Pemimpin Itu Berperan, Bukan Baperan

123

Oleh: Kunthi Mandasari (Member Akademi Menulis Kreatif)

Bagi penikmat musik Indonesia pasti tak asing dengan pentolan grup Dewa 19. Ahmad Dhani Prasetyo musisi kenamaan Indonesia. Yang kini menjadi sorotan, karena menjelang konser Ahmad Dhani justru ditahan karena kasus ujaran kebencian. Yakni cuitannya yang dianggap menistakan sang penista agama. Bahkan tuntutan yang diterima dua kali lipatnya. Sehingga konser yang semula untuk reuni personil Dewa 19 berubah menjadi konser tribute to Ahmad Dhani.

Sejumlah nama juga merasakan hal yang sama, karena berbicara secara blak-blakan akhirnya berakhir dengan tuntutan. Seperti Habib Bahar, Ustaz Alfian Tanjung, Cak Nur, Rocky Gerung dan sejumlah nama lainnya.

Berbeda perlakuan jika pelakunya sejalan dan sepemikiran. Kasusnya mengendap ke permukaan atau malah menguap tak bersisa. Seperti kasusnya Ade Armando, Viktor Laiskodat, Abu Janda dan sejumlah nama lainnya. Karena keberadaan mereka menguntungkan sehingga proses hukum tak pernah berjalan. Mereka bebas melenggang.

Pemimpin itu berperan bukan baperan. Mendengar perkataan yang tak sejalan tak seharusnya main serang. Apalagi dengan berbagai tuduhan dan alasan yang diada-adakan. Seolah-olah rezim ini sedang gemetar, belum bisa berlapang dada untuk menerima kekalahan yang berada di pelupuk mata. Berbagai upaya dilakukan untuk membendung opini yang hendak menumbangkan.

Orang awam pun mampu menyimpulkan. Orang-orang yang berseberangan kini hendak disingkirkan. Agar tak menjadi batu sandungan untuk melanggengkan kekuasaan. Bukti sudah banyak, apalagi yang mau dielak?

Upaya menutup mulut pada orang yang memberikan kritikan merupakan kezaliman. Serta menunjukkan dimana kelas serta kualitasnya sebagai seorang pemimpin. Apakah bervisi sesaat atau bervisi hingga ke akhirat.

Kritik merupakan bentuk  kepedulian, penjaga sekaligus kontrol. Tujuannya semata-mata untuk sebuah kebaikan. Seorang sahabat Umar bin Khatab juga pernah dikritik. Ketika beliau mengumumkan pembatasan mahar yang tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Tujuannya agar tidak memberatkan serta mempermudah pernikahan. Namun seorang wanita dengan berani menyanggah pernyataan Umar, serta menyampaikan koreksinya melalui surah an-Nisa’ ayat 20. Ketika menyadari kekeliruannya, tanpa rasa malu Umar membenarkan pernyataan wanita itu dan mengakui kesalahannya. “Wanita ini benar dan Umar salah,” di depan banyak orang.

Bahkan di awal pemerintahannya beliau pernah berpesan pada rakyatnya, “Jika kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam maka luruskan aku walau dengan pedang.” Semua ini beliau lakukan semata-mata agar tak salah jalan. Mengingat kelak amanahnya akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Dan setiap penyimpangan sekecil apa pun mampu menjerumuskan ke neraka jahanam. Sehingga beliau justru bersikap terbuka mengharapkan kritikan.

Seperti inilah sikap yang perlu dicontoh. Bukannya bersikap represif. Namun selama sistem sekuler yang diterapkan, akan sulit diwujudkan. Karena hukum yang digunakan adalah buatan manusia. Yang memiliki keterbatasan, tolak ukur yang digunakan manfaat semata.

Berbeda dengan Islam yang memiliki tolak ukur yang sama yakni halal dan haram. Serta menjadikan Alquran, hadist, ijma’ dan qiyas sebagai sumber hukumnya. Sehingga setiap orang mampu mengontrol serta mengoreksi setiap kebijakan.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, Imam kaum muslimin, dan orang-orang kebanyakan.” (HR. Muslim, No. 55. Abu Daud, No. 4944).

Aktivitas menasihati penguasa  adalah perbuatan mulia yang membutuhkan keberanian. Dan, yang jelas tak satu pun para ulama Islam mengatakan, bahwa menasihati pemimpin secara terbuka adalah bentuk pemberontakan bahkan khawarij. Karena yang satu berdosa karena menentang pemimpin yang taat, sedangkan yang satunya berpahala karena mengoreksi pemimpin yang zalim. Yakni pemimpin yang tidak menerapkan aturan Allah SWT, sehingga terjadi kerusakan di berbagai penjuru arah. Padahal Allah SWT memerintahkan kita masuk ke dalam Islam secara kaffah bukan setengah-setengah. Sebagai mana Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208). Wallahu ‘allam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.