Sistem Zonasi, Mampukah Meningkatkan Kualitas Anak Negeri?

Oleh : Netty Susilowati, S.Pd (Kepala Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019/2020 telah selesai.  Untuk tahun ajaran 2019/2020 ini berdasarkan Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB  diterapkan sistem zonasi. Pertimbangan jarak terdekat dari sekolah yang dituju. PPDB dengan sistem zonasi ini menimbulkan kericuhan ditengah walimurid yang berusaha mendapatkan sekolah terbaik untuk anaknya.  Hingga Diknas Jatimpun sempat menutup sementara PPDB dengan sistem zonasi ini.   Meski sudah berakhir, tetapi sejumlah masalah masih mengiringi. Kecurangan-kecuranganpun tidak bisa dihindari. Mulai dari pindah rumah mendekati sekolah yang dituju, merekayasa Surat Keterangan Tidak Mampu,  masuk sekolah swasta dahulu baru tengah semester pindah Sekolah Negeri yang diincar, dan sebagainya .

Sebenarnya dengan penerapan sistem zonasi dalam PPDB 2019/2020 ini  ada banyak harapan dari pemerintah akan semakin baiknya Sistem Pendidikan yang ada di negeri tercinta.  Sebagaimana yang disampaikan Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi, sistem zonasi ini bertujuan diantaranya pemerataan kualitas pendidikan, menciptakan banyak sekolah favorit, peningkatan kualitas guru. Hanya yang menggelitik adalah apakah tujuan dari PPDB sistem zonasi ini selaras dengan Tujuan Pendidikan yang telah dicanangkan pemerintah?

Tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan pada UU No 20 Tahun 2003 adalah untuk mengembangkan manusia Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Manusia yang memiliki takwa dan iman kepada Tuhan YME dan memiliki budi pekerti yang luhur, mandiri, kepercayaan yang mantap,kesehatan rohani dan jasmani, ketrampilan dan pengetahuan dan yang terakhir memiliki rasa tanggung jawab untuk berbangsa dan bernegara.

Dari tujuan ini harus diimplementasikan dalam sebuah kurikulum. Dalam kurikulum akan dibahas lebih detil  bagaimana mewujudkan tujuan. Mulai dari menentukan out put sekolah, mata pelajaran, dan juga sarana dan pra sarana. Sarana dan pra sarana di sini salah satunya adalah sekolah. Mulai dari kualitas sekolah, sebaran peserta didik, penerimaannya dan sebagainya.

Jadi penentuan pendaftaran peserta didik lewat sistem online atau offline, zonasi atau tidak, sekolah favorit atau sekolah pinggiran, hal ini hanya sebatas berhubungan dengan sarana dan pra sarana yang menunjang kualitas siswa atau peserta didik. yang lebih utama adalah perhatikan kurikulum yang diadopsi oleh Negara. Apakah memang benar akan mewujudkan sebuah kualitas anak bangsa yang mampu memimpin dunia? Apakah memang benar bisa mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang sudah ditentukan?

Jika tujuan pendidikan nasional  menjadikan manusia yang bertakwa, sudahkah terimplemntasi dalam kurikulum pendidikan? Bisakah ketakwaan dimunculkan hanya dengan 2 jam  pelajaran selama sepekan? Jika tujuan pendidikan nasional mencetak anak bangsa yang mandiri, bisakah terwujud dengan mengembangkan banyak SMK yang arahannya setelah lulus mereka mendapat pekerjaan? Yang ternyata dengan pekerjaan itu menjadikan mereka hanya seorang karyawan. Tidak mandiri menentukan nasib sosialnya. Hanya menjadi pekerja dari orang lain. Yang orang lain itu bisa jadi ternyata orang asing atau aseng.

Tujuan Pendidikan dalam Islam

 Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam anak. Kepribadian terbentuk melalui dua hal, pola pikir (aqliyah) dan pola sikap atau perilaku (Nafsiyah).  Berpikir adalah proses memindahkan fakta melalui panca indera ke otak disertai dengan informasi sebelumnya. Jadi jika seseorang menghukumi sebuah fakta didasarkan pada pengetahuannya tentang bagaimana Islam mengatur, maka telah terbentuk pola pikir Islamiyah pada diri seseorang.

Pola sikap (nafsiyah) adalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri yang  memunculkan perilaku. Jika standar amalnya adalah halal dan haram, maka pola nafsiyyah adalah pola yang islamiy.

Jika pola pikir dan pola sikap ini dua=duanya Islam, maka akan terbentuk kepribadian islami pada seseorang.

Dengan standart yang jelas seperti ini maka ketika mengimplementasikan pada kurikulum sekolah akan menjadi lebih mudah. Maka di sekolah adalah sebuah lembaga yang akan mewujudkan sebuah pola pikir Islam dan juga mendorong pola sikap Islam. Kurikulum yang dibangun juga akan berlandaskan aqidah Islam. Dituangkan dalam mata pelajaran di sekolah adalah mata pelajaran yang berkaitan dengan dirinya sebagai seorang muslim yang harus terikat dengan hukum Allah. Tsaqofah Islam adalah mata pelajaran utama selain Bahasa Arab dan ilmu Al qur’an yang lain. Karena ini sangat dibutuhkan untuk memahami Alquran yang berbahasa Arab. Menentukan standart halal haram bagi kehidupannya.  Bagaimana dengan anak=anak non muslim? Mereka boleh mendirikan sekolah sendiri dengan pengawasan Negara. Kurikulum tidak boleh melenceng dari kurikulum yang sudah ditetapkan oleh Negara. Ketika mereka memilih sekolah negeripun tidak mengapa. Untuk masalah aqidah mereka dibiarkan dengan agamanya. Tetapi degan mempelajari  hukum-hukum Islam yang lainnya, menjadikan mereka para anak didik yang kritis terhadap kebijakan yang diterapkan atas mereka jika tidak sesuai dengan tuntunan Rabbnya.

Mengenai sarana dan prasarana, Negara juga akan memperhatikannya. Karena prinsip penguasa di Negara Islam sebagai ra’in atau pelayan umat,maka penguasa akan berusaha menyediakan layanan pendidikan yang memadai untuk semua anak bangsa. Mulai dari kurikulum, standart sekolah dan prasarana yang ada tidak akan dibedakan apakah itu sekolah favorit atau bukan. Sekolah swasta atau negeri.  Semua akan berujung sama, kualitas anak negeri yang bershuksiyah Islmiyah, kuat, dan mampu memimpin dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.