Pindah Ibukota Akankah Jadi Solusi?

47

Oleh: Nofia Safitri (Mahasiswi UHO)

Resmi sudah Presiden RI Joko Widodo mengumumkan Kalimantan Timur sebagai ibukota baru Indonesia tepatnya di kawasan Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara. Sebelumnya, terdapat 4 Provinsi yang masuk nominasi pilihan lokasi ibukota yaitu di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Hingga pada akhirnya Kaltim dinobatkan sebagai kandidat terpilih ibukota RI.  Presiden mengatakan, pemerintah telah mengkaji sejumlah calon kawasan ibukota di Pulau Kalimantan. Jokowi menjelaskan bahwa Kalimantan Timur dipilih karena memenuhi sejumlah kriteria kebutuhan kawasan ibukota, yakni risiko bencana yang minim, memiliki lokasi strategis di tengah-tengah Indonesia, berdekatan dengan wilayah perkotaan, dan memiliki infrastuktur lengkap dan tersedia lahan yang dikuasai pemerintah seluas 180 ribu hektare (Republika, 28/08/2019).

Meskipun begitu, nampaknya kebijakan tersebut menuai banyak pro kontra. Bagaimana tidak, ditengah masalah yang bertubi-tubi menghampiri Indonesia dari berbagai aspek, Pemerintah malah membuat solusi tidak tepat yang dianggap melarikan masalah.  Bukannya memperbaiki kondisi ibukota yang sekarang, malah ingin pindah ibukota. Jelas hal tersebut menuai banyak kiritikan.

Pindah Ibu Kota Menyulut Permasalahan Baru

Dari fakta tersebut, sudah jelas proyek tersebut dianggap belum tepat dilakukan ditengah utang indonesia yang tembus Rp. 4.603 T per 31 Juli 2019 (Data: CNN Indonesia). Selain itu keadaan Jakarta yang masih berstatus ibukota Republik Indonesia dianggap memprihatinkan. Mulai dari pengolahan limbah yang belum efektif, polusi udara yang membuat Jakarta berada di urutan ke-4 dengan udara terburuk di dunia, pengangguran yang masih menjadi perhatian, kemacetan yang sudah lumrah,  banjir yang masih melanda, daerah-daerah yang masih terlihat kumuh, dan beragam masalah lainnya. Seharusnya, pemerintah menuntaskan problematika tersebut. Tidak ada jaminan bahwa pemindahan ibukota membuat Jakarta tidak terbebani lagi, malahan bisa jadi masalah di Jakarta bisa terabaikan.

Pembangunan ibukota di Kaltim dicanangkan tahun 2021 mulai konstruksi hingga tahun 2024. Dengan megaproyek yang membutuhkan dana triliunan bukan tidak mungkin jika terdapat penyalahgunaan dana oleh oknum –oknum yang serakah. Jika sumber pendanaan pemindahan ibukota berasal dari investor asing bukan tidak mungkin masuk “money trap” yang membuat aset negara tergadaikan.

Belum lagi pembangunan untuk pemukiman pegawai pemerintahan disana yang diperkirakan mencapai satu juta orang. Nantinya pula akan terjadi proses deforestasi besar-besaran yang akan mengurangi kawasan hijau nasional.

Dan yang tak kalah penting apakah penduduknya akan mampu beradaptasi kembali? Apakah disana akan menjadi pusat perkotaan layaknya Jakarta yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan atau hanya sekedar pemindahan pusat pemerintahan saja? Apakah mampu membuat pemerataan perekonomian di seluruh Indonesia? Jika tak sesuai harapan, apa yang harus dilakukan? Perlu antisipasi jika ditengah jalan ternyata kandas dan malah membebani rakyat.  Semua itu harus dipikirkan matang-matang karena persoalan pemindahan ibukota bukan hanya tentang sisi geografis dan ekonominya saja namun perlu ditinjau dari kulturnya pula.

Solusi dalam Islam

Semua problematika di negara ini pada akhirnya berakar dari sistem yang digunakan yaitu penerapan demokrasi dan liberalisme. Sistem buatan manusia yang memberikan peluang kepada siapa saja untuk berbuat semaunya. Padahal sudah jelas bumi dan seisinya diatur oleh Allah SWT, Pencipta alam semesta yang Maha Mengetahui. Maka sejatinya kita hanya perlu kembali kepada penerapan syariat Islam secara kaffah yang dilakukan oleh Negara baik dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah dalam terjemahan QS. Al-A’raf [7]:96 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”. Sementara pada ayat yang lain Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 85 yang artinya: “Apakah kalian ini mau beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) sementara kalian tidak mau beriman, tidak mau mengamalkan dengan syari’at yang lainnya, tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat seperti ini diantara kalian, kecuali kehinaan didunia. Dan pada hari kiamat nanti mereka akan dikembalikan sekeras-keras adzab. Tidaklah Allah sekali-kali lalai dari apa yang kalian lakukan.” Jelaslah dalam ayat tersebut ajaran agama khususnya Islam bukan hanya terkait dengan peribadatan semata melainkan mengatur seluruh lini kehidupan. Wallahua’lam bi ash-shawab[].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.