Sistem Ekonomi Neo Liberal Melahirkan Pejabat Anti Rakyat

139

neoliberalismeOleh: Ratna Munjiah (Pemerhati Masalah Sosial)

Ketika menciptakan manusia, Allah swt melengkapinya dengan potensi-potensi kehidupan yang secara fitri akan mendorongnya untuk beraktifitas mewujudkan misi penciptaaanya sebagai hamba Allah swt.

Potensi kehidupan yang dimaksud, menurut Muhammad Ismail dalam kitab Al fikru Al Islamy, berupa hajatu al-‘udhawiyah (Kebutuhanjasmani) dan gharizah (naluri), kebutuhan jasmani dan naluri ini menghendaki pemenuhan.

Persoalannya kemudian adalah disamping terkait dengan kemampuan menyediakan sarana atau alat (material) pemuas, juga adalah bagaimana caranya manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri-naluri itu.

Disinilah, sesuai dengan misi penciptaan manusia sebagai makhluk Allah swt, upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan ini juga senantiasa harus berlandaskan aturan-aturan syariat Allah.

Namun saat ini yang terjadi bagaimana manusia salah dalam menentukan jalan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang dilakukan jauh bertentangan dengan aturan Islam. Banyak yang pada akhirnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mengambil jalan pintas, prinsipnya yang penting bahagia, apakah sesuai aturan Allah atau tidak yaitu belakanganlah.

Bisa kita saksikan bagaimana kondisi yang terjadi dinegeri kita, para pemilik kebijakan sudah semakin semena-mena dalam menetapkan aturan atau dalam membuat kebijakan, bagaimana saat ini aturan Islam dijauhkan dalam pengaturan kehidupan, mereka justru mendewakan sistem ekonomi Liberal yang dianggapnya mampu menyelesaikan semua permasalahan perekonomian di Indonesia.

Padahal pada kenyataannya sistem ekonomi neoliberal dikenal sebagai paham Ekonomi yang mengutamakan sistem Ekonomi Kapitalis Perdagangan Bebas, Ekspansi Pasar, Privatisasi/ Penjualan BUMN, Deregulasi / Penghilangan campur tangan pemerintah, dan pengurangan peran Negara dalam layanan sosial (Public service) seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Sistem Ekonomi Neoliberalisme menghilangkan peran Negara sama sekali dan hanya akan melahirkan pejabat yang anti terhadap rakyatnya, dimana pejabat tidak akan berpihak kepada kepentingan rakyat, kebijakan-kebijakan yang diterapkan selalu yang menyusahkan rakyat dan tidak satupun yang berpihak pada rakyat itu bisa kita dapati dalam segala bidang.

Islam memberikan tuntunan dalam segala hal kepada setiap manusia.  Salah satu hal dalam bekerja, setiap muslim dimanapun dan apapun posisinya haruslah memiliki sikap yang professional.

Profesinalisme dalam islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1). Kafa’ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan, (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi, dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggung jawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.

Untuk mewujudkan jabatan muslim yang professional, Islam telah memberikan tuntunan yang sangat jelas. Kafa’ah atau keahlian dan kecakapan diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman.

Himmatu al-‘amalatau etos kerja yang tinggi diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama disamping motivasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) serta perolehan material serta amanah atau sifat terpercaya dan bertanggung jawab diperoleh dengan menjadikan tauhid sebagai unsure pendorong dan pengontrol utama tingkah laku.

Berkenaan dengan kafa’ah (Keahlian dan kecakapan), Islam menetapkan bahwa seseorang yang diangkat untuk posisi, jabatan atau tugas tertentu, terlebih lagi bila itu berkaitan dengan kepentingan orang banyak, haruslah orang yang memiliki keahlian dan kecakapan dalam tugas atau jabatan itu.

Atas dasar itulah seorang pejabat, pegawai apalagi pemimpin haruslah dipilihdari orang yang paling tepat. Islam mengingatkan, tindakan mengangkat orang yang bukan ahlinya atau orang yang tidak tepat dapat dianggap telah melanggar amanat dan telah berkhianat kepada Allah, Rasulnya dan berkhianat terhadap kaum muslimin.

Namun apa yang terjadi di negeri kita, para pemangku kebijakan, pemimpinnya sekalipun, rasanya tidak memahami bagaimana Islam mengatur itu semua, sehingga yang ada saat ini solusi permasalahan yang diberikan kepada rakyat hanya jawaban-jawaban yang nyeleneh.

Seperti beras mahal disuruh  diet, cabai mahal disuruh tanam sendiri, daging mahal disuruh makan keong, telur mahal katanya ayamnya lagisakit, dan masih banyak pernyataan nyeleneh lainnya,.

Wahai Pemimpin, takutlah kalian kepada Allah swt, seandainya kalian menyadari bahwa ujung kehidupan ini adalah kematian, niscaya apa yang kalian lakukan didunia akan selalu disandarkan pada aturan Allah swt, karna sekecil apapun aktifitas kita dihari akhir nanti akan dimintai pertanggung jawaban, dan siapkah kalian dengan pertanggung jawaban itu. Wallahua’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.