Sungguh Kebinasaan Jika Praktik Aborsi Legal di Negeri ini

Oleh : Novi Alfi

Sungguh mengenaskan apa yang terjadi pada saat ini. Bagaimana tidak, tindakan aborsi merupakan tindakan legal bagi Menkes. Secara terang-terangan Menkes menyarankan praktik aborsi yang aman bagi kesehatan serta alasan lain yang seakan aborsi merupakan hal yang sah-sah saja.

Dilansir dari m.merdeka.com (21/2/2019), Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari menyatakan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan layanan berupa aborsi aman yang disahkan dan diperbolehkan peraturan perundang-undangan.

“Perlu proses, karena permasalahan tidak sederhana. Cakupan Indonesia juga sangat luas, tidak hanya Jakarta. Kami sedang menyiapkan peraturan yang lebih operasional. Untuk beberapa rumah sakit, terutama rumah sakit – rumah sakit pendidikan, sudah ada tim untuk melakukan aborsi aman terpadu, termasuk layanan konseling oleh psikolog dan psikiater,” kata Kirana, Kamis (21/2). (m.merdeka.com, 21/2/2019)

Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan bahwa meskipun undang-undang memberikan pengecualian dalam beberapa hal, namun aborsi merupakan salah satu pelanggaran hak anak. (m.merdeka.com, 21/2/2019) “Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan definisi anak sejak dalam kandungan. Aborsi, apa pun alasannya, merupakan pelanggaran hak anak,” kata Pribudiarta Selasa (19/2). (m.merdeka.com, 21/2/2019)

Sungguh kebinasaan bagi negeri ini jika aborsi mulai dilegalkan oleh pemerintah. Padahal aborsi merupakan pembunuhan yang seharusnya diharamkan, bukan malah difasilitasi. Apapun alasannya, pembunuhan berbungkus aborsi tetaplah tidak diperbolehkan. Tidak hanya mengambil hak anak untuk hidup seperti pernyataan Pribudiarta diatas. Akan tetapi juga pelanggaran dalam syariat Islam.

Maka jelas dalam hal ini, jika pemerintah melegalkan aborsi di negeri ini, sama saja dengan mempersilahkan perilaku zina dan membunuh janin yang tidak berdosa secara massal. Padahal seharusnya seorang penguasa adalah yang melindungi dan mengayomi masyarakatnya, dan berusaha menjauhkan masyarakatnya dari dosa besar. Justru aneh, jika penguasa mengajak masyarakatnya ke dalam dosa besar seperti membunuh (aborsi), zina dan sebagainya.

Karena dalam Islam, aborsi sama dengan pembunuhan. Walaupun dengan alasan menghilangkan trauma saat diperkosa, tetap sama saja dengan pembunuhan. Padahal Islam telah mengatur, cara mencegah zina, hamil diluar nikah, bahkan pelecehan dan pemerkosaan. Sehingga tidak akan ada yang namanya trauma karena pelecehan, zina, dan tidak akan ada yang namanya hamil diluar nikah. Semua keburukan ini terjadi sebab negeri ini enggan menerapkan aturan Islam secara keseluruhan dalam setiap peraturannya.

Jika telah terlanjur hamil disebabkan zina ataupun diperkosa, tetap tidak boleh dibunuh dalam Islam. Bahkan anak yang dilahirkannya tersebut akan dirawat dan dijaga, karena anak adalah anugerah dari Allah SWT. Anak yang dilahirkan tersebut tidak berdosa dan masih suci. Sedangkan yang bersalah adalah orang tuanya yang berzina.

Dalam Islam pun diatur hukuman yang berat bagi pelaku zina dan yang melakukan pelecehan terhadap wanita. Sesuai perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [An-Nur 24:2]

Para ulama menagatakan : “Ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Namun, sanksi diatas mustahil dilakukan dalam kondisi saat ini dimana sekulerisme dan liberalisme menjadi asas kebijakan yang diterapkan negara. Maka satu-satunya jalan menuju perubahan hakiki untuk melindungi wanita dari segala tindak pelecehan seksual dan dapat membuat kehidupan masyarakat lebih baik memang tidak lain harus menerapkan Islam secara kaffah di ranah negara. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.