Reuni 212 Rekatkan Ukhuwah

39

Oleh: Hasni Tagili, M. Pd (Praktisi Pendidikan Konawe)

Telah sukses terselenggara, Reuni Akbar 212 jilid II (02/12/2018). Berbagai pihak tak mau ketinggalan bicara soal jumlah. Dilansir dari media berbeda, ada yang menyebut 40 ribu, 100 ribu, 7.5 juta, 8 juta, 10 juta, bahkan 13 juta jiwa. Meski begitu, fakta lapangan menunjukkan peserta tumpah ruah. Sejak subuh, sudah tampak kepadatan di tugu Monas dan sekitarnya.

Silaturahmi Nasional

Rangkaian acara Reuni 212 ini dimulai sejak pukul 03.00 WIB dengan agenda salat Tahajud bersama. Lalu, salat Subuh berjamaah. Kemudian, dilanjutkan dengan dzikir dan istighosah, serta ceramah yang disampaikan oleh para Alim Ulama dan tokoh-tokoh. Terakhir, ditutup dengan salat Zuhur berjamaah. Setelah itu para peserta kembali dengan tertib ke kediaman masing-masing (Suaraislam.com, 08/12/2018).

Tampak selama acara berlangsung, hampir seluruh peserta saling berlomba berbagi yang mereka miliki seperti makanan, minuman, obat-obatan, jasa pijat dan jasa ojek kepada sesama. Selain itu, banyak dari para penjual yang ada di sana mengratiskan barang dagangan mereka untuk para peserta baik karena keinginan pribadi maupun hasil dari ‘tebas’ gerobag. Tampak ukhuwah Islam begitu terasa. Bahkan sampai acara berakhir, para peserta bahu-membahu membersihkan lokasi acara agar kembali bersih seperti semula. MasyaAllah!

Reuni ini bukan sekadar nostalgia. Bukan perayaan kejahatan penista agama. Bukan pula aksi yang ditunggangi kepentingan politik ala kapitalisme. Reuni 212 hadir sebagai wadah silaturahmi nasional untuk semakin merekatkan ukhuwah, menguatkan akidah, dan menjalin keutuhan bangsa. Terpenting, ini adalah ekspresi persatuan umat atas ketidakadilan.

Persatuan Umat

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Irfan Yusuf atau Gus Irfan, mengatakan Reuni 212 yang dilaksanakan di Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018 adalah cerminan semangat persatuan umat Islam di Indonesia. Menurutnya, tak tepat bila acara tersebut diberi cap politis dan dimodali oleh pihak-pihak tertentu (Tempo.co, 03/12/2018).

Senada, Ketua umum FPI Ustad Shabri Lubis mengatakan bahwa acara reuni yang mampu menghadirkan massa hingga jutaan orang ini membuktikan kesolidan umat Islam untuk senantiasa membela agama dan negara. Sebagaimana aksi 212 ini banyak dicecar, namun orang-orang justru lebih banyak yang hadir. Aksi 212 dihina, justru tambah kecintaan dan kesolidan umat Islam. Kedatangan kita tiada lain dalam rangka mencas mental, kesatuan dan senantiasa komitmen bela agama dan negara, siap berjuang (Islampos.com, 98/12/2018).

Maka tak heran, jika peserta hadir dalam jumlah yang besar. Mereka berasal dari berbagai latar belakang ormas dan profesi. Tak kenal tua-muda, miskin-kaya, bahkan muslim-nonmuslim dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri pun turut ambil bagian dalam reuni ini. Ya, para peserta hadir dengan berbagai moda transportasi baik darat, laut, maupun udara. Luar biasa bukan?

Perubahan Hakiki

Aksi reuni 212 telah banyak menorehkan kisah perjuangan umat untuk tetap menjaga ukhuwah Islam. Persatuan dalam aksi ini adalah persatuan membela kalimat tauhid menuju perubahan hakiki. Perubahan yang dimaksud adalah menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

 Kehadiran kaum muslim dalam reuni ini menjadi bukti bahwa umat tengah merindukan persatuan untuk berjuang bersama dalam membela dan menegakkan kalimat tauhid. Ya, menegakkan tauhid maknanya menegakkan Islam. Menegakkan Islam berarti berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah umat dengan menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, sejatinya umat Islam di manapun berada bagaikan satu tubuh yang tak boleh dipisahkan.

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Ketika Allah memerintahkan umat untuk bersatu, maka yang dikehendaki yakni persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan akidah. Tidak memandang perbedaan apapun selain ketakwaan yang terhujam kepada Allah Ta’ala. Prinsip memegang tali agama Allah adalah dengan bersandar pada syariat Islam. Sebab, Allah SWT berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu(masa jahiliyah) bermusuh-musuhan,maka Allah mempersatukan hatimu,lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (TQS.Ali-Imran 103). Wallahu alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.