Tanggapan atas Larangan Mencontoh Negara pada Zaman Nabi Muhammad SAW.

21

Oleh Risqia Rahmi, Ibu Rumah Tangga

     Pada sebuah acara yang melibatkan ulama dan umaro di Pekalongan, Jateng(7/12/20), Mahfud MD mengatakan bahwa Indonesia secara substansial meniru negara yang di bangun Rosulullah, dengan pernyataan ini umat makin merasa bahwa rezim dilanda Islamophobia akut bahkan indikasi positif terpapar sekulerisme radikal, walaupun beliau pernah mengumpulkan berbagai ormas untuk mangajak menghilangkan persepsi tentang Islamophobia.

      Sangat di sayangkan, Mahfud justru gagal menunaikan pesan sebagai duta untuk menepis tuduhan Islamophobia yang terlanjur melekat pada rezim yang saat ini sangat mengkriminalisasikan ajaran Islam(Khilafah). Hingga pemerintah berkeinginan menghilangkan pembahasan Khilafah dalam buku pelajaran. Tetapi justru diskursus tentang Khilafah ini justru kian menarik perhatian dan simpati umat. Secara fiqih maupun historis Negara Rosululloh (Khilafah) memiliki regulasi yang mampu dijalankan manusia, terbukti ada kepemimpinan dari para Khulafaur Rasyidin.

      Bisa jadi kepanikan rezim menjadikan Mahfud berani mengeluarkan pernyataan tentang keharaman meniru sistem pemerintahan Rosululloh SAW, dari pernyataan ini seharusnya seorang hamba tidak mempunyai hak untuk menentukan halal haram hanya Allah SWT yang berhak memberikan keputusan hukum atas perbuatan manusia, seperti dalam firman  Allah Qur’an Surah Yusuf ayat 40 yg kutipan artinya : “Keputusan itu hanya milik Allah, Dia tidak memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”.

Dan Allah juga menegaskannya dalam Qur’an Surah Al Maidah ayat 50 “Bahwa Allah adalah hakim yang paling baik dan berhak menetapkan  hukum yang berlaku bagi manusia”.

      Barat kuffar, rezim dunia Islam dan kroni- kroninya saat ini sudah kalang kabut dalam membendung ghiroh umat menyongsong bisyaroh Rasululloh SAW yaitu tegaknya Khilafah kedua ini. Manuver politik mereka berantakan tak sanggup menutupi kebenaran yang sedikit demi sedikit mulai terbuka.

      Intinya adalah sabar dan ikhlas dalam menjalani proses dan konsisten dalam memperjuangkan janji Allah SWT adalah kebahagiaan bagi para pengemban dakwah. Dan mencontoh / ittiba semua perilaku Rosul termasuk dalam bentuk negara Islam adalah bukti sempurnanya iman setiap muslim.

Khilafah adalah isim syar’i [istilah syariah]. Artinya, Khilafah ini bukan istilah buatan manusia, karena istilah ini pertama kali digunakan dalam nash syariah dengan konotasi yang khas, berbeda dengan makna yang dikenal oleh orang Arab sebelumnya. Sebagaimana kata Shalat, Hajj, Zakat, dan sebagainya. [Lihat, al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Juz I/27-28]

Istilah Khilafah, dengan konotasi syara’ ini digunakan dalam hadits Nabi saw. sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal:

(تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ) [رواه أحمد]

“Ada era kenabian di antara kalian, dengan izin Allah akan tetap ada, kemudian ia akan diangkat oleh Allah, jika Allah berkehendak untuk mengangkatnya. Setelah itu, akan ada era Khilafah yang mengikuti Manhaj Kenabian.” [Hr. Ahmad]

Ini juga bukan merupakan satu-satunya riwayat, karena masih banyak riwayat lain, yang menggunakan kata Khilafah, dengan konotasi syara’ seperti ini. Lihat, Musnad al-Bazzar, hadits no 1282. Musnad Ahmad, hadits no 2091 dan 20913. Sunan Abu Dawud, hadits no 4028. Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 2152. Al-Mustadrak, hadits no. 4438.

Adapun pemangkunya disebut Khalifah, jamaknya, Khulafa’. Ini juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Antara lain dalam hadits Abu Hurairah ra.

(كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَ بَعْدِيْ، وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ) [رواه مسلم]

“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” [Hr. Muslim]

Tidak hanya di dalam hadits ini, tetapi juga banyak hadits lain yang menggunakan istilah Khalifah [jamaknya, Khulafa’]. Lihat, Shahih Bukhari, hadits no. 6682. Shahih Muslim, hadits no. 3393, 3394, 3395, 3396, 3397 dan 3398. Sunan Abu Dawud, hadits no. 3731 dan 3732. Musnad Ahmad, hadits no. 3394, 19901, 19907, 19943, 19963, 19987, 19997, 20019, 20032, 20041, , 20054, 20103 dan 20137. Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 2149 dan 4194.

Karena itu, istilah Khilafah dan Khalifah, jamaknya Khulafa’, adalah istilah syariah, yang memang digunakan dalam nash syariah, bersumber dari wahyu. Bukan buatan manusia, baik generasi sahabat, tabiin, atba’ tabiin maupun para ulama’ setelahnya. Istilah ini kemudian diadopsi para ulama’ ushuluddin [akidah], fikih dan tsaqafah Islam yang lainnya dengan konotasi sebagaimana yang dimaksud oleh hadits Nabi di atas. (Muslimahnews.com)

Maka dari itu, siapapun kita—pegawai negeri atau swasta, pejabat, polisi, tentara, pengusaha, intelektual, buruh, mahasiswa, pelajar atau rakyat biasa—harus bersama-sama berjuang menegakkan syariah Islam dan Khilafah ar-Rasyidah. Kita semua harus bersungguh-sungguh dan istiqamah memperjuangkan perkara yang sangat penting ini. Tegaknya Khilafah ar-Rasyidah akan menjamin penerapan syariah Islam yang akan menyebarkan rahmatan lil ‘alamin serta akan mewujudkan kemuliaan Islam dan umatnya (‘izzul Islam wal Muslimin).

] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ [

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (TQS al-Anfal [8]: 24).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.