Propaganda Kaum Feminisme Dibalik Pelarangan Pernikahan Dini

19

Oleh : Siti Komariah, S. Pd. I (Komunitas Peduli Umat Konda).

Jakarta, CNN Indonesia – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI secara resmi mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi undang-undang. Proses persetujuan diambil melalui rapat paripurna ke-8 tahun sidang 2019-2020 yang digelar di Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Senin (16/9).

Hal inipun disambut baik oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mengapresiasi DPR guna menyetujui usulan pemerintah soal perubahan batas usia minimal perkawinan bagi perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun dan akan dilanjutkan ke tingkat pengesahan.

“Tentunya kami mengapresiasi kesepakatan antara DPR dan pemerintah itu ya. Bagi kami di PSI, ini adalah kemenangan besar kaum perempuan dan anak, semoga segera disahkan menjadi UU. Kami akan terus kawal isu ini,” ujar Juru Bicara PSI, Dara Nasution di Jakarta, Sabtu (14/9/2019).

Mengurai Akar Masalah

Perubahan batas usia minimal tersebut dianggap sebuah kemenangan besar bagi kaum perempuan dan anak perempuan. Karena hal tersebut dapat membuat kaum perempuan memiliki hak lebih bebas melakukan aktifitas diranah publik, dan berkarya, dan mengenyam pendidikan lebih tinggi. Pun juga diharapkan mampu untuk mengentaskan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, KDRT dan tindak kejatahan lainnya terhadap para perempuan. Karena pernikahan usia dini disinyalir menjadi penyebab frekuensi pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga lebih besar dibandingkan dengan perkawinan antara orang dewasa.

Ya tak dapat dipungkiri bahwa kekerasan terhadap perempuan kian tahun kian bertambah. Berdasarkan cacatan tahunan komnas perlindungan perempuan bahwa di tahun 2019 ada kenaikan 14% kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu sejumlah 406.178 kasus. Data tersebut dihimpun dari tiga sumber yakni Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Agama (PA), lembaga layanan mitra komnas perempuan, dan Unit Pelayanan Rujukan (UPR).

Hal tersebut amatlah ironis, oleh sebab itu banyak dikalangan pembela kaum perempuan mengupayakan berbagai solusi guna mengurangi, bahkan membrantas kasus tersebut, salah satunya dengan menaikan batas usia pernikahan bagi perempuan dengan kata lain melarang pernikahan dini. Namun, yang menjadi pertanyaanya, benarkah dengan adanya perubahan batas usia minimal bagi perempuan akan mampu mengurangi berbagai masalah perempuan?

Seyogianya jika kita menilik lebih dalam akar permasalahan dari kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan bukanlah pernikahan dini, melainkan kerusakan moral dan sistem hidup saat ini. Dimana tidak dapat dipungkiri bahwa sistem sekulerisme membuat kondisi remaja saat ini sangat memprihatinkan. Saat ini generasi kita sedang mengalami dekadensi moral. Dimana mereka mengalami penurunan atau kemerosatan dalam segi sosial atau pergaulan. Bukan suatu rahasia lagi, di negara ini seks bebas di kalangan remaja, bahkan anak-anak sudah sedemikian merebak hingga taraf menggenaskan. Menjurus pada tindak kekerasan seperti pemerkosaan anak terhadap anak. Selain itu juga maraknya kehamilan di luar nikah yang sebagian berujung pernikahan dini. Adanya kelahiran tidak diinginkan yang pada akhirnya berujung aborsi atau penelantaran anak. Juga merebaknya prostitusi, serta penyakit seksual yang menular di kalangan perempuan dan anak.

Bukan hanya itu, permasalahan kekerasan perempuan dan KDRT pun dipicu oleh beban ekonomi yang kian mencekik. Yang mana perempuan saat ini mau tidak mau harus terjun keranah publik guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Pun harus berani memgambil resiko apapun, akibat kurangnya pelindungan negara terhadap perempuan.

Pada faktanya kekerasan perempuan dan anak perempuan juga bukan hanya terjadi pada kalangan pernikahan dini, melainkan juga terjadi pada pernikahan dewasa. Hal ini juga dipicu oleh pemahaman kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan. Yang mana diantara keduanya kurang memahami hak dan tangungjawab menjadi seorang istri dan suami. Tak ubah banyak seorang istri yang membangkang kepada suami, pun juga banyak suami semena-mena terhadap istrinya. Sehingga jelaslah yang menjadi perkara bukan permasalahan usia pernikahan melainkan hal tersebut diatas.

