Remaja dalam Cengkeraman Sekulerisme

175

BOBROK. Mungkin hanya satu kata berkonotasi negatif inilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi generasi masa kini. Bagaimana tidak? Miras, narkoba , sex bebas, pornografi pornoaksi serta penyimpangan serupa lainnya perlahan mulai menjamahi mereka. Berlindung dibalik jargon “pencarian jati diri”, hal hal yang tak waras pada akhirnya berani mereka terabas. Ujungnya, apalagi kalau bukan penyakit dan MBA (Married By Accident).

Bukan bualan, karena fakta sudah banyak berbicara. Dilansir oleh Tribun Lampung (2/10), sebanyak 12 siswi SMP di satu sekolah di Bumi Riwayat Jurai Lampung diketahui hamil. Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji mengatakan bahwa lokalisasi pun kini sudah menjadi tren tersendiri di kalangan mereka. Bahkan 20% pelanggan seks adalah pelajar SMA.

Di dunia maya pun, melejitnya perkembangan digital juga disalahgunakan oleh generasi labil ini. Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol, whatsapp (WA). Percakapan tidak senonoh, berbagi video porno hingga ajakan berbuat mesum sudah menjadi santapan lumrah di grup yang beranggotakan 24 siswa/siswi SMP tersebut (PikiranRakyat 3/10). Di Kabupaten Garut, terbongkarnya sindikat gay siswa SMP/SMA yang terkoordinir melalui grup Facebook semakin menambah daftar kekhawatiran atas pergaulan kawula muda.

Beginilah efek jangka panjang dari tidak dilibatkannya agama dalam berkehidupan. Sekulerisme yang mengangkangi hampir seluruh lini, dalam kasus ini pendidikan hanya mampu melahirkan produk gagal yang cacat moral. Bagai ayam kehilangan induknya, generasi yang diharapkan menjadi estafet kepemimpinan ini pun perlahan kehilangan pegangan. Terseret derasnya arus yang menenggelamkan mereka pada semunya kesenangan duniawi.

Disamping itu, kurikulum pendidikan yang dirancang pun hanya memfokuskan diri pada pencapaian output ber-IPTEK tinggi, namun berlepas diri atas perkara rohani. Kondisi ini kemudian diperparah dengan hadirnya media digital yang kerap tersusupi hadhoroh barat. Akibatnya, produk teknologi yang awalnya mubah mubah saja dimanfaatkan, perlahan bertransformasi menjadi momok mengerikan yang siap menerkam individu yang minim bekal.

Ibarat fenomena gunung es, temuan temuan semacam ini bisa dikatakan belumlah seberapa. Masih banyak kebobrokan lain yang belum terendus ke permukaan dan berhasil diringkus untuk dilakukan penanganan. Namun jika menilik kondisi negeri tercinta yang masih memberdayakan konsep sekulerisme, rasanya mustahil pergaulan bebas bisa teratasi. Bahkan kemungkinan besar, kebobrokan ini akan terus diwariskan pada generasi mendatang. Jika dibiarkan menahun, peradaban manusia bisa dipastikan hancur lebur akibat dahsyatnya daya ledak yang dihasilkan sekulerisme.

Kegagalan  Barat membangun peradaban harusnya cukup menjadi bukti historis dan memantik kesadaran bahwa sekulerisme tidaklah layak dipertahankan. Mengapa? Karena sekulerisme adalah jembatan utama yang mengantarkan manusia pada kelancangan. Mereka bertindak seakan memiliki kuasa untuk mengolah dan mengeliminasi aturan dari Sang Pemilik Kehidupan serta memproduksi aturan aturan baru. Mereka bertindak seakan seakan hari esok bebas dari penghakiman.

Berbeda dengan sekulerisme yang cenderung pragmatis dalam menyelesaikan persoalan, Islam justru menawarkan solusi yang bersifat komprehensif termasuk didalamnya upaya preventif. Upaya ini dimulai dengan menanamkan akidah yang nanti nya akan menghantarkan manusia pada level taqwa.

Lebih lanjut, takwa inilah yang nantinya akan menghantarkan individu sampai pada titik sadar bahwa ia terikat dengan hukum syara’ pada setiap aktivitas nya.

Takwa inilah yang akan menghantarkan masyarakat pada kesadaran akan adanya kewajiban kontrol sosial (amar makruf nahi mungkar) di pundak mereka.

Dan takwa ini pula lah yang akan menghantarkan negara ini pada keberanian melakukan gebrakan baru/reformasi setelah menyadari dahsyatnya kerusakan yang diakibatkan sistem sekuler. Sebagai benteng pertahanan terkuat, negara akan mengambil peran dalam pengelolaan media demi meminimalisir terjadinya penyalahgunaan. Sebagai lembaga yang berwenang, negara juga akan berani menerapkan sanksi yang tegas lagi menjerakan guna mencegah penyelewengan/kejahatan serupa.

Dari sini, adalah bodoh jika manusia masih saja menolak Islam sebagai landasan hidup (ideologi) mereka. Ibarat keledai yang terperosok ke lubang sama, adalah bodoh pula jika manusia masih saja mau terkungkung dalam kubangan sistem yang sama (red : sekulerisme).

Oleh: Maya / Gresik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.