Tak Mau Aktif Berdakwah Karena Perbaiki Diri & Keluarga? 

268

Mediasiar.com – Banyak alasan ketika tidak ada kemauan untuk melakukan sesuatu, termasuk dakwah. Ada orang yang ketika diajak untuk mendakwahkan Syariah Islam yang kaffah,  namun mereka menolak secara halus dengan menyatakan dakwahkan dahulu untuk diri masing-masing dan keluarga kita, kemudian untuk orang lain.

Bahkan ia menyampaikan ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. Al-Tahrîm [66]: 6)

Berikut ini penjelasan Ustadz Irfan Abu Naveed al-Atsari Penulis buku kajian tafsir & balaghah “Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah”.

Pertama, Ayat yang agung ini bukan dalil untuk menolak ajakan dakwah Islam dari orang lain, terlebih tidak benar jika ia dijadikan dalil untuk tidak berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. Al-Tahrîm [66]: 6)

Al-Hâfizh Ibn al-Jauzi (w. 597 H) ketika menafsirkan kalimat ayat (قوا أنفسكم وأهليكم ناراً) menjelaskan bahwa yang dimaksud menjaga diri (wiqâyat al-nafs) adalah dengan melaksanakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan (sesuai tuntunan syari’at Islam), adapun menjaga keluarga (wiqâyat al-ahl), dimana di antara tanggung jawab utama orang tua adalah mendidik anak-anaknya; yakni dengan memerintahkan mereka kepada keta’atan dan melarang mereka dari kemaksiatan.[1]

Sampai di sini, kita tidak menemukan alasan untuk mengabaikan upaya mendakwahi masyarakat luas, terlebih bertolak belakang dengan apa yang diamalkan oleh generasi terbaik umat ini. Prinsip yang dicontohkan oleh sebaik-baiknya teladan, al-Mushthafa Muhammad Rasulullah ﷺ adalah:

Beliau ﷺ mendakwahi keluarganya, disamping mendakwahi masyarakat luas, hingga kita saksikan ada dari keluarga beliau ﷺ sendiri, dari Bani Hasyim, Suku Quraisyi yang menolak dakwah dan memilih memusuhi beliau ﷺ dan kutlah dakwahnya, lantas apakah  hal itu menjadikan beliau ﷺ tidak mendakwahi masyarakat? Begitu pula keteladanan salafuna al-shalih dari jajaran sahabat yang berhadap-hadapan dengan keluarganya yang memusuhi dakwah Islam. Kalau sekiranya pemahaman ”fokus mendakwahkan keluarga dahulu (abai mendakwahi masyarakat)” dibenarkan, niscaya Islam takkan sampai ke bumi Nusantara, tapi bi fadhliLlahi Ta’ala, Allah memberikan taufik-Nya, beliau ﷺ dan para sahabat.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Kedua, Benar dakwahi dahulu diri sendiri dan keluarga, namun jangan lupakan masyarakat, karena dakwah kepada semua kalangan bisa dilakukan beriringan, keberhasilan mendakwahi keluarga bukan syarat penentu dakwah di masyarakat, maka mendakwahi keluarga tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mendakwahi masyarakat. Seiring sejalan kita memperbaiki diri, kita pun wajib memperbaiki keluarga dan masyarakat secara bersamaan, tetap diupayakan. Terlebih keluarga adalah bagian dari masyarakat itu sendiri, rusaknya masyarakat (perhatikan definisi masyarakat) bisa berdampak pada keluarga dan individu pula.

Islam sangat memperhatikan baiknya individu maupun masyarakat, keduanya tak bisa dipisahkan, didasari oleh banyaknya dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat (tak dibatasi pada ruang lingkup keluarga), sedikit di antaranya:

وَالْعَصْرِ {١} إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ {٢} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {}٣

“Dan demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

Syaikh Dr. Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi (w. 1418 H) menguraikan bahwa surat ini menjelaskan perkara akidah dan tuntutannya, yakni iman (pembenaran yang pasti) dan amal shalih. Setelah itu Allah berfirman: (تواصوا) Allah tidak mengatakan (ووصوا), apa makna kata (تواصوا)? Yakni agar setiap orang beriman mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari orang lain, begitu pula saudara seimannya yang lain, terkadang di antara keduanya yang lemah terhadap suatu kemaksiatan sehingga ia melakukannya, akan tetapi yang lainnya tidak lemah terhadap kemaksiatan tersebut, maka dari itu orang yang tidak lemah tersebut sudah semestinya menasihati orang yang lemah (agar menjauhi kemaksiatan tersebut-pen.).[2]

Rasulullah ﷺ bersabda:

«انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا»

Tolonglah saudaramu baik ia orang yang zhalim atau orang yang dizhalimi”

Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah  aku akan menolong seseorang jika ia dizhalimi, lalu bagaimana jika ia adalah orang yang menzhalimi, bagaimana aku menolongnya?” Rasulullah ﷺ menjawab:

«تَحْجُزُهُ أو تَمْنَعُه مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ»

Cegah ia, larang ia dari kezhaliman maka hal itu sesungguhnya pertolongan baginya.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad)[3]

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), sebagaimana dinukil al-Baihaqi menjelaskan makna hadits ini bahwa orang yang zhalim itu adalah pihak yang dizhalimi oleh dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah ’Azza wa Jalla: {وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ}[4] sebagaimana seseorang sudah semestinya menolong orang yang dizhalimi jika ia bukan orang yang zhalim itu sendiri untuk mencegah kezhaliman menimpanya, begitu pula seseorang sudah semestinya menolong orang lain jika ia adalah orang yang zhalim itu sendiri untuk mencegah kezhaliman tersebut menimpa dirinya sendiri. Dan sesungguhnya Islam memerintahkan setiap individu muslim untuk menolong saudaranya yang muslim jika ia melihat saudaranya berbuat zhalim.[5]

Perbuatan terpuji saling menasihati, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran pun merupakan pengamalan terhadap hadits Nabi ﷺ yang lainnya, hadits dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus al-Dâri r.a. bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ»

“Agama itu adalah nasihat”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi ﷺ bersabda:

لِلّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَتِهِمْ

Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya. (HR. Muslim)[6]

Apa maknanya? Al-Hafizh Ibn Daqîq al-‘Iid (w. 702 H) menjelaskan bahwa makna sabda Rasulullah ﷺ: “Agama itu adalah nasihat” yakni tiang agama dan pondasinya adalah al-nashîhah.[7] Ibn Daqîq al-‘Iid pun menjelaskan bahwa lafal al-nashîhah secara bahasa: al-ikhlâsh (kemurnian), dikatakan: nashahtu al-‘asala (saya telah memurnikan madu) jika menyucikannya, dan dikatakan pula makna selainnya.[8]

Apa makna al-nashihah li ‘amatihim? Dijelaskan Ibn Daqîq al-‘Iid yang menukil pernyataan Imam al-Khaththabi (w. 388 H) dan para ulama lainnya:

Adapun nasihat untuk kaum muslimin pada umumnya –selain para penguasa-, yakni dengan menunjuki mereka kepada kemaslahatan diri di akhirat dan di dunia, menolong mereka untuk mewujudkannya, menasihati agar mereka menutupi ‘auratnya, menutupi ‘aib mereka, menyingkirkan bahaya dari mereka dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan bagi mereka, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dengan cara yang lembut dan niat ikhlas, mengasihi mereka, menghormati orang tua dan mengasihi yang kecil di antara mereka, memikat hati mereka dengan nasihat yang baik serta menjauhi sifat culas dan dengki, mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci keburukan terjadi pada mereka sebagaimana ia benci jika hal itu terjadi padanya, membela harta, kehormatan dan lain sebagainya yang menjadi hak mereka dengan perkataan dan perbuatan dan  mendorong mereka untuk bertingkahlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan dari beragam nasihat ini. WaLlâhu A’lam.[9]

Bahkan Rasulullah ﷺ mengumpamakan dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar sebagai bagian dari sikap simpatik menjaga diri dan orang lain dari kebinasaan. Hadits dari al-Nu’man bin Basyir dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:

«مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ تَعَالَى وَالرَّاتِعِ فِيهَا وَالْمُدَّهِنِ فِيهَا مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا وَأَوْعَرَهَا وَإِذَا الَّذِينَ أَسْفَلَهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى أَصْحَابِهِمْ فَآذَوْهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا فَاسْتَقَيْنَا مِنْهُ وَلَمْ نَمُرَّ عَلَى أَصْحَابِنَا فَنُؤْذِيَهُمْ فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا جَمِيعًا»

“Perumpamaan orang-orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allâh  dan orang-orang yang terjerumus di dalam perkara yang haram, adalah seperti sekelompok orang yang membagi tempat di atas perahu. Sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas, dan sebagian lain ada yang memperoleh tempat di bawah dan berbahaya. Jika orang-orang yang berada di bahwa membutuhkan air minum, maka mereka harus naik ke atas melewati sahabat-sahabatnya yang berada di atas hingga membuat mereka susah. Maka mereka orang-orang yang berada di bawah berkata, ‘Lebih baik kami melubangi tempat di bagian kita ini, hingga kita tidak melewati dan mengganggu kawan-kawan di atas.’ Maka jika mereka yang berada di atas membiarkan kawan-kawan mereka yang di bawah dan apa yang mereka inginkan, pasti mereka semua akan binasa, jika mereka mencegahnya maka semuanya akan selamat.” (HR. Al-Bukhari, al-Tirmidzi, Ahmad, al-Bazzar dan Ibn Hibban)[10]

Hadits yang agung ini, dinukil pula oleh al-‘Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1396 H) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, ketika menguraikan kedudukan Islam yang menjaga individu dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, yakni dengan adanya kewajiban menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.

