Ramadhan : Momen Menghidupkan Yang Telah Pudar

Oleh : Afifah*

“Khilafah (adalah) ajaran Islam,  baik dipahami dengan pendekatan al-Quran, al-Hadist maupun Ijma’ “ itulah pernyataan  ulama, kyai, dan tokoh Yogyakarta pada acara Jalsah ‘Ammah peringatan Isra’ Mi’raj  di Sleman (14/4/2018).  Kutipan di atas membawa ingatan kita pada kekacauan yang akhir-akhir ini terjadi akibat kata Khilafah.  Fenomena yang bisa dibilang aneh bin ajaib. Bagaimana bisa seorang muslim tidak mengenal bahkan menentang ajaran agamanya sendiri ?  Mungkin saja terjadi,  karena -tidak bisa dipungkiri-  kebanyakan muslim saat ini hanya belajar sekedarnya tentang Dienul Islam.

Kejadian ini serupa tapi tak sama dengan kisah negeri Atlantis yang hilang ditelan laut.   Sebagian percaya sebagian lagi menganggapnya khayalan. Berbeda dengan atlantis yang  tidak jelas arahnya,  Khilafah sudah tercatat jelas dalam sejarah dan hadits-hadits Rasul.   Hanya karena phobia, adanya settingan Barat tentang isu radikalisme, telah  membuat kaum muslimin menutup diri bahkan membenci ajaran  tentang sistem pemerintahan Islam.

Waktu terus berjalan dan perang opini masih terus berlanjut. Kini, sampailah kita di gerbang Ramadhan 1439 Hijriyah.  Bulan yang kemuliaannya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Sebagai seorang muslim, keyakinan akan setiap ajaran Islam termasuk Khilafah seharusnya sekuat keyakinan terhadap kemuliaan Ramadhan.   Karena hal ini datangnya sama – sama dari Allah SWT.

Ramadhan adalah moment yang tepat bagi kita untuk introspeksi diri dan meneliti kejadian yang akhir-akhir ini menimpa umat  dan negara kita. Sejauh mana keimanan kita kepada Allah ? Apakah keislaman kita sudah didasari ilmu ? Apakah kita sudah mengeanal Islam dari A hingga Z? Sudahkah kita menunaikan semua yang Allah perintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya ?

Allah berfirman : “ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan (kutiba) shiyam atas kalian sebagaimana telah diwajibkan (kutiba) atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. “ (TQS. Al Baqarah : 183).

Hampir setiap muslim mengetahui bahkan hafal bahwa ayat ini menyerukan wajibnya berpuasa Ramadhan, karena sering diulang dalam ceramah bulan puasa. Selain nash-nash yang lain tentunya.  Kewajiban berpuasa satu bulan penuh, berkonsekuensi mendapatkan dosa jika tidak dilaksanakan (tanpa uzur syar’i).  Sehingga setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir tak kan berani mengabaikannya.

Namun tak banyak yang tahu lafadz ‘kutiba’ yang bermakna ‘diwajibkan’ yang terdapat pada al-Baqarah 183 ini,  juga terdapat pada nash terkait jihad dan qishash (hukum pidana Islam) di dalam Al Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan (kutiba) atas kamu qishash berkenaan orang-orang yang dibunuh….” (TQS. Al Baqarah : 178).

Telah diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah  sesuatu yang kamu benci.. “    ( TQS. Al Baqarah : 216).

Sekarang dua kewajiban -yang dibebankan kepada mukmin- ini tidak akan bisa terlaksana tanpa institusi Khilafah, lalu mengapa justru kita tak bersegera  menjawab seruan Allah untuk menerapkannya ?

Justru lidah-lidah mereka (yang membenci Khilafah) dengan mudah mengucapkan sesuatu yang melecehkan Islam tanpa diperhitungkan bahwa hal itu berat disisi-Nya. Mudah mengatakan bahwa hukum Syari’ah itu sudah kuno, mudah mengatakan bahwa kegemilangan umat ketika mereka hidup diatur dengan Islam itu hanya dongengan belaka. Sungguh ucapan ini mirip dengan apa yang diceritakan Allah dalam surat An Nahl ayat 24, menganggap Al Qur’an hanya dongengan orang-orang dahulu.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu“.

Opini buruk terhadap ajaran Islam , salah satunya Khilafah telah menjauhkan umat dari bersegera mewujudkannya.  Itu semua karena umat Islam tidak memahami Islam  secara kaffah (menyeluruh).  Seperti kata pepatah lama, tak kenal maka tak sayang. Jika sudah mengenal dan menyelami setiap inci ajarannya, maka sungguh akan banyak kekaguman yang kita ungkapkan. Terlebih jika kita sibak kilau sejarah kekhilafahan dimana Islam dijamin dan dijaga penerapannya. Kemudian, apakah kita puas hanya dengan membaca sejarah ? semoga saja tidak.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang orang yang bersegera memenuhi panggilan seruan ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat berlambat-lambat, mencari-cari alasan, atau bahkan mengejek Syari’ah Allah SWT.

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

Mari bersama-sama menjadikan moment mulia ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri, pemahaman dan pengamalan agama kita. Dengan mempelajari, melaksanakan, mengembannya, dan mendakwahkannya. Agar sejarah kemuliaan Islam dalam naungan Khilafah dapat kita rasakan lagi, di Ramadhan tahun depan, semoga. In shaa Allah. (Afifah)

*******************

*penulis tinggal di Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.