Pemurtadan Dibalik Bantuan Kemanusiaan!

80
Dewi Handayani atau yang akrab dipanggil Handayani, dipanggil ke kantor polisi lantaran dia merekam video kristenisasi pada anak anak muslimin korban gempa lombok

Bencana alam gempa yang terjadi di Lombok menjadi perhatian bagi tiap kalangan mulai dari orang perorang hingga komunitas-komunitas kemanusiaan turut memberikan bantuannya. Tak terkecuali komunitas terselubung yang diduga merupakan upaya pemurtadan bagi korban gempa Lombok ini yang notabene mayoritas Muslim ini.

Dibalik kesulitan korban gempa Lombok ini masih ada saja kelompok yang mencari celah untuk menggelincirkan akidah umat Muslim. Seperti yang terjadi di Dusun Loloan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditemukan buku-buku yang berisi materi kristenisasi yang siap dibagikan kepada masyarakat. Dilansir dari VOA Islam (25/08/ 2018), salah satu relawan asal kota Mataram, Farhan Abu Hamzah, yang tengah bertugas di Dusun Loloan mengungkapkan, tidak diketahui siapa pengirim buku tersebut namun buku-buku tersebut tergeletak di posko bantuan korban gempa yang berada di kantor dusun. Lalu temuan makanan ringan didalam plastik yang diselipkan tulisan-tulisan yang kerap digunakan oleh umat Nasrani seperti “Pertolongan Tuhan indah pada waktunya”, “Kamu tidak sendiri dalam kesusahan. Allah bersamamu”.

Ditambah lagi ada percakapan di dalam jejaring whatsapp group yang menyebut adanya para misionaris melakukan pengkristenisasian dengan dalih trauma healing khususnya untuk para pengungsi anak-anak. Dalam percakapan tersebut juga beredar foto-foto yang memperlihatkan buku-buku berisi materi pemurtadan.

Lemahnya Peran Penguasa Menjaga Akidah Umat

Hal ini  terjadi karena lemahnya peran negara dalam penanganan korban bencana Lombok, sehingga memberi celah kepada beberapa kelompok yang berupaya terhadap pendangkalan akidah dengan dalih memberikan bantuan kemanusian.

Penguasa negara ini disibukkan gelaran Asian Games sehingga kita dibuat terlena sedang sebagian saudara kita di Lombok tak hanya membutuhkan dana namun healing therapy pasca terkena bencana ini. Maka dengan kondisi ini ada pihak-pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk melakukan aksi masif pemurtadan yang dikemas dalam bentuk bantuan. Sungguh umat Islam sedang kecolongan dalam hal menjaga akidahnya. Sehingga bagi para korban yang lemah akidahnya akan mudah dimurtadkan melalui suguhan bantuan dan “kata-kata” yang memberikan energi positif terhadap trauma dikarenakan bencana bertubi-tubi ini.

Sebagai seorang muslim, seharusnya kita bisa menyadari dan harus intropeksi diri, mengapa gempa yang terjadi di Lombok terjadi secara berkala dan terus menerus, seharusnya kita memiliki pemikiran bahwa ini bukan terjadi hanya karena fenomena alam semata, tetapi bisa jadi ini adalah teguran dari Sang Maha Pencipta untuk menyadarkan seluruh kaum muslim terutama yang berada di pusat bencana agar lebih mendekatkan diri kepada Nya.

Pendangkalan akidah akan terus terjadi selama sistem kekuasaan seperti ini masih dipertahankan yang mana telah banyak bukti bahwa peran negara yang seharusnya menjadi pelindung dan perisai (riayah dan junnah) terlebih saat ditimpa musibah seperti ini.

