Penaklukan Tidak Sama dengan Penjajahan

Oleh : Irianti Aminatun (Member Akademi Menulis Kreatif)

Beberapa hari terakhir viral video Yahya Staquf. Diantara pernyataan Yahya Staquf dalam video tersebut adalah… “ Islam kita ini Islam nusantara, Islam kita ini Islam sejati bukan islam abal-abal model Timur Tengah. Ini Islam sejati. Kenapa Islam Nusantara mampu menjadi Islam yang sejati? Karena Islam hadir dan hidup di Nusantara bukan sebagai penakluk. Lain dengan yang di Arab dan anak-anak peradabannya, semuanya Islam datang sebagai penakluk…..ya kurang lebih sebagai penjajah”

Pernyataan tersebut layak untuk dikritisi, sebab pada faktanya ada perbedaan diametral antara penaklukan dan penjajahan.

Penaklukan dan penjajahan sama-sama merupakan politik luar negeri dari sebuah negara. Perbedaannya terletak pada basis ideologi yang melatarbelakangi mengapa penaklukan ataupun penjajahan dilakukan. Penaklukan  dilatarbelakangi oleh ideologi Islam. Ideologi yang di design oleh Dzat Yang Maha Baik yaitu Allah SWT untuk menyebarkan rahmat di seluruh alam.   Motivasi kaum Muslimin ketika mereka hendak melakukan penaklukan terhadap wilayah kufur adalah membebaskan manusia dari penyembahan manusia terhadap sesama manusia, menuju penyembahan manusia kepada Allah SWT. Dan ini merupakan perintah dari Allah SWT.

Penaklukan atau yang juga dikenal dengan pembebasan atau futuhat adalah bagian dari syariat jihad. Yaitu perang yang bersifat ofensif.  Perang yang dimulai oleh kaum muslimin ketika mereka memaksudkan dakwah Islam kepada umat lain di negeri mereka, namun penguasanya menghalang-halangi kaum muslimin untuk menyampaikan kebenaran (Mushthafa Dib al-Bugha dkk, al Fiqh al manhaji ‘ala Madzhab al Imam al Syafi’i, juz 8 hlm 115).

Inti dari jihad adalah dakwah, yaitu agar Islam masuk, tersiar, dan diterapkan di wilayah yang menjadi target dakwah. Adapun perang, sebatas untuk menghilangkan penghalang dakwah yg biasanya datang dari penguasa wilayah setempat.

Meski berupa aktivitas perang fisik, jihad tidak boleh dilakukan secara sembarangan.  Jihad memiliki tatacara tertentu yang khas yaitu diawali dengan menawarkan kepada penguasa kaum kafir untuk memeluk Islam. Kalau tidak mau mereka ditawarkan masuk dalam kekuasaan Daulah islam seraya membayar jizyah, dan mereka tetap pada agama mereka. Jika dua opsi tersebut ditolak baru dijalankan opsi ketiga yaitu memerangi mereka. Jadi perang adalah opsi terakhir.

Tiga pilihan diatas merupakan tatacara baku yang datang dari Rasuullah SAW. Beliau bersabda “Jika kamu menjumpai musuhmu kaum musyrik, maka serulah mereka untuk memilih salah satu dari tiga perkara. Apapun ketiganya dari yang mereka pilih maka kamu harus menerimanya. Serulah mereka untuk masuk Islam. Jika mereka mau, maka terimalah dan biarkan mereka…jika mereka tidak mau maka mintalah dari mereka jizyah, jika mereka mau maka terimalah dan biarkan mereka. Jika mereka tidak mau, maka mintalah pertolongan Allah, perangilah mereka”. (HR.Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

Tiga pilihan tersebut adalah ketentuan syariat dari Allah SWT. Kaum muslimin hanya menjalankan sebagai bagian dari hukum Islam terkait dengan politik luar negeri.

Karena misi penaklukan adalah menyebarkan rahmat maka kita bisa lihat dalam catatan sejarah betapa penaklukan Islam membawa kemakmuran dan kesejahteraan di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya. Penerapan aturan Islam pada masyarakat yang ditaklukkan membuat mereka tidak pernah merasa berbeda dengan yang menaklukkan mereka. Daulah islam memberikan jaminan kebutuhan pokok individual seperti sandang pangan dan papan serta kebutuhan pokok kolektif seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan, sama bagi seluruh warganya, tanpa melihat apakah ia merupakan rakyat yang ditaklukkan atau tidak. Mereka sama-sama hidup sejahtera di bawah naungan Daulah Islam.

Rasululah sangat memperhatikan perlakuan terhadap ahlu dzimmah, agar mereka tidak disakiti dan didzalimi. Rasulullah SAW bersabda :”Barang siapa yang menzalimi (kafir) mu’ahid atau mengurangi (hak-hak)-nya atau membebani lebih dari kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan, maka aku akan memperkarakannya pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud)

Diantara pengakuan keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan nonmuslim dalam naungan Daulah islam adalah surat yang dikirim oleh kaum Nasrani di Syam, kepada sahabat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra pada tahun 13 H. “Wahai kaum muslimin, kalian lebih kami cintai daripada bangsa Romawi meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, lebih berbelas kasih terhadap kami, lebih bersikap adil terhadap kami, dan lebih baik dalam memerintah kami.” (al Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm 139).

