Sukses Hingga Akhir Ramadhan

110

Oleh: Isti Shofiah, S.Pd (Pembina Kajian Muslimah Radio Rifana Kota Pasuruan)

Alhamdulillah kita telah berada dalam 10 hari kedua ramadhan, semoga Allah sampaikan kita pada 10 hari terakhir ramadhan. Bulan yang mulia dan penuh keberkahan. Namun, ramadhan kali ini masih banyak problem yang menimpa negeri ini, termasuk pasuruan sendiri mulai dari ekonomi, keamanan hingga menyentuh sendi sosial kemasyarakatan.

Pada awal ramadhan hingga saat ini kita di kagetkan dengan harga daging ayam dan telur yang terus merangkak naik, elpiji melon yang masih langka, hingga beras yang notabene adalah makanan pokok masyarakat indonesia, kini semakin mahal. Ditambah dengan adanya beras saschet yang hanya berisi 200 gram dengan harga yang lebih mahal. Yang katanya mensolusikan, tapi nyatanya semakin menyulitkan masyarakat untuk mendapat beras yang bagus dan murah.

Ramadhan yang seharusnya dijalankan dengan khusu’ dan tenang, nyatanya tidak pada kondisi saat ini. Kondisi dimana Kapitalisme-sekuler mengatur setiap sendi kehidupan. Sehingga ramadhan yang mulia sulit dirasakan keberkahannya di negeri khatulistiwa ini.

Kesempatan emas di bulan suci

Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, Rasulullah begitu serius pada 10 hari terakhir ramadhan. Tentu, kita umatnya pun menginginkan hal serupa.

“Siapa saja yang puasa ramadhan dengan landasan iman dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT, niscaya Dia mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad)

Ya, peran iman sangat penting dalam mendorong kita untuk melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi laranganNya. Terlebih di bulan ramadhan ini yang Allah janjikan diberikannya maghfirah/ampunanNya bagi hambaNya yang puasa semata-mata karenaNya hingga sukses meraih gelar muttaqin (orang-orang yang bertakwa).

Orang-orang yang bertakwa akan senantiasa menjalankan segala macam aktivitasnya di dunia didasarkan pada syariat Islam. Karena begitulah seharusnya seorang muslim.

Kesempatan bertemu dengan bulan suci merupakan kesempatan emas yang Allah berikan kepada hambaNya. Untuk itu, kesempatan ini harus kita optimalkan dalam meraih ridhoNya dengan memberikan amalan-amalan terbaik di sisiNya.

Di akhir ramadhan ini bisa kita optimalkan amalan-amalan ibadah kita. Ibadah tidak hanya seputar shalat, puasa, zakat dan haji. Akan tetapi membaca alquran, menuntut ilmu, berbakti kepada orangtua, berdakwah juga merupakan amalan ibadah.

Di alam kapitalisme-sekuler, memang ibadah disempitkan maknanya hanya seputar rukun Islam saja. Sehingga wajar kita dapati banyak kaum muslimin melakukan pemisahan aturan dalam berbagai aspek kehidupan dari aturan-aturan Sang Pencipta. Misal di bulan suci ini dilarangnya politisasi masjid, yakni membicarakan seputar politik di masjid, materi ceramah diawasi dan lain-lain. Dan kaum muslim sendiri akhirnya banyak disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi seperti memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin hari semakin sulit terlebih di bulan ramadhan hingga idul fitri nanti. Karena tak ada periayahan langsung oleh pemimpin dan negara. Negara seolah berlepas diri dari tanggungjawab memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyatnya.

Di sisi lain, ramadhan seharusnya menjadi ajang penempaan diri menjadi lebih baik, dari sisi keimanannya yang meningkat, akhlak yang semakin baik, prioritas utamanya adalah akhirat. Namun,faktanya kondisi saat ini yang tak ada penjagaan serta penanaman akidah yang kuat. Sehingga tak heran jika di akhir ramadhan banyak kita jumpai mall dan pusat perbelanjaan lainnya yang semakin padat, sedangkan masjid semakin sepi dari jama’ah tarawih serta tadarus quran. Miris!

Ramadhan demi ramadhan akan kita lalui dengan kondisi yang sama tiap tahunnya, tak akan ada perubahan ketika Islam tak dijadikan sebagai satu-satunya solusi atas segala problematika umat. Ketika Islam tidak diterapkan secara kaffah di dalam sebuah institusi negara. Maka ramadhan demi ramadhan akan terasa sama, tak lebih hanya sekedar formalitas dan tradisi tahunan semata, tanpa ada efek perubahan pada diri kaum muslim baik individu maupun negara.

Oleh karena itu, penting adanya sebuah institusi negara yang menerapkan Islam secara kaffah (total, tidak sebagian) yang mampu mengangkat keterpurukan umat dan menjadikan umat ini sebagai Khoiru Ummah (umat terbaik). Terlebih ketika ramadhan, umat akan berlomba-lomba dalam ketaatan kepada Allah untuk meraih gelar muttaqin dan ridhoNya sebagai tujuan utamanya. Mari bersama-sama dalam mewujudkannya melalui perjuangan Islam dengan Dakwah sesuai metode Nabi Saw demi tegaknya Syariat Islam dan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Allahu a’lam bish shawab. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.