Puasa dan Sensitivitas Sosial Presiden

59
Sumber foto: presidentpost

Oleh: Septri Widiono (Ketua Kelompok Studi Baitul Hikmah)

Kewajiban berpuasa bagi umat muslim dilandasi atas dasar keimanannya kepada Sang Pencipta bahwa ketika melaksanakan suatu kewajiban pasti akan mendatangkan manfaat. Berpuasa lebih dari sekadar menahan haus dan lapar serta syahwat. Menurut Imam Al-Ghazali, berpuasa pada level lebih tinggi  berarti menahan hawa nafsu dengan menjaga telinga, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Bahkan yang paling tinggi ialah puasa hati dari mengingat selain Allah dan hari akhir.

Berpuasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu biologis dengan cara mengharamkan hal-hal yang tadinya halal dikerjakan bila tidak berpuasa. Dengan berpuasa seseorang merasakan kelemahan yang ada pada dirinya. Badan kuat menjadi lemah. Hawa nafsu berupa dorongan untuk menguasai mengendur. Arogansi memudar. Hal ini karena perut dalam keadaan  lapar dan dorongan seksual menurun.

Seseorang yang berpuasa secara benar akan menemukan hakikatnya. Dimulai dari munculnya perasaan lemah, merasa malu melakukan kesalahan dan berbuat dosa. Ia akan menghindarkan dirinya dari perkataan tidak bermanfaat yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Muncul perasaan mengganjal apabila tidak dapat mengendalikan lisannya. Keangkuhannya pun tunduk dengan sifat-sifat kebaikan pada umumnya.

Orang yang berpuasa juga akan memperbanyak amal kebajikan. Dorongan keimanannya memastikan apabila ia mengerjakan suatu kebajikan pasti akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Luar biasa. Memberikan makanan pembuka sewaktu berbuka puasa saja akan mendapatkan pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.

Di bulan Ramadhan, seluruh amal perbuatan akan diganjar berpuluh hingga beratus kali lipat. Oleh sebab itu puasa pada bulan ini akan menyuburkan sedekah. Bahkan ada satu kewajiban yaitu mengeluarkan zakat fitrah pada bulan ini. Zakat fitrah ini akan dibagikan kepada fakir miskin.

Begitulah puasa akan meningkatkan sensitivitas kita terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di sekeliling kita. Hampir setiap masjid menyediakan makanan buka puasa (ta’jil) dengan cara menghimpun makanan dari jama’ah secara bergilir. Badan amal sosial, yayasan, bahkan kantor-kantor juga melakukan hal yang sama. Mereka menggalang donasi untuk disalurkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Suatu hal yang bertolak belakang adalah di tengah-tengah situasi masyarakat bersemangat menyuburkan sedekah, presiden malah menandatangani Perpres tentang Hak Keuangan Bagi Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) dengan besaran yang memperlihatkan tidak adanya sensitivitas terhadap permasalahan sosial. Ketua Dewan Pengarah BPIP mendapatkan hak keuangan sampai 112 juta sementara anggotanya mendapatkan 100 juta setiap bulan.

Angka ini sangat fantastis mengingat masih banyak kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan hidup. Angka kemiskinan masih tinggi. Sementara kebutuhan hidup semakin meningkat. Harga BBM dan listrik baru saja dinaikkan oleh pemerintah. Menyusul setelah itu terjadinya inflasi tahunan setiap menjelang lebaran.

Di sisi lain pelayanan aparat pemerintah belum juga dinilai memuaskan masyarakat. Aparat pemerintah masih memperlihatkan sikap birokratnya ketimbang sebagai pelayan masyarakat. Dimana rasa malu itu berada? Masyarakat sedang berlomba-lomba bersedekah tetapi pemerintah justru membelanjakan uang negara untuk keperluan segelintir orang dengan besaran yang fantastik.

Seharusnya momen puasa Ramadhan ini dapat menumbuhkan tanggung jawab dan kepekaan pemerintah terhadap masalah-masalah sosial. Kesenjangan ekonomi akibat pembangunan menganut sistem kapitalis nyata-nyata menghasilkan kecemburuan sosial. Jangan diperparah dengan kebijakan yang tidak tepat karena hanya ingin disebut menghargai tokoh yang duduk di BPIP. [SW]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.