Rupiah Lemah, Negara Pasrah

41

Oleh Adi S. Soeswadi (pemerhati ekonomi)

Tren pelemahan rupiah yang melewati level psikologis Rp.14.000 per USD membuat seolah negara hanya bisa pasrah. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan menteri keuangan Sri Mulyani. Menurutnya, rupiah melemah karena faktor yang tidak bisa dikontrol oleh negara, diantaranya kenaikan suku bunga  bank sentral amerika. Negara hanya bisa mengontrol dampaknya. (Merdeka.com,Sabtu, 12 Mei 2018).

Kenyataan tersebut menunjukkan betapa rentannya rupiah. Ketika permintaan dollar banyak atau  mengalir deras keluar negeri karena dibawa para investor, maka rupiah langsung terjun bebas. Semuanya tidak bisa dikontrol oleh negara. Perekonomian pun akan terpukul, terutama pada sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri pengolahan, properti, perdagangan konsumer goods, transportasi dan keuangan.

Lemahnya rupiah juga mempengaruhi APBN. Asumsi-asumsi yang telah dipatok akan berubah. Nilai tukar saat ini  jauh dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar yakni sebesar Rp 13.400 per USD. Depresiasi nilai tukar juga akan mempengaruhi anggaran subsidi, terutama pada Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik.

Dampak terakhir tetap pada rakyat. Inflasi akan meningkat karena harga barang dan transportasi mengalami kenaikan. Apalagi sebentar lagi memasuki Ramadhan dan menyambut hari raya yang biasanya  permintaan barang cukup tinggi. Beban kehidupan rakyat dipastikan naik. Beban tersebut akan bertambah lagi jika subsidi BBM dan listrik juga ikut berkurang.

Rentannya rupiah tersebut bukan tidak disadari, karena telah berulang kali terjadi. Demikian juga dampak buruk yang ditimbulkannya pun juga sudah diketahui dan dirasakan. Mestinya pengalaman tersebut bisa menjadi pelajaran, bahwa mematok rupiah pada dollar amerika dan menjadikannya komoditi adalah kesalahan besar. Seharusnya perlu ditinjau kembali, apakah ada konsep yang lebih baik agar negara memiliki mata uang yang kuat yang tidak tergantung pada faktor luar yang tidak bisa dikontrol. Sehingga perekonomian stabil dan terhindar dari krisis.

Evaluasi sistem keuangan seharusnya segera dilakukan. Kita tidak tahu seberapa besar dampak buruk yang akan terjadi jika rupiah mengalami pelemahan yang cukup drastis. Kepanikan pasar sudah sering terjadi dan kondisi tersebut akan menguras cadangan devisa karena digunakan menahan laju dollar agar pasar bisa tenang. Itulah sisi buruk ekonomi dalam sistem kapitalisme yang tidak bisa dihindari. Krisis ekonomi selalu menghantui bila mata uang negara sangat rentan, apalagi kalau termasuk mata uang sampah.

Hanya sistem ekonomi Islam jalan keluarnya. Sistem ekonomi Islam hanya mengenal mata uang yang berbasis emas dan perak, yaitu dinar dan dirham. Memiliki mata uang tersebut berarti memiliki nilai nominal emas atau perak. Sehingga nilainya stabil dan tidak mengalami fluktuatif. Kepastian perekonomian pun akan terjamin dan bebas krisis, maka tidak akan memberi beban pada rakyat, karena angka inflasi akan sangat rendah.

Namun untuk beralih ke sistem mata uang Islam memang memerlukan cadangan emas dan perak yang mencukupi. Sistem mata uang ini tidak akan bisa berjalan dengan sempurna apabila kepemilikan sumber daya alam, khususnya emas dan perak, masih dikuasai oleh swasta atau asing. Inilah kendala yang sulit, karena sistem kapitalisme memang memberi peluang bagi para pemodal swasta ataupun asing untuk memiliki sumber daya alam. Oleh karena itu, jika kita ingin mengambil sistem mata uang Islam, maka mau tidak mau, kita juga harus mengambil sistem Islam secara keseluruhan. Tanpa penerapan sistem Islam secara total, maka perekonomian yang kuat dan bebas krisis hanyalah mimpi.

JASA EDIT VIDEO, VIDEO SHOOTING, VIDEO COMPANY PROFILE Telp. 0818 0490 4762

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here