Propaganda Kaum Feminisme

Usulan perubahan batas usia minimal perkawinan bagi perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun menjadi kabar gembira bagi para kaum feminisme. Ya, karena mereka mengangap bahwa pernikahan dini merupakan bahaya nyata bagi kaum perempuan. Dimana hak perempuan menuntut ilmu, bekerja diranah publik harus terenggut dan digantikan menjadi tugas seorang istri.

Kaum feminisme beranggapan bahwa seorang perempuan yang hanya menjadi istri, dan berada di rumah guna mendidik anak dan pengatur rumah tangganya merupakan seseorang yang terkungkung haknya oleh kaum lelaki, sehingga tak heran jika mereka terus mengaungkan agar perempuan harus setara dengan kaum laki-laki yang bisa bekerja di ranah publik dengan berbagai dalih, salah satunya bahaya pernikahan dini.

Mereka juga berpendapat bahwa perempuan adalah sosok yang berdiri sendiri dan terpisah dari laki-laki. Ketika suatu permasalahan menimpa perempuan, dianggap sebagai permasalahan perempuan dan bukan permasalahan laki-laki.

Oleh karena itu, perempuan sendiri lah yang harus memperjuangkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tidak boleh campur tangan laki-laki. Mereka berusaha keras untuk mengangkat perempuan dari lubang lumpur ke permukaan sesuai dengan perspektif yang ada di benak mereka.

Dengan begitu, menurut mereka perempuan akan mampu eksis sebagaimana laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat. Akhirnya mereka terkungkung dalam pembahasan kebebasan dan kemandirian menurut perspektif kapitalis.

Inilah propaganda kaum feminisme yang terus menggikis identitas perempuan yang sesunguhnya, yaitu sebagai ummu wa robatul bait. Peran media Barat pun berhasil menciptakan profil muslimah yang tertindas, sehingga di zaman modern ini pemahaman tentang Islam sudah kuno dan kaku terbius oleh godaan feminisme yang menjanjikan kesetaraan gender dan kebebasan hak perempuan tak terbatas. Sehingga banyak perempuan-perempuan muslimah saat ini yang terjebak didalamnya.

Namun, pada kenyataannya perempuan tidak akan pernah merasakan kebahagian, ketenangan, dan terpenuhi hak-haknya dalam sistem kapitalisme ini, yang ada hanyalah mereka akan terus terekploitasi dari berbagai segi.

Islam Memandang

Islam sebagai agama dan peraturan hidup manusia. Dia memandang perempuan sebagai mahkota yang harus dilindungi dan dihormati. Karena dari tangannyalah tercipta para generasi-generasi penerus masa depan yang gemilang dan cerdas.

Di dalam Islam tidak pernah disebutkan secara pasti batas minimum usia pernikahan, yang disebutkan hanyalah ukuran kemampuan menikah. Hal ini didasarkan hadist riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud. Rasulullah bersabda, ” Hai pemuda, siapa diantara kalian yang telah mampu maka menikahlah. Menikah itu menundukkan pandangan dan lebih baik untuk kemaluan. Namun siapa yang belum mampu maka hendaknya ia puasa, karena itu lebih baik baginya .”

Sehingga jelaslah bahwa tidak ada batasan usia dalam pernikahan yang ada hanyalah syarat pernikahan, dimana antara laki-laki dan perempuan harus sudah mampu secara finansial. Mereka pun telah mengetahui hak dan kewajiban mereka sebagai seorang suami dan istri.

Pun juga penyelesaian masalah perempuan. Islam mengizinkan perempuan bekerja di ranah publik sebagai pendamping para suami sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Namun, disaat dia terjun ke ranah publik, negara tidak membiarkan mereka begitu saja seperti dalam sistem kapitalis saat ini. Ada batasan-batasan dan aturan interaksi antara perempuan dan laki-laki sesuai syariat Islam. Pun juga tidak menghilangkan peran hakiki mereka yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangganya.

Negara juga memenuhi kebutuhan hidup mereka. Nafkah mereka ditangung oleh para suami, sehingga mereka tidak perlu bekerja di luar rumah guna membantu kehidupan keluarga mereka. Sehingga mereka bisa fokus mendidik anak menjadi generasi-generasi pemimpin masa depan.

Tak hanya itu negara pun berperan aktif membendung situs-situs perusak moral generasi, seperti situs porno, LGBT, sek bebas, dan lain sebagainya. Serta pemberian sanksi tegas terhadap pelaku pelecehan seksual.

Sehingga jelaslah hanya dengan Islam kekerasan terhadap perempuan tidaklah terjadi dan perempuan akan senantiasa terjaga kehormatannya. Dia akan mendapatkan kebahagian, kedamaianya dan ketenangan. Wallahu A’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.