Saat Negara Lalai Mengurusi Meja Makan

145

Oleh : Ningsri Fuanah, A.Md*

Lagi-lagi jagat negeri ini dikejutkan dengan kabar penemuan produk makanan yang tak layak konsumsi, beredar dipasaran. Temuan itu bermula dari unggahan video dan foto di media sosial yang dikirim oleh warga, lalu menjadi viral pada pekan lalu. Video dan foto itu menunjukkan ada cacing di dalam produk ikan kaleng jenis makarel.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Kota Pekanbaru mereka  membenarkan dan merilis hasil uji laboratorium bahwa ada tiga produk impor ikan makarel kaleng yang terbukti mengandung cacing spesies Aniskis sp. Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru, Muhammad Kashuri, di Pekanbaru, Riau, Rabu, 21 Maret 2018 menuturkan bahwa terdapat tiga produk ikan makarel, yaitu merek IO, Farmer Jack, dan HOKI yang terbukti mengandung cacing Aniskis sp. (Tempo.co)

Kasus makanan tak layak konsumsi tidak terjadi saat ini saja melainkan sebelumnya juga banyak terjadi dalam produk-produk jenis lainnya. Kita masih ingat dengan kasus susu kedaluarsa, beras plastik, telur palsu dan lain sebagainya, yang mengundang kekhawatiran masyarakat. Berulangnya kasus tersebut menandakan bahwa pemerintah belum serius dalam menyelesaikan masalah ketersediaan dan peredaran makanan di dalam negeri. Disisi lain pemerintah pun nampaknya masih tergiur dengan makanan-makanan impor dengan ketidakjelasan proses produksi dan produk hasilnya apakah sudah halal dan ‘thoyyib’.  Padahal  seharusnya sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, pemerintah Indonesia wajib menjamin setiap produk yang beredar. Memastikan tidak hanya kelayakannya, tapi yang tak kalah penting adalah kehalalalan dan kethoyyibanya juga.

Di lain pihak, dari sisi para produsen makanan, mereka nampak sembarangan dalam memproduksi produk-produknya. Prinsip ekonomi kapitalis dengan slogan “modal sekecil-kecilnya untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya” telah menjadi paradigma mereka dalam mejalankan usahanya. Pertimbangan dalam menghasilkan produk-produknya hanya berorientasi pada keuntungan semata, tanpa memperhatikan kualitas apalagi kehalalal dan kethoyyibannya. Jelas jika sudah demikian, maka akan susah untuk memutus kasus-kasus seperti di atas.

Berbicara tentang makanan, maka pembahasan tentangnya akan menjadi pusat perhatian bagi makhluk hidup terlebih bagi manusia disepanjang masa. Hal itu karena, makanan merupakan kebutuhan pokok sekaligus hajatul udlowiyah (baca : kebutuhan jasmani) yang wajib adanya.

Terlebih bagi seorang muslim permasalahan makanan tidak boleh sembarangan, karena makanan yang masuk ke tubuhnya akan menjadi bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh. Sebagaimana Allah menerangkan dalam FirmanNya :

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51)

Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam untuk memakan makanan yang halal dan beramal sholeh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Bila selama ini kita merasa malas dan berat untuk beramal? Alangkah baiknya bila kita mengoreksi kembali makanan dan minuman yang masuk ke perut kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya yang baik tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.

(HR. Bukhari no. 2842 dan Muslim no. 1052)

Islam sebagai agama yang paripurna memberikan porsi khusus dalam masalah makanan. Setiap muslim diperintahkan Allah untuk memperhatikan apa-apa yang dimakannya sebagaimana firmanNya

“Maka seharusnya manusia memperhatikan makanannya”  (QS Abasa (80) : 24)

Syarat makanan yang boleh atau tidak boleh  dimakanpun tidak terlepas dari aturanNya sebagaimana Allah menjelaskannya:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 168).

“Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih atas nama selain Allah, yang (mati) dipukul, yang(mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala….(Q.S Al Maidah  :3)

Demikianlah seharusnya seorang muslim memandang dan memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun akan sulit juga jika negara sebagai penyedia ketersediaan dan pengatur peredaran makanan di pasaran lalai hadir mengurusi perkara makanan ini. Jaminan kelaikan, kehalalan, dan kethoyyiban makanan dipasaran tidak bisa dijamin oleh individu melainkan hanya Negara semata yang memiliki wewenang itu. Hal ini berarti, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, maka aturan ketersediaan makanan mutlak harus berpegang pada syariah islam saja tidak boleh atas pertimbangan keuntungan  atau  yang lainya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.