Salah Kaprah Kebijakan New Normal

54


Oleh: Qonita Husna Zahida (siswi SMPIT Al-Amri)

Bukan rahasia lagi, jika sejak berjalannya kebijakan new normal, kasus pasien covid-19 justru kian meningkat setiap harinya. Tercatat kasus pasien covid-19 mencapai 1000 orang lebih per hari. Situasi ini sangat mengkhawatirkan bagi rakyat Indonesia. Kendati jumlah pasien terjangkit covid-19 cukup banyak, namun masih banyak pula rakyat yang masih sehat dan terancam terinfeksi covid-19.

Sektor perekonomian kembali beroperasi bebas pasca kebijakan new normal. Terdapat sembilan sektor yang dibuka kembali sesuai dengan keputusan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Yakni, meliputi sektor perminyakan, pertambangan, perkebunan, peternakan, perikanan, industri, konstruksi, logistik, serta transportasi barang.

Para ahli mengatakan, kebijakan baru ini dinilai sangat gegabah. Melihat belum matangnya kesiapan masyarakat dalam menyikapi kebijakan new normal. Penerapan new normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, ternyata menimbulkan pradigma yang keliru di tengah masyarakat. Sejumlah masyarakat beranggapan dengan adanya kebijakan ini maka situasi telah kembali normal seperti sedia kala seperti halnya sebelum pandemi covid-19. Alhasil, banyak masyarakat yang mulai tak patuh lagi pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Terlebih lagi, tak sedikit dari mereka yang menggunakan masker ataupun menerapkan protokol kesehatan hanya karena takut diberi sanksi atau didenda, bukan sebagai kesadaran diri sendiri.

Penerapan new normal dianggap dapat meredam dampak ekonomi di tengah pandemi covid-19. Padahal terbukti, penerapan ini sangat berpengaruh atas terlonjaknya angka pasien covid-19. Banyak pihak tak setuju dengan langkah baru ini. Seharusnya kebijakan ini segera dicabut melihat semakin banyaknya kasus pasien covid-19.
Apakah covid-19 ini sudah dianggap sebagai virus biasa? hingga kita sebagai rakyat dihimbau untuk bersahabat, beradaptasi, dengan virus yang cukup mematikan ini. Padahal, memastikan kesehatan rakyat adalah tanggung jawab pemerintah. Begitu pula dengan melakukan pengetesan serta pelacakan pada tiap-tiap individu masyarakat.
Fakta yang sungguh miris. Pemerintah tega mempertaruhkan nyawa rakyatnya, hanya untuk membangkitkan perekonomian Negara. Semestinya, yang dilakukan pemerintah saat ini adalah memastikan para pasien covid-19 agar tak menularkan penyakitnya pada individu yang sehat. Serta memerapkan solusi jitu untuk meminimalisir angka pasien covid-19.

Satu-satunya solusi yang tepat saat ini adalah dengan memberlakukan kebijakan sebagaimana kebijakan yang pernah dilakukan Rasullullah saat menghadapi wabah, yaitu isolasi lokal pada daerah yang terdampak wabah. Siapapun yang berada di daerah wabah tidak boleh keluar sedangkan warga di luar daerah wabah tidak boleh masuk ke daerah wabah. Pasien yang terkena wabah dilakukan pengobatan secara intensif secara gratis. Setelah sembuh dari sakit pasien tersebut diberi santunan sebagai kompensasi ketidakmampuan pasien untuk bekerja karena sakit. Sementara itu warga sehat yang berada di daerah wabah tetap dipenuhi kebutuhan pokoknya. Sehingga mereka dapat melaksanakan protokol kesehatan dengan tetap berada di rumah dengan tidak perlu khawatir kekurangan pangan. Dengan kebijakan ini terbukti pemerintahan Islam telah sukses mengatasi 3 kali pandemi selama masa pemerintahannya yang berlangsung selama 1300 tahun lamanya. Hanya dengan Islam umat manusia sungguh dimuliakan, Hanya dengan Islam keselamatan manusia mendapat jaminan dari Negara. Wallahu a’lam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.