Racun Toleransi Di Akhir Tahun

55

Oleh Fitriani S.Pd (Muslimah Media Baubau)

Di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini, budaya Natal kian marak saja. Ketika sudah memasuki akhir tahun, tepatnya pada tanggal 25 Desember, suasana perayaan Natal mendominasi siaran-siaran televisi dan pusat-pusat perbelanjaan negeri. Seperti pramuniaga yang menggunakan atribut Natal (menggunakan topi Sinterklas), juga pohon Natal yang dihiasi lampu warna-warni menyambut pengunjung. Semua pemandangan ini hampir mirip dengan perayaan hari Raya Idul Fitri.

Pelan tapi pasti, kaum Muslim setiap tahunnya selalu dicekoki budaya Natal dan tahun baru. Anak-anak Muslim mulai ada yang pandai meniup trompet. Orang tua mereka pun membelikan topi Sinterklas. Bahkan kian hari, atribut ini seolah tak tabu lagi untuk dikenakan. Dijual bebas dimana-mana.

Tidak hanya itu saja. Para pejabat mulai dari level pusat hingga daerah pun tak ketinggalan ikut mengucapkan selamat Natal dan hadir di perayaan Natal bersama. Seperti dilansir dari Detik.com, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin telah mengucapkan selamat merayakan Natal kepada umat Kristiani.

“Selamat Merayakan Natal dan Menyambut Tahun Baru 2019. Semoga kita semua terus berkemampuan menebarkan kedamaian, kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun,” kata Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (24/12/2018).

Dari situs yang berbeda, calon Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin juga mengakui telah mengucapkan selamat Natal untuk umat Kristiani.

“Saya sendiri mengucapkan, tak masalah,” kata Kiai Ma’ruf dalam wawancara dengan Rosiana Silalahi Kompas TV belum lama ini. (Eramuslim.com,25/12/2018)

Adapun dalih yang digunakan ialah bahwa apa yang dilakukan itu adalah bentuk toleransi. Mengucapkan Selamat Natal itu masalah kelahiran seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan ada yang berpendapat bahwa bukankah setiap Idul Fitri kaum Kristen juga memberikan selamat Idul Fitri kepada Muslim. Apalagi negeri ini menganut Islam nusantara dan menjunjung tinggi toleransi kepada agama lain, walaupun terkadang intoleran terhadap saudara seakidah sendiri. Walhasil, makna toleransi lama-kelamaan terkikis dan menjadi salah kaprah.

Padahal, seharusnya, yang dimaksud toleransi adalah membiarkan orang lain melaksanakan ajaran agamanya. Namun justru yang terjadi sekarang malah ikut merayakannya. Sehingga dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa tanpa terasa praktik pluralisme dan sinkretisme telah terjadi. Inilah racun toleransi yang mengancam negeri ini.

 Bagaimana tidak, kaum Muslim di negeri ini mulai bisa menerima ajaran atau ritual Kristen. Mulai maklum dengan ajaran Trinitas yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ide pluralisme inilah yang sedikit demi sedikit melemahkan akidah umat Islam. Sehingga, lama-kelamaan kaum Muslim bisa menerima keberadaan kaum Kristen setara dengan Islam. Khusus dalam konteks Natal, umat Muslim didorong untuk menerima kebenaran ajaran Kristen, termaksud menerima paham trinitas dan ketuhanan Yesus.

Belum lagi propaganda sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ajaran agama menjadi satu. Mengompromikan hal-hal yang bertentangan. Spirit sinkretisme tampak dalam seruan berpartisipasi merayakan Natal dan Tahun Baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal, dalam Islam batasan iman dan kafir, batasan halal dan haram adalah sangat jelas. Namun sayangnya dalam kondisi seperti ini, pemerintah bukannya menjaga akidah umat Islam. Mereka justru memberi contoh yang tidak baik dengan ikut-ikutan merayakan dan memberi ucapan selamat Natal.

Mengikis Akidah

Munculnya budaya Natal ini seolah biasa saja. Sekadar begitu saja. Demikian kata sebagian orang. Padahal, dibalik itu ada misi-misi berbahaya. Ikut-ikutan merayakan Natal dan Tahun Baru bisa mengikis akidah. Mengapa? Sebabnya, perayaan Natal bukan sekadar perayaan Nabi Isa sebagai seorang manusia biasa, tapi itu adalah perayaan Nabi Isa sebagai Tuhan Yesus. Memberi ucapan selamat pun bisa dimaknai sebagai pengakuan atas ketuhanan Yesus, yang telah jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam mengharamkan mengikuti budaya Natal ini, apapun bentuknya. Aturannya sangat jelas dan tegas. Islam memiliki standar sendiri bagaimana hidup bersosialisasi dengan agama lain dan ini sudah dipraktikkan secara nyata selama berabad-abad lamanya, dan non Muslim selama itu merasakan bagaimana indahnya hidup dalam naungan Islam.