Yang perlu dicatat adalah keberhasilan Daulah Islam dalam memberikan perlindungan, keamanan, dan kesejahteraan warga negaranya bukan semata karena kesholehan dan keluhuran Kepala Negara dan punggawa negaranya, tetapi juga karena sistem yang diterapkan untuk mengatur urusan rakyat adalah sistem shoheh yang berasal dari Allah SWT.

Ini jelas berbeda 180 derajat dengan penjajahan. Penjajahan adalah bagian tak terpisahkan dari ideologi Kapitalis sekuler buatan akal manusia.  Motivasi negara Barat dalam menjalin hubungan dengan negara lain adalah menjajah. Simak saja ucapan Raja Belgia, negara yang sangat berhasrat untuk menjajah Afrika yang kaya raya “Saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan ‘sepotong kue’ dari negeri Afrika yang luar biasa ini” (Raja Belgia abad ke-19, Leopold III). Atau pernyataan Menlu Inggris, Selwyn Ll0yd, yang mengirim surat pada rekan sejawatnya Menlu AS waktu itu, (23 Januari 1956) yang sama-sama berambisi untuk menduduki Timur Tengah “Kita harus mempertahankan kontrol atas minyak ini, apapun resikonya”.

Pernyataan para Penguasa Barat ini melukiskan motivasi dasar yang menggerakkan kebijakan Luar Negeri negaranya adalah menjajah. Pendudukan, penjajahan, kolonialisme, imperialisme atau apapun namanya, yang dilakukan negara-negara Barat hanya berujung pada penderitaan dan penindasan terhadap manusia. Tidak hanya itu, penjajahan adalah aktivitas yang paling banyak menimbulkan bahaya bagi stabilitas regional maupun internasional. Bukti tentang hal ini dapat kita saksikan dan rasakan hingga saat ini. Krisis Kongo, krisis Timur Tengah, krisis Myanmar  yang menyebabkan jutaan rakyat mengungsi, menderita, tanpa harapan hidup adalah contoh bahaya penjajahan atas stabilitas dan kemanusiaan. Collin Powel  ketika ditanya tentang terbunuhnya lebih dari 200 ribu rakyat Irak dalam perang Teluk di era Bush Senior, dengan enteng ia menjawab ”tidak peduli dengan angka-angka itu” atau Madeline Albright (Menlu AS era Clinton) ketika ditanya tentang jumlah korban rakyat Irak yang mencapai 800 ribu lebih akibat embargo PBB, ia hanya menjawab “ We think the price worth it” (Kami kira itulah harga yang pantas untuk itu). Jadi, membunuh ratusan ribu nyawa, adalah harga yang pantas demi kejayaan kapitalis.

Dengan demikian, peperangan dan penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara imperialis Barat tidak pernah dimaksudkan untuk menolong atau memberikan bantuan bagi bangsa-bangsa yang dikuasai, tetapi dimaksudkan untuk mengambil atau menjarah segala sesuatu dari mereka. Hal itu bukan semata karena pribadi para penjajah itu rakus, tetapi lebih karena pemikiran-pemikiran kapitalisme hasil rekayasa manusia yang mereka anut dalam kehidupan. Aturan-aturan buatan para kapitalis inilah yang kemudian diterapkan sebagai sebuah sistem kehidupan di tengah-tengah bangsa yang dijajahnya. Oleh sebab itu penjajahan dan penindasan akan terus berlangsung siapapun yang memimpin. Penderitaan, kezaliman, perbudakan akan selalu membayangi kemanapun Penjajah Barat tersebut pergi. Hal ini akan terus berlangsung selama ideologi Kapitalis masih mereka emban.

Demikianlah, perbedaan antara penakluk Muslim dan penjajah kafir terletak pada ideologi yang mereka anut. Perbedaan antara keduanya sangat kontras bagaikan langit dan bumi. Perbedaan itu sangatlah jelas, dan selalu meninggalkan jejaknya pada bangsa-bangsa dan berbagai negeri hingga sekarang. Jejak penaklukan Islam memberi pengayoman dan menyebar rahmat, pemakmur dunia dengan cahaya petunjuk Illahi. Sementara jejak penjajahan kafir telah menyebabkan penderitaan dunia yang tiada berakhir hingga saat ini.

Maka menyamakan penaklukan dengan penjajahan adalah pendapat  tidak berdasar yang bertentangan dengan realita.

“Dialah yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk Dia menangkan atas segala agama yang ada, walaupun kaum musyrik membencinya”. (TQS al Taubah [9]:33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.