“Permainan Dollar” Amerika di Turki

69

AS Membuka Perang Ekonomi Melawan Turki.

Komentar

Sejak Presiden AS Trump mengambil alih pemerintahan, AS telah menjadi lebih tumpul dalam dominasinya dan lebih terlihat dalam keserakahannya untuk mendapatkan keuntungan dan kekuasaan. Kebijakan Trump yang dikenal dengan “Amerika First” bukan hanya slogan tetapi menjadi dasar kebijakan luar negerinya. Bukan karena hal itu sebelumnya menjadi masalah, tetapi sekarang hal tersebut memiliki dimensi baru di mana ketidaksopanan telah menjadi norma diplomasi.

Tanpa ragu-ragu, Amerika memberikan pesan yang jelas kepada dunia bahwa mereka yang berkuasa dan semua negara bangsa dan lembaga internasional harus tunduk pada kehendaknya. Bahkan “sekutunya”, seperti Inggris, Kanada, Australia, dan UE tidak dikecualikan dari kebijakan itu apalagi negara-negara seperti Iran dan Turki.

AS mengambil langkah ekstrem dengan menaikkan kekuatan ekonomi dan dolar setelah krisis ekonomi yang menghancurkan pada tahun 2008. The Fed, bersama dengan bank-bank sentral lainnya, mengambil peran dominan dalam menstabilkan krisis keuangan global dengan membanjiri pasar keuangan dengan dolar AS dan pinjaman besar AS di seluruh dunia. Negara-negara berkembang dapat dengan mudah meminjam dolar Amerika dengan tingkat bunga 0 – 0,25 persen. Hingga tahun 2014, neraca keuangan meningkat empat kali lipat menjadi 4.5 triliun dolar. Pada tahun 2017, negara itu mulai “menormalkan” neraca keuangannya dengan menarik kembali dolar Amerika dari pasar keuangan dan menaikkan suku bunga. Hal ini memiliki efek langsung pada devaluasi mata uang lokal dan pada dolar AS yang dipinjam yang sekarang berlipat ganda dan menjadi hampir mustahil untuk membayar kembali dalam mata uang lokal karena terjadinya devaluasi di satu sisi dan kelangkaan dolar di sisi lain. Seperti halnya yang terjadi dalam kasus Turki dan mata uang lokal Turki, YTL.

Jadi, hanya masalah waktu bagi Turki untuk dilanda krisis ekonomi karena manuver itu sendiri terjadi dalam jaringan keuangan kapitalis yang didominasi oleh AS. Jadi, satu saja tweet dari Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari Turki sudah cukup untuk mendevaluasikan lira Turki dalam beberapa detik saja.

Hal ini tentu saja tidak ada hubungannya dengan perselisihan antara AS dan Turki tentang pendeta Brunson. Ini hanyalah suatu tirai asap, yang diatur oleh AS untuk mendorong agendanya di Turki. Seperti yang dikatakan oleh Jubir Gedung Putih Sarah Sanders: “Tarif yang diberlakukan pada baja tidak akan dihapus dengan dibebaskannya pendeta Brunson. Tarif itu adalah khusus untuk keamanan nasional.” Jadi, Trump dapat meyakinkan konstituennya yang beragama Kristen dan kaum nasionalis sayap kanannya dengan mengatakan bahwa “Pastor Andrew Brunson, seorang pria yang baik hati dan seorang pemimpin Kristen di Amerika Serikat, diadili dan dianiaya di Turki tanpa alasan.” Dan Erdogan dapat menyalahkan kekuatan “asing” dan membangkitkan sentimen-sentimen Islam yang palsu dengan mengatakan; “Jika mereka memiliki dolar, kita memiliki Allah” dengan cara ini melemparkan kebijakan ekonomi yang membawa bencana dari dekade terakhir di mana dia menjebloskan Turki ke dalam utang kepada asing yang sangat besar dan menyebarkan model sistim ekonomi kapitalis dalam skala besar.

Turki tahu jauh sebelum krisis ekonomi yang direncanakan sebelumnya in akan datang. Itulah salah satu alasan mengapa Erdogan memajukan pemilu 18 bulan sebelumnya untuk mengantisipasi ledakan ekonomi yang akan terjadi, yang memberikannya dukungan, tepat pada waktunya sebelum Lira Turki runtuh. Setelah dia terpilih, sistem kepresidenan yang baru terpilih akan terjamin, peran Turki di Suriah berkurang dan Amerika mencapai tujuannya dengan mengamankan hegemoni dan pengaruhnya, kemudian membuka perang ekonomi melawan Turki.

Hubungan AS dengan negara lain didasarkan pada keuntungan dan manfaat dan ketika manfaat itu dipertanyakan atau tujuannya tercapai, aliansi tersebut dipertanyakan. Jadi, Turki harus belajar bahwa negara-negara kafir tidak akan pernah menjadi teman atau sekutu umat Islam. Mereka adalah musuh Islam dan kaum Muslim. Saya ingin mengingatkan kaum Muslim di Turki akan pepatah kuno Uthmani:

“Domuzdan post gavurdan dost olmaz”: “tidak mungkin memakai kulit binatang dari kulit babi dan memmiliki teman orang kafir.”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [Terjemahan QS. Al Maidah: 51]

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Okay Pala

Perwakilan Media Hizbut Tahrir Belanda

(sumber : http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/news-comment/15902.html)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.