Adapun dalilnya ialah firman Allah SWT dalam Qur’an surah Al-Furqon ayat 72 yang artinya,
“Ciri-ciri hamba Allah adalah tidak menghadiri atau mempersaksikan kedustaan atau kepalsuan”.

Yang dimaksud menghadiri atau menyaksikan kedustaan atau kepalsuan dalam ayat ini adalah turut mengucapkan, menghadiri atau merayakan hari raya non Muslim seperti hari Natal, Nyepi, Waisak, Imlek dan lain-lain.

Dalil lainnya misalkan hadis yang melarang tasyabbuh bil kuffar, yakni menyerupai kaum kafir. Misalkan Sabda Rasulullah SAW. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka (Man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum)” HR. Abu Daud.

Hadis ini dengan jelas mengharamkan kaum Muslim untuk menyerupai kaum kafir. Menurut para ulama, tasyabbuh bil kuffar yang diharamkan dalam hadits ini adalah segala sesuatu yang sudah menjadi ciri khas atau sifat kekufuran, misalkan ibadah, akidah, busana (topi Sinterklas), aksesoris (kalung salib) termasuk perilaku dan sebagainya. Jadi, kalau Muslim turut mengucapkan dan merayakan Natal akan terkena larangan hadis ini, karena perayaan Natal itu jelas merupakan suatu perayaan keagamaan yang menjadi ciri khusus kaum Nasrani.

Negara Sekuler Mewadahi

Budaya Natal seperti mendapat tempat di negeri ini. Ini adalah sesuatu yang aneh, mengingat mayoritas penduduknya Muslim. Kalau mau sedikit jeli, ini adalah bentuk intervensi budaya asing ke negeri ini. Budaya ini tumbuh dan kian subur, karena mendapat wadah yang sesuai. Wadah itu adalah negara sekuler, karena negara sekuler itu memang dilahirkan oleh Barat. Sebab, dalam negara sekuler, orang Islam diarahkan untuk meninggalkan ajaran agamanya dalam urusan publik dan hanya terkungkung dalam ranah ibadah semata. Pelan-pelan, dalam hubungan sosial, ajaran pluralisme ditanamkan, dikembangkan, dan dicontohkan oleh para penguasa dan pejabat yang notabene adalah Muslim.

Sehingga dari sini, terjadilah perubahan standar hidup, terkait hubungan sosial ini. Dari standar Islami kepada standar pluralisme ala Barat Muslim menganggap dan mengakui bahwa agama selain Islam juga adalah benar. Padahal, Allah telah tegaskan dalam Al-Qur’an bahwa agama yang diridhoi hanyalah Islam. Cara pandang yang berubah inilah yang mengakibatkan corak masyarakat yang berubah secara sosial. Dan dalam kondisi kaum Muslim seperti ini (terjebak intervensi budaya asing) kaum non-Muslim kemudian mengambil posisi untuk menguasai berbagai posisi strategis. Mereka kemudian mengatur negeri ini ala Barat dengan berbagai kebijakannya. Akibatnya, tanpa terasa negeri ini dikuasai asing melalui jalan yang menyakitkan. Yang berkuasa orang Indonesia, tapi yang meraih hasilnya adalah asing. Inilah salah satu bentuk penjajahan gaya baru.

Kemudian, perlu juga diingat bahwa misi Kristen tidak lepas dari misi penjajahan. itu adalah bagian dari Trilogi penjajahan, yakni Gold, Glory,dan Gospel (kekayaan alam, kejayaan dan kristenisasi). Maka pembaratan sejatinya tidak bisa dipisahkan dari para misionaris. Menggiring umat Islam keluar dari agamanya, sekaligus menguasai negeri Islam untuk dikeruk kekayaan alamnya.

Membentengi Akidah dalam Naungan  Khilafah

Kondisi tersebut tidak akan terjadi manakala kaum Muslim memiliki negara yang menerapkan ajaran Islam secara Kaffah dalam sistem Khilafah. Kaum Muslimlah yang berkuasa dan mengatur negara sesuai dengan ajaran Islam. Khilafah tidak akan mengadopsi atau mendakwahkan pemikiran dan hukum yang bertentangan dengan Islam seperti perayaan Natal dari segi atribut, fasilitas dan ucapannya. Walaupun, Khilafah harus mengakomodasi keragaman agama dan keyakinan selain Islam, memperlakukan orang-orang kafir dengan adil, serta memenuhi hak dan kebutuhan mereka dengan cara yang makruh. Namun, tidak berarti khilafah akan memberikan dukungan bagi penyebaran agama dan keyakinan selain Islam dalam bentuk apapun.

Sebab, Khilafah tidak hanya bertugas melakukan ri’ayatul suun Ummah (pengaturan urusan umat) belaka. Namun juga menjaga akidah umat agar tidak ternodai, serta dibekali taklif (beban hukum) mendakwahkan Islam agar orang-orang kafir masuk ke dalam ajaran agama Islam, dengan tanpa paksaan tentunya. Wallahu A’lam Bissawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.