Politik Menggugah di Tengah Umat yang Jengah

121

Oleh: Asma Zuraidah (Muslimah Community)

Politik. Satu kata yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai monster mengerikan lagi membinasakan. Satu kata yang tak ubahnya seperti najis mugholladzoh (najis berat) yang harus dihilangkan.

Miris memang, jika umat sudah teramat benci dengan segala sesuatu yang berbau politik. Padahal selama ini mereka hidup di alam yang penuh dengan kebijakan politik terutama oleh para penguasa. Bahkan beragam persoalan yang dirasakan adalah buah dari kebijakan politik.

Makna politik dikerdilkan hanya sebatas perebutan kekuasaan dan penuh intrik kepentingan. Simpati dan empati kepada rakyat hanya selang beberapa saat saja menjelang pemilihan untuk mendulang suara. Setelah itu habis manis sepah dibuang.

Melihat fakta politik banyak akhirnya uang jengah.

Coba simak saja pembicaraan ibu-ibu waktu lagi belanja

“Ah… Sama aja. Nanti kalau kita udah milih juga mereka bakalan lupa sama janjinya. Buktinya sampe sekarang nasib kita ya gini-gini aja. Ga ada bedanya rezim ini-itu. “

Ada pula deretan ibu-ibu yang materialis yang mau nyoblos kalau ada uang pelicin.

“Ya mau gimana lagi. Saya juga bingung harus milih yang mana. Habisnya ngasih semua sih”

“Kalau saya ga usah bingung. Kalau dikasih ya saya terima. Siapapun itu yang ngasih. Jadi kalau yang ngasih amplop itu banyak partai, ya saya coblos semua. Kan nepatin janji”

Sebenarnya para ibu tadi hanya segelintir dari sekian banyak masyarakat di negeri ini yang gagal faham tentang makna politik. Benang merahnya sama, mereka sudah tak lagi menitipkan harapan pada para penguasa. Mereka tak lagi percaya.

Demokrasi dengan ideologi sekulerismenya telah sukses menciptakan aroma angker dalam dunia perpolitikan. Saling sikut sana-sini, pencitraan publik.

Mereka tak lagi peduli bagaimana agama mengaturnya. Yang mereka tahu hanya jalan pintas meraih singgasana kekuasaan. Akhirnya bisa ditebak, masyarakat yang jadi tumbalnya.

Pangkal dari segala sumber kebobrokan ini di negara ini juga di dunia tidak lain adalah sebuah cara pandang yang tidak memuaskan akal dan tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Tuhan dianggap sebagai pihak yang merepotkan dan menghalangi segala nafsu kekuasaan mereka sehingga tak perlu dibawa-bawa dalam mengatur urusan dunia.

Ideologi Kapitalisme pula yang menjadikan demokrasi sebagai prosedur tetap untuk menetapkan siapa saja yang berhak menjadi pemain dan bahkan aturan mainnya. Pemilu secara periodik menjelma jadi ritual wajib bagi suatu negeri yang mengadopsi sistem ini. Maka wajarlah kerusakan kian merebak bak jamur di musim penghujan. Visi misi mereka hanya dicukupkan selama masa jabatan mereka saja. Tak lagi berfikir jauh ke depan mengenai nasib anak cucu bangsa ini. Innaa lillaah…

Sebenarnya tidak sedikit para pemikir dari Barat yang gelisah dengan tata dunia yang sudah rusak ini. Siapa saja yang peduli dengan  nasib milyaran umat manusia ini pasti akan memahami bahwa kondisi ini tak cukup hanya sekedar ganti rezim atau ganti kepala daerah. Semua harus dirombak total dan revolusioner. Hingga ke akar-akarnya.

Perubahan mendasar ini diawali dengan cara pandang terhadap kehidupan. Hakikatnya hidup didedikasikan untuk ibadah. Pun demikian dengan berpolitik. Dalam Islam politik adalah hal yang mulia ‘riayatus syuunil ummah’ melayani urusan ummat. Mengelola agar semua urusan umat berjalan sesuai aturan allah SWT.¬† Inilah ideologi Islam. Satu-satunya jawaban dan solusi atas segala persoalan

Namun sangat disayangkan, Islam kini dibelenggu fungsinya hanya sebatas pemuas naluri beribadah semata. Islam hanya boleh digunakan dalam persoalan ibadah, nikah dan kepengurusan jenazah saja.

Untuk itu, siapapun yang merasa sebagai Muslim sejati, tak layak baginya untuk tak ambil peduli dengan kondisi keumatan. Tak pantas baginya untuk berdiam diri melihat kedzaliman massal dan sistemis ini terjadi. Ia harus bangkit dari keterpurukan dan membangunkan seluruh masyarakat agar mau dan mampu untuk bangkit dengan dan hanya dengan Islam. Insyaa Allah rahmat Islam akan bisa dirasakan seluruh alam ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.