Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

19

Oleh : Netty Susilowati, SPd (Kepala Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Malang tingkat dasar)

عن ابيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Begitu agung posisi ibu dalam Islam, sehingga Rasulullah menyebutnya sampai tiga kali. Karena ibu adalah orang yang pertama kali berinteraksi dengan anak. Ibu jugalah yang lebih memahami  tumbuh kembang anak. Ibu adalah orang  yang paling tulus, ikhlas dan penuh pengorbanan. Sejak mengandung selama 9 bulan, meski payah, ibu tidak pernah menyesal  atau marah. Melahirkan meski sakitnya luar biasa tetapi tidak pernah mengeluh, bahkan tangis bahagianya menyertai janin keluar dari kandungannya. Menyusui, lelah, begadang dia lakukan. Bahkan bagaimana caranya bisa memberika ASI eksklusif kepada anaknya hingga berusaha semaksimal mungkin. Makan sayur, minum ASI booster yang mungkin tidak disukainya. Tetapi mau dilakukannya hanya untuk anaknya. Bagaimana lelahnya ibu ketika merawat, mendidik, membesarkan , sungguh tidak ada yang bisa membalas, menghargainya dengan kemewahan ataupun dolar. Sangat tepat ketika  Allah memerintahkan kepada anak  dengan seruan :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Rasulullah pun dalam sebuah haditsnya menyatakan bahwa surga ada dibawah kedua kaki ibu. Sebagaimana dikeluarkan oleh Imam an-Nasâ-i (6/11), al-Hâkim (2/114 dan 4/167) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (2/289), dengan sanad mereka dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami Radhiyallahu anhu  datang kepada Nabi Muhammad  dan berkata:

Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla ) dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”

Hanya saja, hari ini, naluri keibuan itu semakin luntur. Tergerus kerasnya kapitalisme mencengkeram kehidupan ibu. Hingga sepertinya ibu sudah tidak punya hati. Membunuh buah hati dengan keji. Digelonggong air hingga ananda merenggang nyawa. Konon, hal ini dilakukan karena khawatir, takut akan diceraikan suami jika anaknya tetap kurus. Bagaimana mungkin bisa menggemukkan anak, jika sesuap makan pun  kadang ada kadang tiada. Ibu harus berjuang sendiri memenuhinya.

Sederet kisah yang sama banyak memenuhi layar memori. Entah karena sakit hati, frustasi, emosi, cemburu dan masih banyak lagi. semuanya berputar pada kondisi ibu yang tak apsti. Resah, gelisah, takut, cemas sendiri. Membayangkan bagaimana jika ditinggal suami? Bagaimana jika tidak bisa mendapatkan sesuap nasi? Bagaimana dan bagaimana lagi?

Ibu, ditengah arus kehidupan kapitalistik ini, di dorong untuk mandiri. Memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Hatta memilki seorang suami. Karena penghasilan suamipun tak cukup menopang seluruh keluarga. Lapangan pekerjaan yang tersedia lebih banyak menampung tenaga kerja wanita.  Di satu sisi, peran keibuannya tak bisa ditinggalkan. Hamil, melahirkan, menyusui, mengurus anak dan suami tetap harus dijalani. Lelahnya, capeknya, tak ada yang peduli. Yang ada hanya materi, materi dan materi. Ibu, inilah kondisi jauhnya dari Islam ideologi.

Ibu, dalam keagungan Islam, dirimu termulyakan. Nafkahmu ditanggung wali. Ada suami, ayah, kakak atau adik laki=laki. Jika semua tidak ada lagi, maka Negara harus turun tangan mencukupi. Hingga posisimu sebagai al umm warabbatul bayt tak terganti. Tetap focus pada menyiapkan generasi cemerlang pengisi peradaban mulia ini. Ibu, di masa kekhilafahan nanti, engkau tak mungkin sendiri. Sistem ekonominya kan mampu menompang kebutuhan keluarga dan buah hati. Sistem politiknya menjamin kebutuhan tercukupi. Dari kebutuhan asasi hingga kebutuhan pelengkap pribadi. Ibu, dengan Islam dan khilafahnya nanti, fitrahmu kan kembali.  Nalurimu akan terpenuhi. Surga kan kembali dibawah kakimu. Mari bersama berjuang untuk sistem Illahi ini. Islam dan khilafah ‘ala minhaj nubuwah. Semoga allah meridhai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.