Radikalisme  dan Problem Keluarga  : Islam Solusi Tuntas! 

106

Oleh : Ummu Tsabita (Pegiat Sekolah Bunda Sholihah, Malang)

Sebuah fenomena menyayat hati terjadi, ditemukan jasad bayi tanpa kepala di sebuah kebun sawit , di Batanghari Jambi. Kepolisian berhasil mengungkap bahwa pelakunya adalah satu keluarga, terdiri dari kakak, adik dan ibu mereka .  Terungkap bahwa bayi adalah hasil hubungan incest antara kakak dan adik tersebut. (Liputan6.com, 6/6/2018).  Miris dan sedih membayangkan, seorang ibu beserta nenek dengan tega membuang darah dagingnya sendiri.

Lalu sedikit  flashback beberapa waktu sebelumnya,  menjelang memasuki bulan Ramadhan telah terjadi tindak teror yang melibatkan satu keluarga. Seorang ibu dan dua anak perempuannya menjadi bomber pada sebuah gereja  di Surabaya ,  Jawa Timur (detik.com,  13 /5/2018).  Inipun membuat masyarakat tak habis pikir, kok tega ya?

Ada apa dengan keluarga – keluarga saat ini? Padahal naluri keibuan sejatinya adalah fitrah ada pada setiap ibu. Mengapa sekedar menerima jabang bayi yang sudah Allah anugerahkan kepadanya saja ia tak sanggup. Dengan hati yang hancur dan takut dengan konsekuensi malu yang akan ditanggung, mereka tega ‘menghabisi’ bayi itu.  Atau karena pemahaman yang ‘keliru’ mereka tak merasa salah mengajak anaknya melakukan bom bunuh diri.

Harganas di tengah Problem Keluarga Indonesia

 Hari keluarga nasional (Harganas) yang ditetapkan setiap 29 Juni, untuk tahun 2018 atau peringatan yang ke-25  akan dilaksanakan di Manado, Sulawesi Utara.  Mengambil tema  “Hari Kita Semua  : Cinta Keluarga, Cinta Terencana” , nantinya akan disi dengan sejumlah kegiatan yang bertujuan mempererat keharmonisan keluarga nasional. Di tengah persoalan yang banyak menimpa keluarga Indonesia, cukup kah serimonial mengatasi semua persoalan yang menimpa keluarga Indonesia?

Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam rangka Harganas sedang gencar mengkampanyekan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).  Kampanye dilakukan melalui televisi nasional agar jangkauan menjadi lebih luas dan menyebar.  Peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga dapat ditelusuri melalui berbagi indikator yang merupakan pencerminan dari pelaksanaan delapan fungsi keluarga. Hal tersebut tercantum dalam PP No 87/2014.

Dalam PP disebutkan delapan fungsi keluarga. (1) Fungsi keagamaan, (2) fungsi sosial budaya, (3) fungsi cinta kasih, (4) fungsi perlindungan, (5) fungsi reproduksi, (6) fungsi sosialisasi dan pendidikan, (7) fungsi ekonomi dan (8)  fungsi pembinaan lingkungan.  Sekretaris Utama BKKBN,  Nofrijal mengatakan pada prinsipnya program KKBPK mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera dengan melaksanakan delapan fungsi keluarga. Penerapan fungsi keluarga ini membantu keluarga lebih bahagia dan sejahtera, terbebas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.  ( sindonews .com ,4 juni 2018).

Sedangkan terkait terorisme  sebelumnya  Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasarudin Umar berpendapat penyebaran bibit radikalisme dapat ‘diamputasi’ di level keluarga dengan membekali ibu rumah tangga dengan pemahaman nilai kebangsaan (republika.co.i, 31/8/17). Setelah kasus bomber, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Haris Iskandar tidak menampik sekolah rumah (homeschooling) tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua mengajarkan radikalisme pada anak.  Hal ini menyikapi adanya anak-anak pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapat pendidikan formal dan dipaksa  mengaku homeschooling (CNNIndonesia.com, Jumat (18/5/2018).

Memperbaiki kualitas Keluarga Indonesia , mampukah dengan solusi Parsial?