Seharusnya bencana bertubi-tubi ini, utang negara kian melonjak, mahalnya kebutuhan pokok, dan pengabaian terhadap urusan-urusan rakyat seharusnya menjadi cerminan bagi kita bahwa sosok penguasa bukanlah sibuk dengan urusannya sendiri terlebih sibuk dengan kepentingan partai semata. Sebab bencana alam memiliki dua sisi yang patut direnungi yaitu: sebagai ujian ketakwaan bagi seorang Muslim apakah dengan bencana ini semakin kuat keimanannya kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala  dan untuk memberikan peringatan bagi hamba-Nya yang telah lama lalai terhadap segala perintah dan larangan-Nya.

Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran, “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (TQS. Al Qhashash[28]:59)

Peran dan Tanggung Jawab Negara

Di dalam Islam salah satu tugas negara yang penting adalah menjaga akidah umat. Maka Rasulullah SAW., dengan tegas memberikan sanksi kepada umatnya yang murtad. Hal ini disebabkan akidah merupakan persoalan yang mendasar dalam kehidupan seorang umat beragama. Kalau akidah seseorang lemah dan rusak, maka rusak pula dia. Demikian juga kalau akidah umat rusak, bangunan masyarakatnya pun akan rusak.

Upaya penguasa harusnya menjadi elemen penting untuk menjaga akidah umat seperti peristiwa dimasa khalifah Abu Bakkar As-Shidiq memerangi Musailamah al kadzdzab yang mengaku sebagai nabi baru. Perkara ini adalah perkara akidah, sebab dalam Islam  tidak ada Rasul dan Nabi setelah Rasulullah saw.  Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, para shahabat ra memerangi Musailamah al-Kadzdzab, nabi-nabi palsu, kaum murtad, dan para penolak zakat. Adapun panglima perang yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar untuk memerangi Musailamah al-Kadzab adalah Khalid bin Walid.    Akhirnya, atas ijin Allah swt, Musailamah al-Kadzab laknatullah berhasil dibunuh. (al-Hafidz al-Suyuthiy, Taariikh al-Khulafaa’, hal. 55-59)

Pendangkalan akidah atau pemurtadan ini bisa terus terjadi di dalam sistem yang kepemimpinannya tidak berparadigma riayah dan junnah, dimana sistem yang sekarang dijalani adalah sistem kapitalis sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan sehingga negara tidak bisa mengurus dan tidak bisa bertanggung jawab dalam memelihara urusan rakyatnya, termasuk menjaga akidah umat.

Seharusnya penguasa bisa memberikan bantuan secara maksimal kepada para korban bencana, sehingga menutup celah bagi para misionaris untuk mengambil kesempatan  dalam aksi pemurtadan ini. Negara juga harus bisa memberikan keamanan kepada para korban agar akidah Islam mereka terjaga, sehingga tidak mudah untuk menerima bantuan dari yayasan kristen yang bisa merusak akidah dan mengeluarkan mereka dari keislamnnya. Negara harus menjadi pengontrol bahwa komunitas-komunitas kemanusiaan yang memberikan bantuan adalah murni bantuan bukan bantuan berkedok yang membahayakan akidah mereka.

Setidaknya ada tiga pilar penting dalam rangka menjaga akidah umat yaitu, individu-individu yang taqwa salah satu indikasinya adalah akidahnya kuat, kemudian jamaah yang menerapkan aturan yang satu yaitu aturan Islam dalam lingkup ukhuwah jama’iy, dan yang terakhir adalah penerapan aturan yang jelas dan tegas yakni penerapan aturan Islam dalam bingkai negara. Maka ancaman kristenisasi akan dapat diselesaikan dengan pemberlakuan sistem Islam.

Karena sistem Islam akan mengurusi umat, mensejahterakan, dan menjaga akidah mereka melalui penerapan hukum-hukum Islam secara totalitas. Sehingga bila ada korban dari bencana alam tidak akan ada lagi kelompok misionaris yang menyusup untuk melakukan upaya pemurtadan kepada para korban bencana.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 120)

Wallahu ‘alam bishowab[]

Oleh: Nurhayati ( Member Muslimah Media Kendari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.