Sexy Killer : Bukti Kapitalisasi Sumber Daya Alam yang Terselubung

60

Oleh : Dewi Sartika (Komunitas Peduli Umat)

Film dokumenter “Sexy Killer” sukses menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Dikarenakan, film ini menggambarkan bagaimana konspirasi pengusaha tambang batubara yang ada di Kalimantan adalah para pejabat dan Konglomerat negeri ini.

Tambang batubara yang bergerak di bidang PLTU (Perusahaan Listrik Tenaga Uap), banyak memakan korban dan sangat merugikan masyarakat. Dikarenakan, polusi yang ditimbulkan mengakibatkan udara menjadi kotor dan mengakibatkan gangguan pernafasan ISPA.

Selain itu, limbah tambang mencemari sumber air bersih, sehingga bagi masyarakat Kalimantan Timur yang sudah 20 tahun bertetangga dengan tambang batubara tersebut, air bersih sudah lama menjadi sejarah. Untuk air minum mereka harus menggunakan air keruh dan untuk mendapatkannya pun mereka harus menempuh jarak yang jauh.

Penambangan batubara juga menyalahi aturan. Karena, dilakukan dekat dengan pemukiman warga, jarak minimal 500 m dari pemukiman warga sering diabaikan. Sehingga, banyak rumah-rumah warga terkena dampaknya baik itu digusur, maupun bangunan bergeser yang mengakibatkan rusaknya konstruksi rumah mereka.

Di Desa Sanga-sanga, tidak sedikit dari rumah warga yang hancur dan rusak, jalan amblas akibat penambangan yang terlalu dekat dengan pemukiman dan fasilitas umum.

Peraturan Negara tentang Penambangan seolah tidak berfungsi bagi para pengusaha tambang raksasa. Pihak yang berwenang seolah tidak bisa berbuat apa-apa dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha tambang, meskipun sudah banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat.

Hal ini disebabkan karena pemilik tambang batubara yang kebanyakan dari mereka notabene adalah para pejabat dan konglongmerat yg ada dinegri ini melakukan konkalikong dengan dengan para pemegang kekuasaan. Ada timbal balik dari pengusaha yang diberikan kepada para penguasa, terkhusus pejabat daerah. Kamudian adanya ketamakkan dan kerakusan yang menggerogoti akal sehat para penguasa, sehingga aksi obral izin pun diberikan, tanpa memperhatikan dampak buruk bagi masyarakat. Sehingga tidak heran jika banyak pemilik tambang yang melanggar aturan pertambangan tidak dikenakan sanksi, ataupun tetap bebas melakukan penambangan.

Inilah sistem kapitalis sekuler yang memberikan kebebasan bagi siapa saja yang memiliki modal besar untuk menentukan kehendak mereka. Para pengusaha yang memiliki modal besar bebas melakukan apa saja, meskipun itu menabrak aturan yang ditetapkan oleh negara. Mereka pun menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dalam sistem ini SDA bebas diswatanisasi selama mereka memiliki modal untuk mengelola tambang tersebut. Kepemilikan pribadi atas tambang ini membuktikan rusaknya sistem jahiliyah kapitalisme dimana yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin, dan terbukti menyengsarakan rakyat.

Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Islam

Dalam Islam tambang batubara merupakan kepemilikan umum yang dilarang untuk dijadikan kepemilikan pribadi. Karena merupakan hak masyarakat yang harus dikelola oleh negara dan digunakan untuk kemaslahatan seluruh umat. Firman Allah “Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu yang ada dibumi untuk kamu” (QS. Albaqoroh:29).

Dengan demikian, tambang batubara merupakan bagian dari sumber daya alam (SDA) yang berfungsi sebagai sarana umum untuk memenuhi kebutuhan semua manusia dan hajat hidup mereka di dunia. Rasulullah bersabda “Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal air, padang rumput, dan api. (HR.Abu Dawud dan Ahmad).

Terkait kepemilikan umum, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari penuturan Abyad bin Hammal. Diceritakan Abyad pernah meminta kepada Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam, untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasulullah lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh sahabat “Wahai Rasulullah, tahukah Anda apa yang telah anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mau al-iddu). Rasul kemudian bersabda “Ambil kembali tambang tersebut dari dia” (HR. At Tirmidzi)

Mau al-iddu adalah air yang jumlahnya berlimpah. Sehingga, mengalir terus-menerus. Semula Rasulullah memberikan tambang tersebut kepada Abyad. Ini menunjukkan kebolehan memberikan tambang garam ( atau tambang lainnya) kepada seseorang. Namun, ketika kemudian Rasulullah. Mengetahui bahwa tambang tersebut merupakan tambang yang cukup besar- digambarkan bagaikan air yang mengalir terus-menerus maka beliau mencabut kembali pemberiannya.

Dengan kandungannya yang sangat besar itu, tambang tersebut dikategorikan sebagai milik bersama ( milik umum).

Alhasil, menurut aturan Islam tambang yang jumlahnya sangat besar baik garam maupun selainnya seperti batubara, emas , perak, besi, tembaga, timah, minyak bumi, gas dan sebagainya. Semuanya adalah tambang yang terkategori milik umum dan tidak boleh dikuasai oleh individu termasuk swasta dan asing.

Begipun dengan pengelolaan tambang tersebut, negara memperhatikan betul kelestarian lingkungan sekitar, baik itu kelestarian alam, binatang, maupun kelestarian hidup manusia. Sehingga pengelolaan tambang dalam Islam tidak pernah merugikan orang lain, justru mensejahterkan masyarakat. Wallahu a’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.