Semua orang akan sepakat dengan delapan fungsi keluarga yang disebut di atas, tapi bagaimana kita mampu mewujudkannya ketika persoalan yang menimpa masyarakat seolah bertubi-tubi ? Coba lihat saja kondisi perekonomian dan kesejahteraan rakyat secara umum , apakah beban keluarga-khususnya para ibu- berkurang?  Justru mereka  tetap dihadapkan dengan kebutuhan pokok (sembako)  yang melambung tinggi.  Untuk listrik saja, sepanjang tahun 2017 kemarin mengalami kenaikan sebanyak 4 kali. Belum elpiji alias si melon. Betapa berat tanggungan keluarga Indonesia saat ini , dengan penghasilan yang ~ bisa jadi~ tidak meningkat mereka tetap “wajib” mengupayakan agar kebutuhan dasar bisa tercukupi.  Kadang para ibu pun harus ikut menanggung beban  ekonomi keluarga dengan bekerja. Mulai dari pekerjaan kasar (buruh), sampai yang menggadaikan akhlak. Jadi PSK misalnya. Astaghfirullah.

Pada faktanya , keluarga Indonesia belum sejahtera. Sensus BPS tahun 2017 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia  yang masuk kategori miskin sekitar  26,58 juta orang atau 10,12 % total penduduk. Itu pun jika menggunakan standar yang tidak manusiawi, yakni kemiskinan diukur dengan pendapatan perorang sekitar Rp 387.160 per kapita per bulan (sekitar 10.000/hari).  Kalau menggunakan standar Bank Dunia, yakni 1,9 dolar AS/hari atau setara  Rp 775.200 (kurs 13.600)  tentu kita akan menemukan angka lebih dari 70-an juta penduduk miskin di Indonesia. Bahkan jumlah orang yang rentan miskin saja  ada 40-an juta,  kata Enny Sri Hartati  dari institute for Development of Economics and Finance  (Indef) . (jawapos.com , 6/3/2018).

Dengan tingkat kesejahteraan seperti ini, tentu berpengaruh pada kemampuan keluarga mengakses berbagai kebutuhan dasar termasuk pendidikan. Salah satu solusi yang cukup banyak diambil keluarga Indonesia adalah sekolah rumah.  Menurut data Kemendikbud ada 11.000 anak usia sekolah yang memilih homeschooling (beritasatu.com, 31/1/2015).  Tentu saja selain alasan ekonomi ada alasan lain yaitu kualitas pendidikan dan pergaulan remaja yang makin mengkhawatirkan.

Kerusakan moral , juga menjadi momok yang menghantui keluarga Indonesia. Kita menyaksikan betapa kasus asusila begitu mencengangkan. Banyak kasus KTD (kehamilan tak diinginkan) menimpa remaja di  usia yang semakin muda , dampak dari gaul bebas.  Menurut data IPW,  sepanjang  Januari saja ada 54 bayi dibuang di jalanan.  Umumnya pelaku berusia 15 hingga 21 tahun. “ Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) dibandingkan di periode yang sama pada Januari 2017 , “ ungkap Neta S Pane,  Ketua Presidium IPW ( hidayatullah.com , 31/1/2018) . Belum lagi kasus incest , begitu marak di Indonesia.  Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan terhadap permpuan sebanyak 9.409  yang dilaporkan sepanjang 2017, dan ada  1.210 kasus merupakan kasus incest. “ Paling banyak kasus dilakukan ayah kandung sekitar 425 kasus, sisanya oleh anggota keluarga dekat yang lain. (tribunnews.com , 19 /4/2018).

Itu sebagian persoalan yang harus dirasakan keluarga Indonesia, Lalu mampukah hanya dengan bikin agenda yang bersifat seremonial, atau program-program parsial dari penguasa. Blusukan, THR, Kartu Pintar, beras raskin, dll. Apalagi dengan sudut pandang ‘miring’ kepada solusi Islam, sungguh ini bentuk kekurang ajaran dan ketidak pahaman akan Syariah  Allah SWT.

Islam : Solusi Tuntas agar Keluarga Indonesia Sejahtera dan Mulia

Dien yang mulia ini mempunyai mekanisme sendiri dalam mendidik generasi dan melibatkan para ibu. Bagaimana mekanismenya?  Pertama, ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Ibu harusnya memaksimalkan perannya dalam mendidik anak anaknya kelak, sehingga perkembangan anak tidak terganggu dan dapat mencetak generasi unggul pengisi peradaban Islam. Ibu menyadari peran mulia ini karena negara (khilafah) selalu mengedukasi para perempuan sejak dini untuk mengasah naluri keibuan dan menguasai ilmu dan tsaqofah Islam, juga skill dalam mendidik dan menjaga generasi. Mereka tidak seharusnya dipusingkan oleh beban penafkahan rumah tangganya seperti saat ini.

