Persekusi Ulama Upaya Mencegah Kebangkitan Islam

134

Ustadz Abdul Somad menyatakan permohonan maaf karena telah melakukan pembatalan rencana kegiatan ceramahnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk bulan September 2018 sampai dengan bulan Desember 2018. Menurut Ustadz Abdul Somad, tindakan ini dilakukan karena adanya intimidasi dari beberapa pihak yang menolak dirinya untuk mengisi ceramah di wilayah tersebut. Tindakan persekusi kepada Ustadz Abdul Somad bukan pertama kali terjadi, belum lama pernah terjadi ketika beliau hendak berceramah di Bali dan Hongkong dengan alasan anti kebhinekaan.

Penolakan terhadap Ustadz Abdul Somad di Semarang kali ini muncul setelah GP Ansor mencurigai pengajian ustadz Abdul Somad itu ditunggangi oleh HTI. Lantaran, adanya simbol bertuliskan kalimat tauhid di salah-satu atribut jemaah.

Ustadz Abdul Somad adalah ulama yang banyak digemari oleh masyarakat, materi ceramahnya dikemas dengan bahasa yang ringan sehingga mudah difahami masyarakat. Kehadirannya sangat dinanti oleh umat Islam dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Dengan adanya pembatalan ini menimbulkan kekecewaan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menantikan kehadiran Ustadz Abdul Somad di wilayahnya.

Materi ceramah yang disampaikan Ustadz Abdul Somad tidak hanya masalah ibadah kepada Allah tapi tak jarang isi ceramah menyinggung masalah politik, seperti masalah kekuasaan para penguasa. Kemungkinan materi politik ini membuat resah dan mengancam keberlangsungan kekuasaan para penguasa saat ini, sehingga mereka yang menyampaikan politik dalam ceramahnya dianggap dituduh anti Pancasila, anti NKRI, anti Kebhinekaan dan dianggap hendak melakukan makar. Tuduhan ini mereka gunakan untuk melegalkan tindakan persekusi terhadap para ulama yang menyinggung masalah politik dalam ceramahnya.

Islam adalah agama spiritual dan politik (ideologi) maka politik adalah materi yang harus disampaikan kepada umat. Ulama tidak boleh memilih-milih materi yang akan disampaikan untuk mengikuti kepentingan penguasa. Dengan melarang ulama membahas politik maka sama saja dengan mengharuskan ulama untuk menerima sebagian ajaran Islam dan menolak sebagian yang lainnya. Pelarangan ini sama saja dengan menyingkirkan peran Islam dalam mengatur kehidupan sebagai upaya sekularisasi.

Sekularisasi telah menjadi penyebab keterpurukan dan keterjajahan bagi umat Islam. Umat dipaksa untuk memisahkan agama dari kehidupan, dengan kata lain Allah dilarang hadir di dalam ranah politik. Dengan begitu para penguasa zolim akan mudah menipu rakyat dengan membuat kebijakan mengatas namakan Islam untuk membela kepentingan rakyat namun pada kenyataannya para penguasa membuat kebijakan hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. Rakyat hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan suara dalam pemenangan pemilu, setelah tujuan tercapai rakyat akan dilupakan.

Untuk itu umat tidak boleh alergi terhadap politik, umat harus faham politik Islam yang benar, bukan politik yang hanya mengatas namakan Islam. Dengan begitu umat akan mampu memahami mana pemimpin yang amanah yang bekerja untuk kepentingan rakyat, mana pemimpin yang hanya memperjuangkan kepentingan pribadi atau golongannya.

Hanya dengan politik (ideologi) Islam saja umat bisa memastikan kesejahteraan dan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah serta mencapai Rahmatan Lil Alamin karena mendapat Ridho Allah. Dengan  politik (ideologi) Islam, pemimpin akan merasa takut kepada Allah untuk menghianati kewajiban yang diembannya karena akan dimintai pertanggung jawaban atas kebijakan-kebijakannya.

Sebagai seorang muslim, memperjuangkan Islam sebagai agama politik (ideologi) adalah kewajiban karena dengan hanya dengan politik (ideologi) Islam saja kebangkitan Islam akan tercapai.

Untuk mencapai kebangkitan Islam, peran ulama sangat dibutuhkan. Umat sangat membutuhkan ulama yang ikhlas dalam berdakwah untuk mencerdaskan umat, ulama yang tak gentar meski ada banyak tantangan dakwah yang menghadang.

Ulama harus menyampaikan politik Islam yg shahih, namun jangan sampai mendekati pintu penguasa (nasihat imam al Ghazali)

Ulama yang dekat dengan penguasa, akan melegalkan tindakan penguasa untuk melakukan kezoliman. Penguasa akan bertindak semaunya untuk mencapai tujuannya, yaitu melanggengkan kekuasaannya. Penguasa yang tajam pada ulama yang membahas politik, namun tumpul pada pemuka agama lain yang menghina Islam adalah fakta yang tengah terjadi saat politik (ideologi) Islam ditinggalkan. Bahkan tindakan memfitnah Islam dan menghina Islam tidak di tindak secara serius bahkan terkesan dilindungi. Contoh kasus Viktor Laiskodat, telah secara nyata menuduh ajaran Islam, soal tudingan pemaksaan warga negara non Muslim untuk memeluk agama Islam dan adanya ancaman pembunuhan terhadap umat Islam, namun Victor masih melenggang dengan tenang menghirup udara segar dan menikmati kebebasan. Penghinaan dan fitnah yang dilakukan para pemuka agama lain, seperti fastur-fastur dan pendeta juga sering terjadi, namun sangat minim tindakan aparat.

Umat menentang tindakan persekusi pada ulama, dan membela ulama-ulama yang dikenal mampu membangkitkan umat. Keberpihakan umat tersebut menjadi tanda bahwa umat mulai peduli degan agamanya, shg menjadi gambaran bahwa Islam in syaa Allah akan segera bangkit, Allahu Akbar. Wallahu a’lam bisowab.

oleh: Nur Hasanah (Aktivis Peduli Umat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.