TINGGINYA PERCERAIAN BUAH SISTEM SEKULAR

16

Oleh : Miya Ummu Akmal (Pendidik dan pemerhati masalah public)

Semua orang pastinya menginginkan keluarganya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Sebelum menikah pasti tidak pernah terbersit sedikit pun di benak seseorang rumah tangganya akan retak di tengah jalan. Tapi fenomena saat ini perceraian kian marak terjadi. Belum genap sebulan saja, ratusan istri di Gresik melayangkan gugatan cerai suaminya. Berdasarkan data Pengadilan Agama Negeri Gresik per jumat (17/01/2020), ada 419 perkara yang diterima. (www.tribunnews.com, 20/01/2020).

Sepanjang tahun 2019, kaum perempuan di Kabupaten Gresik juga ramai-ramai menggugat cerai suaminya, dengan jumlah total 2149 wanita yang  telah resmi menyandang status janda. Ironisnya, mereka rata-rata berusia 20-30 tahun(www.radarsurabaya.jawapos.com, 19/01/2020)

Sedangkan di Lamongan, berdasar data Pengadilan Lamongan Jatim selama tahun 2019 kemarin telah menangani permohonan perceraian sebanyak 3113 kasus. Belum genap sebulan di januari 2020 juga sudah masuk 300 lebih kasus perceraian yang sudah diproses di pengadilan tersebut.(www.jpnn.com,23/01/2020).

Factor Penyebab Perceraian

Ada banyak penyebab perceraian itu terjadi, diantaranya: Pertama. Factor Ekonomi. karena lapangan pekerjaan yang semakin sempit, banyak PHK dimana-mana, harga kebutuhan pokok dan yang lainya juga semakin mahal, belum lagi tarif BPJS dinaikkan, biaya  pendidikan juga mahal dan aneka kebutuhan yang lain juga tidak semakin murah. Dampaknya banyak rumah tangga koleps karena faktor ekonomi ini.

Berdasar data perceraian di pengadilan agama (PA) GRESIK, masalah utama dari perceraian adalah factor ekonomi dengan angka mencapai 1083.(www.tribunnews.com, 20/01/2020).

Kedua. Factor Perselingkuhan. Dalam system sekuler liberalis  ini perselingkuhan juga marak terjadi. hal itu tak lepas dari system secular yang diterapkan di negeri ini (dijauhkannya agama dari kehidupan). pergaulan laki-laki dan perempuan tidak ada batasan. manusia bebas berekspresi dengan dandanan dan busananya yang disukai. Apa lagi ditunjang dengan gaya hidup yang serba materialistis dan hedonis. Masyarakat  termasuk wanita menjadikan tolak ukur dari kebahagiaan adalah materi. Apalagi tanpa pondasi agama, manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Akhirnya banyak wanita mengumbar auratnya, para suami banyak yang terpikat dengan wanita lain yang dianggap lebih “cantik” dari sisi fisiknya. Alhasil perselingkuhan, pertengkaran, KDRT(kekerasan dalam rumah tangga) pun terjadi dan perceraian menjadi  jalan keluarnya. 

Ketiga. Factor Social Media. Di era digital saat ini Media social sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Mereka  pun  banyak menghabiskan waktu  untuk mengaksesnya.  Alhasil banyak orang tua melalaikan anaknya, para suami/istri jarang berkomunikasi  karena sibuk chatting via  medsos. Pasangan lebih enjoy berkomunikasi dengan lawan jenisnya di dunia maya.  Akhirnya perselingkuhan pun bisa terjadi lewat media social ini dan  rumah tangga pun  menjadi retak.

Humas Pengadilan Agama Lamongan, Sholihin, Senin (26/3/2018), mengatakan fenomena kecanggihan teknologi yang direpresentasikan dengan banyaknya sosial media (sosmed) diduga menjadi pemicu tingginya perselingkuhan yang berujung pada perceraian.

Semua itu berawal dari komunikasi intens dengan memanfaatkan kecanggihan ponsel. Dari obrolan sederhana melalui sosmed atau aplikasi percakapan di gadget, oknum pasangan suami-istri kemudian berbuat lebih jauh hingga akhirnya ketahuan pasangannya dan bercerai.

Keempat. Factor System. factor ini merupakan factor yang lebih dominan dari kesemua factor tersebut diatas. karena penerapan system secular kapitalis, maka perceraian sangat mudah terjadi di negeri ini. system secular (menjauhkan agama dari kehidupan) dan kapitalis (yang menang yang punya modal/uang banyak) maka kondisi perekonomian menjadi koleps seperti ini. PHK banyak terjadi dan kondisi ekonomi semakin mencekik. uang seperti tidak ada harganya. dalam system kapitalis segala sesuatu yang bernilai ekonomis pasti akan diambil tanpa memandang halal atau haram.  aturan agama yang mengatur selain ibadah ritual pun dikesampingkan dan berusaha dijauhkan dari kehidupan kita . alhasil dalam berperilaku, berpakaian, bergaul tidak menggunakan hokum-hukum islam. akibatnya perselingkuhan pun biasa terjadi dan rumah tangga pun banyak yang gagal di tengah jalan.