Kedua, sebagai ibu generasi, kaum ibu dapat berperan sesuai bidang yang dipelajari tanpa meninggalkan tugas utama mendidik generasi. Seperti menjadi dosen, guru, trainer, dsb.  Itu semua menjadikan para ibu mampu melakukan pembinaan di tengah masyarakat sehingga akan lahir generasi yang berkepribadian Islam. Ini bisa menjadi solusi bagi bobroknya moral generasi. Sayang pembinaan generasi muda dengan materi Islam kaffah justru saat ini ‘dicurigai’ sebagai penyemai paham radikal. Bahkan sekolah rumah, di mana ortu bisa berperan lebih optimal mendidik buah hatinya, juga ikut-ikutan terseret.

Dalam kehidupan sosial, Islam mengatur sangat cermat bagaimana laki-laki dan perempuan bisa saling menjaga marwah mereka. Termasuk antar anggota keluarga dengan aturan interaksi Islamy, berpakaian yang syar’i tidak mengumbar aurat, pengaturan interaksi di rumah maupun di luar rumah. Serta penegakkan hukuman yang keras bagi pelaku zina, liwath dan prilaku seksual menyimpang lainnya, termasuk incest.  Juga adanya kemudahan untuk menikah , bukan dipersulit seperti sekarang. Padahal rangsangan seksual begitu gila di masyarakat, menikah di usia muda adalah salah satu solusi terbaik. Namun justru dipersoalkan , seolah tercela. Namun tak bisa dihindari pernikahan karena kepepet KTD!

Dalam ekonomi, Syariat pun telah menetapkan kebutuhan pokok (primer) bagi setiap individu adalah pangan, sandang, dan papan.   Allah Swt. berfirman:

“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (TQS. al-Baqarah [2]: 233).  Rasulullah saw. bersabda: “Dan kewajiban para suami terhadap para istri adalah memberi mereka belanja (makanan) dan pakaian. (HR. Ibn Majah dan Muslim dari Jabir bin Abdillah).

Bagi keluarga yang bersangkutan diwajibkan untuk mengusahakan nafkahnya sendiri.  Negara memfasilitasi dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi para ayah , suami atau penanggung jawab keluarga.  Apabila tidak mampu bekerja , maka kerabat dekat yang memiliki kelebihan harta wajib membantu. Apabila kerabat dekatnya tidak mampu, atau tidak mempunyai kerabat dekat, maka kewajiban beralih ke Baitul Mal dari kas zakat. Apabila tidak ada, wajib diambil dari Baitul Mal, dari kas lainnya. Apabila tidak ada juga, maka kewajiban beralih ke seluruh kaum Muslim.

Syariat Islam juga  mengatur masalah kepemilikan dan pengelolaan SDA sedemikian rupa detilnya  yaitu terkait jenis-jenis kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, dan pendistribusian kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Ada kepemilikan individu, umum dan negara. Sedikit gambaran, Kepemilikan Umum adalah izin dari Allah Swt kepada jamaah (masyarakat) untuk secara bersama-sama memanfaatkan sesuatu.  Aset yang tergolong kepemilikan umum ini, tidak boleh sama sekali dimiliki secara individu, atau dimonopoli oleh sekelompok orang.  Termasuk jenis ini misalnya: padang rumput, air, pembangkit listrik,  sungai, danau, laut, jalan umum.  Juga  barang tambang yang depositnya sangat besar, misalnya: emas, perak, minyak, batu bara, dan lain-lain.  Dalam prakteknya, kepemilikan umum ini dikelola oleh negara (khilafah) , dan hasilnya (keuntungannya) dikembalikan kepada masyarakat. Bisa dalam bentuk harga yang murah, atau bahkan gratis, dan lain-lain. Tidak boleh dimonopoli oleh seseorang atau sekelompok orang, sehingga yang lain tidak memperoleh apa-apa; sebagaimana yang tejadi dalam sistem kapitalis. Dengan demikian masalah kesejahteraan dan kemampuan akses pada pendidikan dan kesehatan dapat ditingkatkan dan dituntaskan.

Bandingkan saja dengan solusi ekonomi Kapitalis yang diterapkan hari ini, SDA diserahkan kepada korporasi (swasta) dan umat dihibur dengan kebijakan ‘beraroma’ pencitraan. Astagfirullah. Wajar saja persoalan pelik terus saja menimpa keluarga di Indonesia, bahkan aksi teror telah menyudutkan solusi Islam yang ditawarkan . Juga liberalisasi atas nama HAM yang mengantarkan generasi mengidap kerusakan moral akut. Masihkah kita tidak mau berpikir jernih untuk segera kembali kepada Fitrah, kembali ke Syariah Allah?   []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.