Sanggraloka Dakwah Virtual

63

“World is flat, dunia telah datar. Tidak ada lagi sekat, dunia tidak lagi bulat.” Ungkapan ini tampaknya tepat menggambarkan kondisi era virtual saat ini. Lalu lintas komunikasi yang terjadi mampu mendobrak batas cakrawala. Seraya menihilkan ruang dan waktu. Peralihan sendi-sendi aktivitas kehidupan dari dunia nyata pada maya pun terus berkembang. Diantaranya ialah industri kreatif dan bisnis seperti ritel, toko buku, pakaian, kuliner. Juga menjadi media edukasi, menyimak berita, mencari data dan informasi, komunitas sosial, dll.

Sontak saja segala aktivitas pun tak luput dari media sosial. Bak kebutuhan jasmani yang tiada bisa ditunda pemenuhannya. Jam duduk bercengkerama di ruang keluarga sambil menonton televisi beralih menjadi saling bersafari melalui kanal media sosial masing-masing. Terkadang orang tak lagi butuh rekreasi di akhir pekan. Cukup menikmati sanggraloka media sosial di rumah menjadi pilihan yang tepat. Bahkan, saat aktivitas diluar pun tak memusykilkan berselancar di media sosial tetap menjadi primadona dan prioritas.

Bagi seorang pendakwah, ia harus paham betul seperti apa situasi ‘battlefield’nya. Jumlah netizen pengguna media sosial yang mencapai 80 % dari seluruh penduduk tanah air ini tentunya tak boleh luput dari perhatian. Disinilah sanggraloka bagi para pendakwah dalam menebarkan ide-idenya. Panggung yang menarik tentunya, dakwah dituntut untuk lebih kreatif. Selain itu nilai positifnya ialah daya jangkau yang tak ada batas, menembus ruang dan waktu.

Bidikan dakwah virtual pun tepat sasaran. Dimana media sosial merupakan wadah berkumpulnya para social engineering penggerak perubahan. Terutama generasi muda yang berperan mendongkrak arus perubahan. Jika tak segera diselamatkan, tentunya mereka akan tersesat tak tentu arah dimabukkan suguhan ragam aplikasi menarik. Bak dua sisi mata pisau, kemajuan teknologi yang seharusnya dapat bersinergi dengan luhurnya status dan peran pemuda. Bukan mustahil dapat pula tercabik olehnya.

Betapa gentingnya umat kini membutuhkan peran seorang pendakwah yang berkontribusi terhadap jalan baru dakwah islam ini. Mengaruskan kekuatan opini, ide dan solusi islam melalui kanal media sosial. Sebagaimana kita ketahui bahwa media-media milik rezim menjadi corong legitimasi mereka di hadapan publik. Juga tak luput ditunggangi untuk¬† mengoyakkan brand islam. Namun yang perlu kita ketahui adalah, gelombang opini netizen tak mampu mereka kendalikan. Saatnya meningkatkan amunisi mengambil bagian dalam dakwah daring. Tanpa mengabaikan dakwah luring yang tetap menjadi hakikat dakwah yang utama. Wallahu a’lam biashshawab.

Oleh: Novita Sari Gunawan (Mentor Opini Akademi Menulis Kreatif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.