Ketiga, Saya pribadi ragu, mereka yang menggunakan ayat ini untuk menolak seruan berdakwah, atau menolak bergabung bersama barisan dakwah untuk mendakwahi masyarakat, dengan alasan mendakwahi diri sendiri dahulu dan keluarga, benar-benar menempatkan dirinya dalam posisi memperbaiki diri dan mendakwahi keluarganya. Yang patut dikhawatirkan, sebenarnya tidak berdakwah, tidak benar-benar berdakwah, atau malas berdakwah, namun ia menutupi aib ini dengan menggunakan ayat yang mulia untuk ditempatkan sesuai hawa nafsunya, atau benar-benar tak paham karena dikelabui oleh syaithan yang berjanji menyesatkan manusia:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: Ya Rabb-ku, demi sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan buruk) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 39)

Padahal ajakan untuk bergabung dalam barisan dakwah, atau ajakan untuk mendakwahkan syari’at Islam kaffah secara berjama’ah, hakikatnya adalah upaya untuk memperbaiki diri sendiri, dengan mengikuti pembinaan ke-Islaman, dan belajar langsung ilmu dan adab berdakwah, dengan melibatkan diri aktif dalam aktivitas dakwah secara berjama’ah. Dimana salah satu tugas dakwah yang diajarkan dalam jama’ah pun adalah memperbaiki diri dan mendakwahi keluarga.

Pertanyaannya, mereka yang mengaku fokus memperbaiki diri sendiri dan keluarga tersebut, apakah benar-benar sudah memiliki basis keilmuan yang mapan? Tak membutuhkan pembinaan?

Sudah memahami seluk-beluk dakwah? Adab, prinsip-prinsip (dhawabith) dan kaidah-kaidahnya? Kalau tidak, lalu apa yang akan ia dakwahkan kepada keluarganya? Dengan cara bagaimana? Maka terang benderang, alasan menolak aktif berdakwah dengan alasan fokus memperbaiki diri sendiri dan keluarga bukan alasan syar’i, dan bisa jadi kontraproduktif terhadap dakwah itu sendiri. Pola pikir seperti ini wajib diperbaiki, dikembalikan kepada pemahaman yang benar sesuai taujih al-Qur’an dan al-Sunnah, dengan keteladanan Rasulullah ﷺ. []

 

[1] Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jawzi, Zâd al-Muyassar fî ’Ilm al-Tafsîr, Beirut: Dâr al-Kitâb al-Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid IV, hlm. 310.

[2] Prof. Dr. Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsîr al-Sya’rawi, Kairo: Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyyah Jâmi’atul Azhar al-Syarîf, jilid III, hlm. 1.665.

[3] HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya (VI/2550, hadits 6552). Dalam riwayat lainnya yang hampir serupa dari jalur lainnya diriwayatkan: al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/523, hadits 2255) dan ia berkata: “Hadits hasan shahih”; Ahmad dalam Musnad-nya (XIX/14, hadits 11.949); Ibn Hibban dalam Shahiih-nya (XI/572, hadits 5168) Syu’aib al-Arna’uth: “Sanadnya shahih, para perawinya tsiqah yakni para perawi syaikhain (al-Bukhari & Muslim)”; dan lain-lain.

[4] Arti dari ayat lengkapnya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(TQS. Al-Nisâ’ [4]: 110)

[5] Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Cet. I, 1410 H/1989, juz VI, hlm. 101.

[6] Menurut Dr. Muhammad Yusri, hadits dari Abi Ruqayyah Tamim r.a. ini hadits paling shahih dalam bab ini dengan lafazh tersebut, lihat: Dr. Abu ‘Abdullah Muhammad Yusri, Al-Jâmi’ Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Kairo: Dâr al-Yusr, Cet. III, 1430 H.

[7] Ibn Daqiiq al-‘Iid, Syarh Al-Arba’iin an-Nawawiyyah, Makkah: al-Maktabah al-Fayshaliyyah, hlm. 32.

[8] Ibid, hlm. 34.

[9] Ibid.

[10] HR. Al-Bukhari dalam Shahîhnya (no. 2361); al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2173), Abu Isa mengomentari: “Hadits hasan shahîh.”; Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18387), Syaikh Syu’aib al-Arna’uth mengomentari: “Sanadnya shahîh sesuai syarat syaikhain (al-Bukhari dan Muslim).”; al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 3298); Ibn Hibban dalam Shahîhnya (no. 297).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.