Pergantian Tahun, Saatnya Menuju Perubahan Hakiki

152

Oleh : Ifa Mufida*

Memasuki Tahun Baru, sudah sepatutnya Indonesia melakukan muhasabah sebagai refleksi perjalannya setahun yang lalu.  Muhasabah ini memang sepatutnya tidak hanya di pergantian tahun, namun suasana politik di tahun 2019 nampaknya memang pantas untuk benar-benar berbenah dan berubah untuk mencari solusi yang hakiki sehingga membawa kepada keberkahan.

Kita bisa mengamati dari berbagai sisi dan bidang kehidupan, ternyata banyak sekali yang perlu diperbaiki dari negeri tercinta ini. Saya menyoroti dari sisi kesehatan dulu, betapa kita melihat masih banyak PR yang harus dikerjakan, mulai berbagai penyakit yang lumayan menakutkan di masyarakat antara lain HIV/AIDS yang kini telah menjangkiti ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak generasi penerus. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun lalu menyebut, 0,9 persen remaja perempuan dan 3,6 persen remaja laki-laki (berusia 15 sampai 19 tahun) mengaku pernah melakukan hubungan seksual.

Hotline aborsi oleh Samsara di Indonesia menunjukkan 30 persen kliennya berusia 18 sampai 24 tahun dan 51,2 persen di antaranya berstatus belum menikah (Tempo.co, 28/09/2018). LGBT menjadi sebuah gerakan yang terus berkembang dan menyasar generasi muda dan membuat kerusakan demi kerusakan. Ini merupakan sebuah hal yang sangat miris, dimana generasi yang didambakan oleh negeri ini seolah-olah menghancurkan mimpi untuk mewujudkan sebuah peradaban yang gemilang.

Dari segi tindak pidana, dilansir dari metro.sindonews.com, Polda Metro Jaya menyebut tindak kejahatan di Ibu Kota Jakarta terjadi setiap 16 menit 27 detik. Pada 27 Desember 2018, dilansir dari merdeka.com Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebut polisi terlibat narkoba dan pencabulan meningkat di 2018. Begitu juga dengan kasus perkosaan inces, manusia bertingkah laku layaknya hewan. Seorang ayah menghamili anak gadisnya, kakak menghamili adiknya, seolah-olah menjadi hal yang biasa terjadi di negeri nusantara ini.

Dilihat dari aspek ekonomi, dibanding 2017, utang Indonesia naik jadi Rp 5.191 Triliun (idntimes.com, 18/09/2018). Dollar melangit dan menjatuhkan nilai rupiah menjadi Rp 15.413,90 per US Dollar per 4 Oktober 2018. Tak cukup di sini di akhir tahun ini divestasi Freeport telah dipolitisasi oleh rezim, yang seharusnya bisa dimiliki seutuhnya oleh rakyat Indonesia pada tahun 2021.

Di sisi lain, SDA dijarah asing, pekerja aseng memburu pekerjaan pribumi sehingga pengangguran meningkat.  Angka kemiskinan semakin meningkat sebab harga-harga barang pokok dan tarif dasar listrik terus melonjak tinggi. BBM pun secara diam-diam bergerak tinggi. Belum lagi pajak menjadi bayang-bayang yang terus menghantui seluruh aspek kehidupan. Begitu juga BPJS   yang semakin menyusahkan rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tidak juga dicarikan solusi.  Sungguh semakin membuat sengsara rakyat. Sedang sistem perpolitikan Indonesia saat ini telah nyata menjadi rezim yang represif, anti kritik dan tidak bisa menegakkan keadilan hukum.

Tidak cukup di situ, yang menjadikan semakin sedih dan perihnya negeri ini adalah ketika beragam musibah terjadi bertubi-tubi.  Bencana terjadi di beberapa titik di Indonesia. Setelah gempa yang terjadi di Lombok, tsunami di Donggala, Palu, Gunung Gamalama yang meletus memuntahkan asap berwarna putih setinggi 200 meter, erupsi Gunung Anak Krakatau hingga tsunami di Selat Sunda, dan sederet gunung berapi lainnya dalam status waspada dan siaga.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selama tahun 2018 terjadi 1.999 kejadian bencana di Indoneisa (Kompas.com, 25/10/2018). Dampak yang ditimbulkan bencana tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Musibah-demi musibah yang terjadi  bisa jadi adalah bentuk  teguran dari Allah SWT. Musibah tersebut  adalah akibat ulah manusia yang banyak melakukan dosa demi dosa. Musibah karena berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah Allah SWT. Terutama yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan zalim yang mereka lakukan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah ar-Ruum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”

Maka saatnya berbenah, apakah kiranya yang menyebabkan negeri ini begitu terpuruk di berbagai segi kehidupan. Negeri ini sungguh diatur oleh sistem kapitalisme sekuler yang menyebabkan tidak diizinkan nya agama untuk mengatur tata kehidupan di masyarakat. Seks bebas, LGBT, pornografi pornoaksi yang mewabah adalah akibat tata kehidupan sekuler liberal dan gaya hidup yang permissif. Kesenjangan kemiskinan yang begitu jauh, terjadi akibat sistem ekonomi kapitalistik yang menghalalkan sumberdaya alam dikuasi oleh swasta. Pengelolaan politik ekonomi yang demikian juga menjadikan betapa mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan. Negeri ini pun dicengkeram oleh hutang Ribawi yang begitu besar. Padahal riba adalah dosa besar yang dilaknat oleh Allah SWT. Sistem politik sekuler menjadikan rakyat semakin terjauhkan dari Islam, rezim sedemikian represif terhadap islam dan dakwah adalah bentuk kedholiman menyakiti umat islam.

 riba, yang pelaku utamanya adalah negara, dan zina yang juga dibiarkan oleh negara, boleh jadi menjadi penyebab datangnya azab Allah SWT atas negeri ini. Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Jika zina dan riba telah merajarela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, 2/42).

Maka sudah saatnyalah, negeri ini berbenah untuk segera meninggalkan dosa-dosa tersebut. Hutang Ribawi hanya akan bisa terselesaikan jika umat Islam memegang sistem aturan ekonomi Islam. Begitu juga perzinaan juga akan dihilangkan ketika umat ini menerapkan tata aturan pergaulan Islam yang melarang adanya kholwat ataupun ikhtilat, terlebih perzinaan yang dalam sistem sekuler justru dibebaskan atasnya nama HAM. Islam juga memiliki sistem hudud yang berasal dari Al-Qur’an dan sumber hukum Islam yang lain yang sejatinya tidak diterapkan saat ini. Padahal hudud ini akan mendatangkan keberkahan jika ditegakkan dimuka bumi ini. Sebagaimana hadist Nabi SAW, “Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih baik untuk manusia daripada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi.”(HR Ahmad).

jika satu  hadd (hukuman) saja diterapkan di muka bumi membawa kebaikan sedemikian besar, lalu bagaimana jika yang diterapkan adalah semua hudûd dan syariat Allah SWT secara menyeluruh? Tentu keberkahan akan berlimpah-ruah memenuhi bumi. Pasalnya, penerapan hukum Islam atau syariah Islam secara kaffah adalah wujud hakiki dari ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan berlimpah dari langit dan bumi.

Sebagaimana firman-Nya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan” (TQS al-Araf [7]: 96). Allahu A’lam bi Showab.

* Pengamat Sosial dan Pemerhati Masalah Umat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.