Untuk menanggulangi terjadinya perceraian dalam sebuah keluarga, perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama. Penguatan keimanan dan ketakwaan diantara suami istri dan anggota masyarakat. Dengan keimanan yang menancap kuat dalam diri, maka pasangan suami istri akan senantiasa paham hidup itu hanya Dalam Rangka Meraih Ridlo Allah Semata. Keduanya Akan Senantiasa Paham Bahwa Kebahagiaan itu bukan diukur dari materi  tapi dari ridho Allah. standar dalam berbuat pun adalah halal haram bukan kemanfaatan. jika pemahaman seperti ini menancap dalam diri setiap insan maka rumah tangga akan senantiasa harmonis dan sakinah mawaddah warahmah.

Tiap individu dan masing-masing pasangan akan senantiasa terikat dengan hokum-hukumnya Allah termasuk dalam berbusana,berinteraksi dengan lawan jenis dan lainnya. Mereka akan sama-sama faham bahwasanya berinteraksi dengan lawan jenis itu ada batasan dan aturannya, termasuk di dunia maya.

Menurut hukum islam, berinteraksi dengan lawan jenis itu hukumnya asalanya mubah(boleh) asalkan ada hajjah(kebutuhan) termasuk ketika interaksi  di dunia maya. seperti Chatting pribadi via sosmed.  Oleh karenanya interaksi dengan lawan jenis itu perlu dibatasi, hanya jika ada keperluan saja.

jika semuanya faham tentang hokum interaksi dengan lawan jenis ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari maka tidak akan ada rumah tangga yang gagal di tengah jalan karena factor perselingkuhan.

Kedua. Perlu ada pembekalan pada remaja utamanya orang yang akan menikah tentang gambaran rumah tangga beserta tugas dan kewajiban masing-masing pihak. Suami istri harus saling memahami dan  melaksanakan tugas serta kewajibannya dalam rumahtangga sebagaimana yang telah diatur oleh syara’. Terkadang suami atau istri berpaling ke yang lain itu karena dipicu oleh salah satu pasangannya yang tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik.

Ketiga. Perlu terjalin komunikasi yang baik diantara suami dan istri.

Pasangan yang kurang perhatian dari pasangannya itu juga bisa menjadi salah satu factor perselingkuhan. Karena teman di sosmed lebih perhatian daripada pasangannya sendiri di rumah.

Keempat. Perlu control dari masyarakat untuk saling mengingatkan jika terjadi perselingkuhan. Sehingga perceraian bisa diminimalisir.

Kelima. Peran Negara sangatlah penting, karena memiliki kuasa untuk menerapkan system yang shahih ataukah tidak. Dengan penerapan system shahih yang bersumber dari sang pencipta jagad raya (Allah) maka kondisi perekonomian akan menjadi baik dan selalu stabil, interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan pun akan senantiasa terjaga dan Negara pun punya wewenang untuk memberikan sanksi ketika ada yang tidak sesuai dengan hokum yang diterapkan Negara.

Negara harus  memberikan lapangan pekerjaan kepada para suami yang memadai sehingga tidak ada suami yang menganggur, perempuan diwajibkan untuk menutup auratnya bagi yang muslim, satpol PP juga bisa merazia pasangan2 yang bukan suami istri ataupun yang membuka auratnya.

Negeri kita tercinta ini bisa dikatakan mengalami darurat  perceraian. Karena jumlahnya  sungguh sangat fantastis. Tidak semakin menurun tapi semakin meningkat tiap tahunnya. Dampaknya pun sangat besar untuk ketahanan negeri ini. Bayangkan jika perceraian terjadi maka anak akan terkena dampak negatifnya. Tumbuh kembang anak juga akan terganggu. Sedikit banyak pasti akan ada efek negatifnya. Anak dari keluarga broken home pasti akan berbeda dengan anak dari keluarga yang harmonis. Masalah social banyak  yang terjadi di tengah masyarakat, salah satu penyebabnya adalah karena factor broken home. Misal free sex (pergaulan bebas),narkoba, miras, tindak kriminal dan lainnya. Oleh karenanya agar perceraian ini tidak semakin meningkat di negeri ini maka butuh penerapan system baik (shahih) yang bersumber pada sang pencipta jagad raya(Allah). itulah system islam. karena sang pencipta pastinya yang paling tahu aturan terbaik untuk ciptaanNya.

Memang perceraian itu sebuah kemubahan (boleh), akan tetapi Allah sebagai pencipta sangat membencinya. Dengan menerapkan kelima hal tersebut, niscaya perceraian akan bisa diminimalisir. Sehingga setiap keluarga akan bisa langgeng, sakinah mawaddah warohmah. Wallaahu a’lam bi asshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.