Peran Santri Untuk Kebangkitan Umat

62

Bulan oktober menjadi bulan yang istimewa bagi para santri di Indonesia, sejak dikeluarkannya keputusan presiden nomor 22 tahun 2015 tentang hari santri nasional, menjadi momen terbaik untuk membuktikan kepada masyarakat luas, bahwa santri tidak hanya melulu belajar agama, bahkan mampu bersaing dengan lulusan sekolah formal, hal ini seiring pesan dari Mentri Agama Indonesia Lukman Hakim Saifudin, bahkan Presiden Joko Widodo pun mengharapkan peran para santri untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  seperti menjaga rumahnya sendiri, dengan menyebarkan ilmu dan perilaku dengan bijak, moderat, toleran, cinta tanah air untuk menghadapi segala perubahan salahsatunya berita hoaks, para santri diharapkan mampu menyaring berita dengan bijak(https://nadional. tempo. co/read/1138565/hari-santri-nasional-ini-pesan-jokowi-kepada-santri).

Terlepas pesan yang disampaikan oleh presiden dan mentri agama, maka kita bisa melihat bahwa jumlah santri di Indonesia dengan rentang usia produktif antara 15-25 di indonesia berjumlah 3.962.700 orang tersebar di sejumlah pesantren yang ada di Indonesia sekitar 25.938 pesantren(data KEMENAG 2018), menjadi sasaran yang sangat empuk untuk ditarik sebagai pendukung dalam pemilihan baik tingkat daerah ataupun pusat.  Jumlah santri yang banyak dengan rentang usia produktif, menjadikan para santri bisa dibawa sesuai keinginan baik individu, kelompok,  bahkan ideologi tertentu menuju tujuan yang ditargetkan,  semisal menjadikan para santri sebagai agen moderat, karena ketundukan mereka terhadap sosok guru serta ketawadhuan mereka untuk taat kepada para gurunya menjadikan mereka aset yang tidak ternilai, terlebih kurikulum di pesantren terlihat mulai ada penggabungan kurikulum dari pemerintah yang tidak hanya fokus kepada pelajaran agama, tetapi mulai memasukkan pelajaran umum berasaskan pemisahan agama dari kehidupan.

Hal ini menjadi salah satu indikasi ada pihak tertentu yang menginginkan para santri ini, tidak terlalu memegang erat pemahaman terhadap agama islam yang benar, kalaupun belajar agama islam  sebatas pelajaran yang berkaitan dengan individu, tidak peka terhadap persoalan umat,  berbeda dengan santri ketika masa penjajahan, mereka menjadi garda terdepan untuk menghilangkan penjajahan dari bumi Indonesia ini dengan semangat jihad fii sabilillah, karena para santri meyakini ketika penjajahan dihilangkan dari muka bumi indonesia ini,  mereka mampu menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat tanpa disetir oleh siapapun dan Negara manapun,  terlebih para santri meyakini hanya islamlah yang mampu memberikan ketenangan, keamanan dan kesejahteraan bagi siapapun di belahan bumi manapun.

Keberadaan para santri dengan semangat pemahan islam mumpuni,  kepekaan terhadap permasalahan umat merupakan ajaran islam yang Rasulullah sampaikan kepada para sahabat yang rasul bina di rumah Arqom bin Abi Arqom notabene mereka berusia produktif sama seperti para santri, semisal bagaimana gagahnya Zubair bin Awwam,  Muhammad al Fatih,  Thalhah bin Ubaidillah dengan kedermawannya, J’afar bin Abi Thalib,Zaid bin Haritsah serta Abdullah bin Rawahah yang ketiganya diutus untuk melakukan futuhat ke wilayah Romawi dan para sahabat lainnya memberikan gambaran bahwa mereka faham keberadaan mereka sangat dibutuhkan islam untuk menyampaikan, menyebarkan serta mempertahankan islam ke seluruh dunia,  hal inilah yang harus ditanamkan ke dada, jiwa serta pikiran para santri, bahwa dipundak merekalah perjuangan islam ini akan berlangsung, karena para santri inilah salahsatu komponen umat menuju kebangkitan islam hakiki dengan segala potensi yang dimilikinya.

Upaya yang mampu dilakukan oleh para santri untuk mengembalikan posisi umat menjadi umat terbaik, dengan mengembalikan peran santri untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat menyampaikan ajaran islam sebenarnya, karena para santri mempunyai bekal mumpuni berupa ilmu-ilmu islam yang mampu memecahkan permasalahan umat, serta perasaan kepekaan terhadap permasalahan umat menjadi amunisi utama sebagai senjata penghancur terhadap ideologi selain islam, serta garda terdepan dalam melakukan koreksi terhadap penguasa, sehingga lengkap peran santri sebagai agen perubahan menuju peradaban islam yang cemerlang. Wallhu’alam bishowwab.

Oleh Ummu Arina (Pemerhati Umat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.