Pesta mewah IMF  ditengah Musibah

58
Pertemuan IMF 2018
Pertemuan IMF 2018

Oleh: Mira Susanti (Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Adakalanya ujian hidup terus membayangi diri serta negeri ini, musibah demi musibah datang silih berganti tanpa henti. Masih tergiang jeritan pilu warga Lombok yang digoncang gempa dengan kekuatan 6,4 SR pada tanggal 29 juli 2018 hingga mengalami gempa susulan sekitar 1089 kali,sungguh ini diluar dari prediksi manusia. Tak hanya itu selang beberapa bulan tepatnya 28 September 2018 Palu Donggala digoncang Gempa dengan kekuatan 7,7 SR  dan memicu terjadinya Tsunami yang berhasil meluluh lantakan serta memporak-porandakan seluruh bangunan bahkan ribuan nyawa pun melayang. Hal ini menambah deretan musibah bencana yang terjadi di negeri ini.

Disinilah peran pemerintah dibutuhkan untuk mengobati luka serta membasuh air mata derita para korban bencana. Serta uluran tangan saudara- saudara setanah air untuk dapat membantu meringankan beban serta kesedihan yang amat mendalam ini. Karena itulah harapan para korban agar mereka dapat kembali bangkit menjalani aktivitas kehidupan mereka. Sementara saat ini mereka masih diliputi trauma serta kekurangan makanan,obatan-obatan,pakaian,dan juga air bersih.

Namun apa yang hendak di kata, bahwa sikap pemerintah saat ini tidak menjadikan status bencana tersebut sebagai bencana nasional di sebabkan oleh berbagai faktor kepentingan negara dimata dunia. Tak heran kita menyaksikan bahwa lambatnya penanganan para korban serta sulitnya akses bantuan yang masuk,ditambah lagi para korban disulit dengan syarat-syarat tertentu agar mereka mendapatkan bantuan,hingga akhirnya para korban melakukan berbagai penjarahan disana sini. Namun pada akhirnya penguasa negeri ini sibuk beretorika soal penjarahan,bukan penjarahan yang terjadi hanya saja pengambilan sejumlah barang disebabkan sedikitnya rasa empati dari mereka, hanya sibuk berkoar- koar ini itu tanpa ada kepastian.

Wajar saja pada akhirnya pemerintah mengambil sikap demikian, karena ada kepentingan lain yang mesti mereka urusi dan lebih urgen menurut mereka dibandingkan dengan negara harus mengeluarkan dana besar untuk membantu para korban. Perkara urgen tersebut yaitu dimana penguasa kita disibukkan dengan pelaksanaan perhelatan besar yaitu  pertemuan IMF-World Bank dengan jumlah para delegasi yang datang mencapai hampir 20 ribu orang. Agenda ini diselenggarakan  dikota Bali pada tanggal 12-14 Oktober 2018 bulan ini. Tentu saja hal ini membuat pemerintah berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan para tamu negara. Mengingat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menjelaskan, pertemuan yang akan digelar di Nusa Dua, Bali ini merupakan acara terbesar sepanjang pertemuan IMF-World Bank dilaksanakan sejak tahun 1946. (Liputan6.com).

Agenda tersebut dilansir menghabiskan dana sekitar 866 miliar lebih,tentu saja ini bukanlah dana yang sedikit tapi ini merupakan penyambutan luar biasa megah dan juga pesta mewah ditengah musibah melanda. Kenapa tidak? Bahkan dana tersebut digunakan untuk membangun berbagai  infrastruktur,serta persiapan transportasi bagi para tamu negara. Dengan anggapan bahwa dana yang dipakai dalam perhelatan ini tidak sebanding dengan keuntungan yang akan didapatkan oleh negara bisa mencapai 1 triliun lebih. Hal ini akan menumbuhkan 32 ribu lapangan pekerjaan,destinasi wisata meningkat tajam, menarik banyak minat para investor asing untuk mengelontorkan dolarnya, dengan otomatis pendapatan negara meningkat secara dratis.

Itulah potret pemimpin negeri ini, dimana  mereka sibuk menghitung untung rugi sebuah pesta mewah ditengah-tengah kondisi rakyatnya ditimpa berbagai musibah serta kegundahan. Lantas kita bertanya untuk kepentingan siapakah mereka bekerja,apakah cukup dengan janji-janji manis yang sudah basi mampu mengobati segala perih pilu di hati rakyat??

Tentunya rakyat sudah  menyadari betapa kecewanya mereka disaat mereka tahu kalau penguasa yang mereka elu-elukan selama ini serta yang mereka harapkan  untuk dapat melindungi serta memenuhi kebutuhan mereka justru sibuk memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka hanya butuh suara rakyat ketika pemilu saja namun setelah itu mereka butuh uang rakyat untuk menutupi aib atau hutang-hutang mereka.

Sungguh ironi hidup di sistem yang tidak perduli kepada kepentingan rakyatnya ,padahal sejatinya penguasa ibaratkan sebagai pelayan umat serta mampu mengayomi umat menuju kehidupan yang sejahtera  bermatabat. Menjadi penguasa yang siap siaga berada digarda terdepan membela hak-hak dan kepentingan rakyatnya. Tentu cerminan penguasa yang demikian tidak akan pernah kita temui selama mereka hanya disibukkan dengan untung rugi demi membela rakyatnya. Apabila selama seorang pemimpin itu takut kepada Penciptanya dan menerapkan aturanNya maka ia akan lahir sebagai sosok yang dicintai oleh rakyatnya. Karena ia berkuasa untuk melayani umat bukan sebaliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.