suatu institusi yang mampu melindungi dan mengayomi mereka.

    Ia tak hanya diperbincangkan di dalam masjid saja, tetapi juga di rumah-rumah, sekolah, kampus, rumah sakit, hotel, kantor-kantor pemerintahan, pasar sampai di jalanan. Semua tempat tak luput dari membicarakannya. Bahkan media kini pun banyak membahasnya. Baik itu media cetak maupun elektronik. Koran, majalah, bulletin, televisi dari beragam chanel, semuanya sudah

    membincangkannya.

    Dakwah khilafah dilakukan di berbagai media dengan bermacam cara. Sepanjang tak menyimpang dari syariat, dakwah terus berjalan. Tak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Di era dimana internet menjadi sangat lekat dengan dunia manusia, bahkan seolah menjadi kebutuhan pokok, pembahasan tentang khilafah juga semakin gencar. Setiap orang bisa dengan mudahnya mengakses informasi apapun tentang khilafah.

    Generasi milenial yang rekat dengan media sosial pun tak bisa lepas dari booming khilafah. Meski banyak sekali informasi bohong, keliru dan fitnah keji yang bertebaran di penjuru sudut dunia maya. Namun, ini bisa di-counter dengan penyebaran informasi yang benar dari para pejuang dakwah khilafah di dunia nyata maupun di dunia maya.

    Lazimnya pohon yang semakin tinggi, maka angin yang menerpa juga kian kencang. Dakwah khilafah juga semakin mendapatkan pertentangan yang kian nyata. Khilafah tidak hanya disebut-sebut dengan penuh pengharapan dan keyakinan akan kemuliaannya. Tetapi ia juga disebut, dibahas, ditelisik secara mendalam siang-malam oleh para penentangnya dengan hati penuh kedengkian dan kebusukan untuk dicari-cari kesalahannya. Agar umat membencinya dan tak mengharapkannya kembali. Barisan penentang ini tak henti-hentinya menciptakan makar untuk menghalangi dakwah khilafah. Mengkriminalisasi khilafah, bahkan membuatnya menjadi seperti monster yang mengerikan dan mengancam peradaban manusia. Bermacam cara diterapkan agar khilafah mendapatkan citra yang buruk.

    Namun apa daya, justru melalui makar licik mereka, umat semakin mengenal dan merindukan khilafah. Sungguh, Allah Maha Pembuat Makar. Upaya musuh-musuh untuk membungkam dakwah khilafah malah membuatnya semakin membahana. Bahasan tentang khilafah bukan lagi terlontar dari para aktivisnya, tetapi sudah meluas di tengah-tengah umat. Meski para pembenci itu terus berupaya menjelekkan, memfitnah, bahkan mengkriminalisasi khilafah, namun umat semakin sadar dan paham. Sehingga mereka tak memakan mentah-mentah setiap propaganda jahat tentang khilafah.

    Khilafah Adalah Janji Allah

    Khilafah yang juga merupakan kabar gembira Rasulullah, sang Uswah terbaik adalah penyemangat dan pelipur lara mereka di jalan dakwahNya.

     “Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

    Hadits ini menjadi salah satu sumber kekuatan para pengemban dakwah syariah dan khilafah untuk memperjuangkannya. Hadits ini menunjukkan adanya janji Allah bahwa khilafah yang tegak atas manhaj kenabian akan berdiri kembali. Kiranya bagi muslim yang yakin pada janji Allah pasti akan berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkannya, terlepas besar atau kecil upayanya, pasti akan tercatat olehNya. Sementara bagi yang diam dan tak turut serta dalam perjuangan penegakan khilafah, Allah Maha Adil atasnya. Apalagi bagi yang menolak, menentang, dan meghalang-halangi dakwah khilafah, sungguh Allah akan mengganjar dengan balasan yang setimpal.

    Adalah suatu kesia-siaan menghalangi apa yang sudah menjadi janji Allah. Janji Allah adalah pasti. Bukan utopis atau khayalan. Dan sangat wajar jika muslim meyakini dan berupaya mewujudkannya. Mendapatkan keridhoanNya, baik di dunia dan akhirat. Itulah motivasi terbesar mukmin yang memperjuangkan tegaknya kembali khilafah. Khilafah yang berdiri sesuai manhaj kenabian, seperti yang dikabarkan Rasulullah Muhammad SAW, bukan karangan pengembannya. Bukan pula proyek ambisius para aktivis dakwah khilafah seperti yang dituduhkan oleh para pembencinya selama ini.

    Hari-hari ke depan akan semakin bergaung topik khilafah. Ia akan semakin diperbincangkan di tengah mereka yang merindukannya dan mereka yang berupaya menghadang jalannya. Umat akan terus melihat dan mengikuti secara alami mana yang sungguh-sungguh dengan kebenaran dan mana yang bermain dengan kedustaan. Kemudian bergerak bersama-sama dengan spirit Illahi menuju satu titik yang sama. Hingga Allah izinkan fajar kemenangan khilafah menyinari seluruh penjuru bumi. Membawa rahmat bagi alam semesta, manusia dan seluruh kehidupan yang ada. Mengobati segala luka dan menghentikan setiap penderitaan akibat sistem rusak yang selama ini membelenggu manusia. Berganti dengan kebahagiaan dan kemuliaan di bawah naungan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.  Wallahu ‘alam bish-showab. []

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.