Ramai-ramai Membuat Paspor Hanya untuk Tiket Murah

145

Oleh: Desi Wulan Sari

Sungguh menggelikan berbagai macam permasalahan negeri saat ini. Semakin beragam usaha kreatif yang dilakoni masyarakat untuk menyiasati kesulitan hidup karena dipaksa oleh kondisi. Bahkan dari pemerintah sendiri malah memberikan solusi yang menggelikan ketika rakyat mengalami kesulitan. Misalnya, saat harga cabe mahal, masyarakat disuruh menanam cabe sendiri. Saat harga daging mahal, masyarakat disuruh beralih mengonsumsi keong. Atau pun saat rakyat dipaksa menerima banjir impor bahan-bahan pokok saat mereka menghadapi panen raya.

Fenomena yang marak terjadi di Aceh melengkapi usaha kreatif masyarakat. Yaitu warga Aceh ramai-ramai membuat paspor hanya untuk pergi ke Jakarta dengan pesawat. Pasalnya sebagian besar warga Aceh, terutama yang menggunakan uang pribadi kini memilih berangkat ke Jakarta melalui Kuala Lumpur, Malaysia. Jalan tersebut ditempuh karena lebih menghemat biaya. Tampak perbedaan harga yang sangat mencolok pada keduanya, misalnya:  Harga tiket domestik Banda Aceh – Jakarta mencapai Rp 3 juta, sementara harga tiket Banda Aceh – Jakarta via Kuala Lumpur, tidak sampai Rp 1 juta (SerambiNews.com, 11/1/19).

Kebutuhan-kebutuhan umum yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat, memunculkan kegelisahan luar biasa. Namun sangat disayangkan tanggapan Menteri Perhubungan terkait masalah tersebut.  Beliau mengatakan kenaikan harga tiket yang terjadi saat ini masih dalam batas wajar. Sesuai dengan peraturan Menteri Perhubungan (Kemenhub) Nomor 14/2016. Imbauannya adalah masyarakat tidak terlalu berlebihan dalam merespon hal tersebut. Dan bisa berbesar hati untuk menerima kebijakan tersebut (Kabar.News, 1/12/2019).

Harapan masyarakat tentu ingin pihak pemerintah sebagai pemegang regulasi puncak bisa mengatur dan menertibkan para maskapai untuk menurunkan harga tiket penerbangan yang melambung tinggi tersebut. Karena bukan hanya Aceh saja yang mengalaminya, beberapa daerah lain pun mengalami hal yang sama.

Tuntutan dan Keprihatinan masyarakat akan tingginya harga tiket penerbangan semakin menjadi perhatian berbagai pihak. Yang pada akhirnya diberitakan bahwa pada 13/1/2019 ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Carriers Assosiation / INACA Ari Ashkara dalam konferensi pers nya mengatakan bahwa mereka telah menurunkn harga tarif domestik. Ari mengatakan, keputusan itu diambil berdasarkan komitmen positif dari para pemangku kepentingan. Yakni PT. Angkasa Pura (Persero), PT Angkasa Pura (Persero),  Airnav dan PT Pertamina (Persero) (TribuneNews.com, 13/1/2019).

Seperti inilah wajah sistem yang tengah menguasai negeri ini. Sekulerisme, Neo Liberalisme dan Kapitalime yang mengakibatkan penguasa abai terhadap urusan kemaslahatan umat. Atau pun jika mereka melakukan perubahan dengan cepat, seakan-akan mereka peduli akan kebutuhan umat, tetapi sebenarnya mereka hanya melihat kepada kepentingan kelompok tertentu yang memegang kendali akan untung rugi saja bagi pihak yang terkait. Seakan-akan tugas dan tanggung jawab penguasa sebagai pelindung telah mereka laksanakan.

Yang perlu diperhatikan adalah seorang pemimpin harus bisa membuat rakyatnya makmur. Kemakmuran yang dimaksud adalah segala kebutuhan akan fasilitas umum dapat terpenuhi secara merata. Semua itu dilakukan semata-mata bentuk tanggung jawab terhadap tugas dan jabatannya yang diemban sebagai amanah. Bukan tanggung jawab dan tugas pada satu kelompok teerentu demi keuntungan yang diraih.

Dalam Islam, seorang pemimpin harus memahami tanggung jawab dan tugasnya untuk memimpin umat. Dia berkewajiban untuk meriayah/mengurusi umatnya dengan baik. Semua rakyatnya harus dipastikan kebutuhan pokoknya. Karena Islam berfungsi sebagai sistem dan pondasi kepemimpinan. Seperti perkataan Hujjatul Islam Ghazali:

“Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga ia akan hilang.”

Oleh karena itu diperlukan seorang pemimpin adil agar bisa mewujudkan hal tersebut. Menjadikan agama sebagai pondasi dan kekuasaan sebagai penjaga kepemimpinan. Agama yang dijadikan pondasi haruslah agama yang sahih. Agama yang mampu mengatur serta menyelesaikan masalah dengan menyeluruh sesuai tuntunan Illahi. Agama tersebut tidak lain adalah Islam. Islam adalah agama yang sempurna. Semua aturan ada di dalamnya. Mulai bangun tidur hingga bangun Negara, masuk rumah hingga masuk surga. Semua ada dalam Islam.

Ada pun beberapa dalil terkait kepemimpinan dalam Islam dan ancaman bagi pemimpin yang zalim.

  1. “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara- saudaramu menjadi   wali  (pemimpin/pelindung)   jika   mereka   lebih   mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS: At-Taubah : 23
  2. “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- nya. dan dimasukan-nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-nya. mereka itulah golongan allah. ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS:  Al Mujaadalah : 22)
  3. “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin/teman penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS: An-Nisa’: 138-139)

Maka ambilah pelajaran dari para pemimpin-pemimpin Islam terdahulu. Patuhilah aturan-aturan yang telah Allah tetapkan bagi manusia dalam memimpin umat di muka bumi. Dengan penuh keadilan, berpegang teguh pada amanah, dan memimpin dengan berpegang teguh pada syariat Islam. Wallahu a’lam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.