Sesungguhnya Kezaliman Itu Akan Hancur, Keadilan Akan Tegak

217
Ust. Zulkifli Muhammad Ali

(Tanggapan atas Kriminalisasi Ulama, Ustadz Zulkifli Muhammad Ali, Oleh Polri)

Oleh : Achmad Fathoni (Direktur el-Harokah Research Center)

     Ustadz Zulkifli Muhammad Ali ditetapkan sebagai tersangka oleh bareskrim Polri atas kasus ujaran kebencian. Beliau diminta untuk memenuhi penggilan polisi pada Kamis (18/01/2018) di Jakarta. Menurut keterangan Edi Kusmana, adik iparnya, ustadz Zulkifli diperkarakan terkait ceramahnya tentang paham komunisme, syiah, dan KTP palsu pada tahun 2016 silam. “Terkait status tersangka ustadz kita, Zulkifli Muhammad Ali, maka dengan ini, disampaikan bahwa beliau dijerat dalam kasus UU ITE, ujaran kebencian dan SARA terkait paham komunisme, KTP palsu Cina, Syiah yang tersebar tahun 2016 silam di medsos”, ungkap Edi Kusuma melalui keterangan tertulisnya (https://m.kiblat.net/2018/01/17/penuhi-panggilan-polisi-ustadz-zulkifli-dilepas-haru-para-jemaah/).

     Sikap Polri tersebut patut disayangkan oleh publik, terutama umat Islam, pasalnya kriminalisasi terhadap ulama’ bukanlah kali ini saja. Namun hal serupa sudah berulang untuk ke sekian kalinya terhadap ulama’ dan umat Islam negeri muslim terbesar di dunia ini. Fakta tersebut telah mengkonfirmasi secara kuat bahwa rezim saat ini adalah rezim yang anti Islam. Tindakan rezim saat ini terlihat terburu-buru ketika yang menjadi objek adalah umat Islam. Sedangkan pihak yang jelas-jelas mengutarakan ujaran kebencian dan melakukan tindakan penistaan terhadap Islam tidak diproses sama sekali. Ambil contoh, kasus Viktor Laiskodat dan Ade Armando, meski berkali-kali dilaporkan ke pihak kepolisian, namun tidak ada tindak lanjutnya sama sekali, nyaris hilang bak ditelan bumi.

     Salah satu yang dituduhkan kepada Ustadz Zulkifli adalah beliau yang pernah menyampaikan agar umat Islam waspada terhadap bangkitnya ideologi komunisme dalam ceramahnya yang diunggah di dunia maya pada tahun 2016 yang lalu. Bukankah itu kewajiban setiap Muslim, apalagi seorang ulama’ dan pendakwah mengingatkan umatnya terhadap sesuatu yang membahayakan. Tentu publik patut mempertanyakan tuduhan yang tanpa dasar tersebut. Bukankah secara legal formal ideologi komunisme memang telah dilarang di negara Indonesia. Jika ada Ulama’ atau siapun juga menyampaikan bahwa ideologi komunisme itu harus diwaspadai dan ditolak, maka pernyataan itu sah dan dilindungi konstitusi di negeri ini. Justru pihak yang mempersoalkan hal itulah yang patut dipertanyakan kesesuaiannya dengan konstitusi yang ada.

     Sebagaimana Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) RI nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme/Leninisme. Maka pernyataan Ulama’ atau siapa saja, termasuk Ustadz Zulkifli Muhammad Ali, yang menyatakan bahwa umat Islam harus mewaspadai ideologi komunisme dengan segala derifatnya, itu tidak bisa dikriminalkan, karena hal itu sejalan dan dilindungi konstitusi yang ada. Lalu mengapa beliau justru dikriminalkan oleh rezim saat ini. Bukankah yang seharusnya yang dikriminalkan adalah pihak-pihak yang menyatakan “Aku Bangga Sebagai Anak PKI” dan yang sejenisnya. Namun faknya justru mereka dibiarkan dan tidak diproses secara hukum.

     Dengan fakta tersebut, maka publik tidak bisa disalahkan jika mempunyai asumsi bahwa rezim saat ini adalah rezim anti Islam. Karena telah berbuat zalim dan tidak adil terhadap umat Islam, terutama para ulama’ yang merupakan pewaris para Nabi, yang sangat dihormati umat Islam. Sementara pihak-pihak yang telah melakukan ucaran kebencian terhadap umat Islam dan melecehkan kemuliaan ajaran Islam, seperti kasus Victor Laiskodat dan Ade Armando, malah seakan-akan ditutup-tutupi dan dibiarkan dari jerat hukum. Beginikah keadilan ala rezim “Aku Pancasila” itu?

     Memang sudah tercatat dalam sejarah perjalanan negeri ini sejak merdeka, gerakan Islam tidak akan pernah mati karena tindakan kezaliman rezim yang berkuasa. Dan dalam dalam realitas sejarah justru rezim yang zalim-lah yang tumbang dan mati satu demi satu. Publik bisa menyaksikan pada tahun 1960, bagaimana rezim Orde Lama yang telah memberangus Partai Islam Masyumi, namun tidak berselang lama rezim Orde Lama akhirnya tumbang. Selanjutnya pada kisaran tahun 1980-an, rezim Orde Baru pun mengikuti jejak pendahulunya, juga ikut-ikutan membengangus kelompok Islam yang kritis terhadap rezim saat itu, bahkan dengan senjata undang-undang anti subversif, rezim Ode Baru banyak memenjarakan aktifis Islam, para ulama’, dan kaum muslimin. Namun dalam dekade berikutnya rezim Orde Baru juga lenser dengan setengah dipaksa oleh rakyatnya sendiri. Itulah nasib para rezim yang telah berbuat zalim terhadap Islam, ulama’, dan umat Islam. Pada akhirnya mereka tidak Berjaya, bahkan “terdepak” dari kekuasaannya.

     Seharusnya rezim saat ini bisa mengambil hikmah dari peristiwa terdahulu. Selamanya kezaliman itu akan hancur dan tidak akan pernah berjaya. Di masa lalu, rezim Fir’aun akhirnya tewas ditelan ganasnya gelombang Laut Merah, akibat kesombongan dan kezalimannya terhadap Nabi Musa AS dan umatnya. Rezim Namrut juga tewas mengenaskan, akibat kezalimannya terhadap Nabi Ibrahim AS. Begitu juga saat terjadi Arab Spring, para rezim tiran di negara-negara Arab terguling dari tahta kekuasaanya oleh rakyatnya sendiri, akibat kezaliman terhadap kaum Muslimin dan gerakan-gerakan Islam yang kritis terhadap kezaliman mereka. Dengan demikian, jika rezim negeri ini masih tetap berlaku zalim dan tidak adil terhadap umat Islam dan ulama’-nya, pelan namun pasti tentu nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan rezim-rezim pendahulunya, yaitu segera akan tersungkur dari kekuasaanya dengan hina. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.