Proyek OBOR, Dominasi China Meguasai Dunia

Oleh: Entin Haryanti (Mahasiswi UHO)

Akhirnya kabar pelaksanaan proyek inisiatif Sabuk Satu Jalan atau one belt one road (OBOR) dibenarkan, kerja sama OBOR ini diinisiasi oleh China dengan tujuan membuka keran konektivitas dagang antar-negara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra Maritim

Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan China One Belt One Road atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor siap dilaksanakan. Hal itu ditandai dengan ditekennya 23 Nota MOU antara pebisnis Indonesia dan China setelah pembukaan KTT Belt and Forum Kedua di Beijing, Jumat (Bisnis.com, 26/4/2019).

Dari 23 proyek yang diteken, nilai investasi dari 14 MoU bernilai total US$14,2 miliar. Proyek OBOR yang digagas oleh Presiden Cina Xi Jinping menuai kritik dari beberapa pihak. Bagaimana tidak?  Pengamat dan negara penerima donor mengungkapkan proyek infrastruktur Jalur Sutra modern juga menjadi jebakan utang, khususnya bagi negara berkembang. Oleh karena itu Kekhawatiran ada, disebabkan porsi utang Indonesia pada akhir November 2018 semakin bertambah. Posisi utang luar negeri Indonesia tercatat US$372,9 miliar atau meningkat dibandingkan Oktober 2018 yang mencapai US$360,5 miliar, Jika menggunakan asumsi kurs Rp 14.100/US$, maka posisi utang luar negeri indonesia di akhir November 2018 setara dengan Rp5.257 triliun.

Ada Apa dengan Proyek OBOR China?

OBOR merupakan proyek pemerintahan China untuk membangun kejayaannya melalui upaya penyambungan urat nadi perdagangan dunia. Sebuah proyek membangun megainfrastruktur dalam rangka memperkuat fasilitas perdagangan, dengan fokus pada penghapusan hambatan dagang (trade barriers), guna mengurangi biaya perdagangan dan investasi. Dengan memperkuat kerjasama keuangan, memperkuat koneksi jalan atau infrastruktur dengan membentuk jalur transportasi yang kuat dengan negara lain. Mulai dari Cina ke Eropa Barat dan dari Asia Tengah ke Asia Selatan.

Demi merealisasikan mimpi tersebut, China secara gencar membangun kerjasama pembangunan infrastruktur di berbagai negara, baik berupa jalur kereta api antar negara, tol darat, tol laut, pelabuhan bahkan juga jaringan pipa minyak antar negara.

Kerjasama Yang Membawa Petaka

Bagi negara-negara berkembang, sulit untuk tidak tergiur dengan tawaran Tiongkok. Lewat proyek OBOR tersebut. Negeri Panda itu rela mengeluarkan USD 150 miliar atau Rp 2 ribu triliun setiap tahun.

Pengeluaran gila-gilaan itu realisasi obsesi Presiden Xi Jinping membangkitkan kejayaan Jalur Sutra Tiongkok. Jalur Sutra mengacu pada jalur perdagangan masa lampau melalui Asia yang menghubungkan Timur dan Barat. Dari 68 negara yang menjalin kerja sama dengan Tiongkok lewat OBOR , 33 negara punya peringkat investasi B atau bahkan tanpa peringkat. Sepuluh di antaranya merupakan negara kaya aset seperti Brunei Darussalam dan Iran. Atau belum punya utang publik banyak seperti Timor Leste.

Artinya, 23 negara lainnya yang masuk program dalam OBOR punya potensi untuk terlilit utang. Nah, setelah lima tahun OBOR berjalan, ada delapan negara dengan risiko krisis finansial paling tinggi. Yakni, Pakistan, Maladewa, Montenegro, Laos, Mongolia, Djibouti, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Mereka itulah yang disebut masuk ”jebakan Tiongkok” lewat iming-iming proyek infrastruktur tadi.

Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia juga ambil bagian dalam perjudian dengan China dalam membangun infrastruktur yang tergabung dalam proyek OBOR secara garis besar. Salah satu proyek ambisius itu adalah pembangunan infrastruktur tol darat dan jalur cepat kereta api. Dua proyek yang kalkulasi ekonominya belum secara jelas menjaminkan keuntungan bagi masyarakat Indonesia.

 Tol-tol yang gencar dibangun oleh pemerintah saat ini memang secara akomodatif mampu memangkas waktu tempuh dan menyambung beberapa daerah, tapi distribusi logistik dan kegiatan ekonomi belum terlihat bergerak secara nyata di situ. Biaya yang cukup tinggi masih menjadi pertimbangan warga dan para pelaku ekonomi untuk melalui jalan tol yang dinilai pemerintah adalah proyek strategis untuk menumbuhkan perekonomian. Namun melewati tol tersebut akan berpengaruh secara signifikan terhadap ongkos produksi. Sehingg tak pelak lagi, investasi, hutang luar negeri China, dan MoU kerjasama Indonesia-China, merupakan jalan bagi China menguasai ekonomi Indonesia.

Utang Luar Negeri membuat negara pengutang tetap miskin karena terus-menerus terjerat utang yang makin menumpuk dari waktu ke waktu. Utang luar negeri pada dasarnya merupakan senjata politik negara-negara kapitalis kafir Barat terhadap negara-negara lain, yang kebanyakan merupakan negeri-negeri Muslim.

Sebab dengan utang ini memperkuat intervensi asing pada negara si peminjam, maka tak heran kebijakan yang diambil oleh penguasa saat ini tidaklah semata-mata untuk mempermudah akses ekonomi rakyatnya akan tetapi memudahkan kepentingan pemilik modal asing. Infrastruktur yang banyak terbangun kenyataannya tidaklah dirasakan oleh semua kalangan. Ini membuktikan proyek infrastruktur tidak tidak sasaran.

Oleh karena itu proyek OBOR wajib ditolak. Indonesia harus menjadi negara mandiri. Kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dapat diwujudkan, syaratnya, penguasa negeri ini, dengan dukungan semua komponen umat, harus berani menerapkan syariah Islam untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan ekonomi.

Penerapan syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan yakni dalam sebuah institusi kelembagaan yang bernama Khilafah . Institusi inilah yang akan menjadi negara yang kuat dan mandiri yang mengelola SDA untuck kemaslahatan rakyatnya.

Wallahu ‘alam bishowab[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.